Follow detikFinance
Sabtu, 17 Mar 2018 14:00 WIB

Sebelum Dibuka Jalan, Merauke-Boven Digoel Bisa Hitungan Minggu

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Dibukanya sejumlah ruas jalan baru di Papua memberikan harapan baru bagi peningkatan kualitas perekonomian bagi masyarakat Papua, khususnya di perbatasan. Jalan perbatasan Papua rute Merauke-Boven Digoel misalnya, waktu tempuh yang semula dalam bilangan minggu untuk jarak 424 km itu semakin singkat menjadi hitungan hari dan kini sudah bisa 8 jam.

Demikian dikutip dari keterangan resmi Kementerian PUPR yang diterima detikFinance, Sabtu (17/3/2018).

Apabila jalan sudah semakin baik kondisinya, maka bisa ditempuh 6 jam saja. Hal tersebut diakui Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonot yang ikut dalam perjalanan, bahwa secara bertahap kondisi jalan Merauke-Boven Digoel semakin baik.

"Puji Tuhan kami juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Joko Widodo yang sudah membangun jalan Trans dan Perbatasan Papua ini. Walaupun ada yang masih berlubang, saya berterimakasih kepada Pak Menteri PUPR yang sigap sehingga dalam 3-4 bulan ke depan akan segera diperbaiki," katanya.


Dengan dibukanya jalan tersebut, transportasi barang dan manusia pun semakin mudah, yang kemudian berdampak pada penurunan harga barang. Dulu saat jalan kondisinya masih rusak parah, harga sangat tinggi. Kini setelah bisa ditempuh dalam hitungan jam, harga sembako, bahan bangunan, pakaian, sayur mayur sudah relatif murah hingga pegunungan Bintang yang juga dilayani jalan ini.

Pembukaan jalan Merauke-Boven Digoel sendiri tak serta merta lancar dilakukan. Preservasi jalan Merauke-Boven Digul menghadapi tantangan dengan kondisi daerah rawa dan tanah lunak. Oleh karena itu dilakukan peninggian badan jalan menggunakan tanah di sisi jalan.

Peninggian badan jalan dari sisi jalan ini lebih efektif dibandingkan dengan menimbun dengan tanah dari luar Kabupaten. Perbaikan jalan juga tidak menggunakan batu split karena ketiadaan material di lokasi.

Batu split harus didatangkan dari Palu dengan biaya angkut yang mahal. Karena itu digunakan bahan matos berupa campuran tanah dan semen kemudian badan jalan dilakukan pengaspalan.

Drainase jalan juga diperlukan untuk menjaga tinggi air tetap di bawah badan jalan, terutama saat musim hujan. Dengan demikian kondisi jalan pun bisa tetap terjaga.

(eds/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed