Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 29 Apr 2018 15:33 WIB

Jalan Bandara Komodo Pakai Aspal Campuran Limbah Plastik

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Ilustrasi Aspal Plastik (Foto: Eduardo Simorangkir) Ilustrasi Aspal Plastik (Foto: Eduardo Simorangkir)
Jakarta - Jalan di sekitar Bandara Komodo akan menggunakan aspal campuran limbah plastik. Hal itu sebagai salah satu upaya menggurangi limbah plastik.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menyerahkan satu unit mesin pencacah plastik kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Mesin tersebut untuk mendukung penerapan teknologi aspal plastik.

"Upaya ini bertujuan mengurangi sampah kantong plastik dengan mengolahnya menjadi bahan campuran aspal," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulis Kementerian PUPR, di Jakarta, Minggu (29/4/2018).


Kepala Balitbang PUPR Danis H Sumadilaga mengatakan, Balitbang Kementerian PUPR sebelumnya telah melakukan uji coba di beberapa lokasi dan dinilai berhasil. Lokasi tersebut antara lain Jakarta, Makassar, Bekasi, Denpasar, jalan tol Tangerang-Merak, dan Surabaya.

"Hasilnya stabilitas (aspal) lebih tinggi, lebih kokoh dan tidak beracun," tambah Danis.

Menurutnya penggunaan aspal plastik akan membantu mengurangi limbah plastik yang mendominasi sampah di laut Indonesia. Di sisi lain, limbah plastik kresek kini memiliki nilai ekonomi yang cukup baik.

"Yang terpenting adalah bagaimana plastik kresek yang semula tidak ada nilainya kini bisa dimanfaatkan. Harganya bervariasi mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 4.000 per kg. Dengan adanya mesin pencacah ini muncul demand yang hasilnya bisa dibeli untuk campuran aspal," jelas Danis.


Untuk penerapan di NTT, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional X Kupang akan membangun jalan dengan menggunakan aspal campuran plastik pada ruas jalan sekitar Bandara Komodo sepanjang 9 km.

"Porsi plastik 6 persen dari jumlah aspal. Untuk 1 km jalan dengan lebar 7 meter dan ketebalan 4 sentimeter, diperlukan sebanyak 4 ton plastik. Sehingga untuk 9 km panjang jalan diperlukan 36 ton," jelasnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com