Follow detikFinance
Rabu, 13 Jun 2018 11:40 WIB

Laporan dari Tokyo

JK Sebut Bangun Kereta Kencang JKT-SBY Pakai Pinjaman Jepang

Niken Purnamasari - detikFinance
Foto: Wapres JK jadi pembicara di konferensi Future of Asia di Tokyo. (Niken-detikcom) Foto: Wapres JK jadi pembicara di konferensi Future of Asia di Tokyo. (Niken-detikcom)
FOKUS BERITA Kereta Kencang JKT-SBY
Tokyo - Proyek kereta kencang Jakarta (JKT)-Surabaya (SBY) masih dikaji pemerintah. Saat ini, salah satu pembahasan yang menjadi perhatian pemerintah ialah soal pembiayaan proyek.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan rencananya pihak Jepang akan memberikan pinjaman untuk membiayai proyek tersebut. Dengan begitu proyek kereta kencang tak sepenuhnya memakai anggaran negara, sehingga APBN tak terbebani.

"Pendanaan sudah oke. Nggak (dari APBN), ini loan (pinjaman) Jepang," kata JK di Hotel Imperial, Tokyo, Jepang. Selasa (12/6/2018) malam.

JK juga mengatakan bahwa Jepang akan membiayai seluruh pendanaan proyek. Namun demikian, dia tidak merinci berapa nilai pinjaman yang akan diberikan pihak Jepang.

Proyek ini sendiri memang diperkirakan memiliki nilai investasi hingga lebih dari Rp 100 triliun. Nilai itu meningkat dari investasi sebelumnya yang sebesar Rp 60 triliun hingga Rp 70 triliun.


Namun pemerintah masih berupaya agar proyek tersebut tak memakan pendanaan hingga Rp 100 triliun. Ada beberapa langkah yang bakal dicoba pemerintah dalam menekan nilai proyek.

"Kita juga mungkin ada permasalahan umumnya, tapi sedikit, tidak banyak. Karena umumnya sebagian besar itu sudah dikuasai KA, tinggal dibangun satu line lagi. Jadi akan menjadi tiga line. Sekarang sudah dua, kalau mau dibangun yang satu kan tidak mungkin ditutup," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan juga telah bertemu dan berbicara dengan pihak Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Luhut bilang, selama ini JBIC berminat membiayai proyek kereta kencang JKT-SBY.

"Pendanaan. Jadi kami ingin Jakarta-Surabaya itu pendanaannya itu jangan lagi penuh kepada pemerintah sehingga utang pemerintah tidak naik kita lagi cari format-formatnya," kata Luhut di kantornya, beberapa waktu lalu.

"Kita ingin mitigas supaya jangan jadi utang kita bertambah. Kita cari lagi modelnya, jadi kalau ini bisa akan ada banyak sekali membantu kita," sambung Luhut.

(fdl/ara)
FOKUS BERITA Kereta Kencang JKT-SBY
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed