Pemerintah Jawab Kritik Fahri Hamzah Soal Pembangunan Tol

Pemerintah Jawab Kritik Fahri Hamzah Soal Pembangunan Tol

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 28 Jun 2018 09:58 WIB
Pemerintah Jawab Kritik Fahri Hamzah Soal Pembangunan Tol
Foto: Dok
Jakarta - Setelah Ketua Umum Partai Gerundra Prabowo Subianto yang melakukan kritik kepada pemerintah, kini giliran Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah buka suara. Dia menyindir proyek-proyek infrastruktur pemerintah.

Fahri memandang pembangunan jalan tol dan bandara tak banyak bermanfaat bagi masyarakat kecil dan mengorbankan kepentingan lain.

"Gara-gara kita membangun tol itu, kita mengorbankan 5.000 puskesmas yang sudah dijanjikan Pak Jokowi dan semua janji lainnya yang begitu banyak, termasuk buyback Indosat dan sebagainya, itu supaya kita mengontrol industri seluler kita. Nggak dilakukan," ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengapa? Karena uangnya habis untuk di tempat lain. (Di tol) ya kayak gitu-gitulah," imbuhnya.

Menurut Fahri, jalan tol tak dekat dengan rakyat kecil. Pembangunan jalan tol dianggap Fahri hanya menyenangkan orang-orang kaya.

Soal pembangunan bandara, Fahri juga menganggap kebijakan itu tak dekat dengan rakyat kecil. Dia menyarankan Jokowi memperbanyak armada kapal laut hingga kereta api jika benar-benar peduli rakyat kecil.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pun menjawab kritikan itu. Berikut penjelasan lengkapnya.

Jawaban Pemerintah

Foto: Rachman Haryanto
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menjawab kritikan itu. Secara umum dia menjelaskan bahwa pembangunan jalan tol bakal memiliki dampak yang cukup luas bagi perekonomian negara.

"Itu mungkin visinya beliau, tapi tidak ekstrem begitu. Misalnya kita bangun rumah, industri yang terkoneksi untuk bangun rumah itu sekitar 150 industri. Mulai dari pasir, batu bata, paku, sampai rice coocker, AC, kulkas, kipas angin, banyak," katanya kepada detikFinance.

Dalam proses pembangunan jalan tol sendiri, kata dia turut dirasakan masyarakat sekitar manfaatnya. Seperti rumah makan warteg ataupun warung kopi jadi ramai dan dipadati para pekerja.

Selain itu tentunya banyak industri terkait yang mendapatkan manfaatnya, seperti semen, baja, beton dan lainnya. Setelah beroperasi, jalan tol bisa menumbuhkan perumahan di sekitar hingga kawasan industri, ditambah lagi membantu kemudahan jalur logistik.

Dia juga menegaskan, pemerintah setiap kali membangun infrastruktur pasti melakukan studi kelayakan terlebih dahulu. Hal itu untuk memastikan bukan hanya mengukur kemampuan untuk membangun, tapi juga kebutuhan hingga manfaatnya kepada masyarakat setelah terbangun.

"Misalnya bandara siapa yang memanfaatkan kalau bukan masyarakat. Untuk bangun bandara itu ada feasibility study-nya. Bandara Cengkareng itu dibangun untuk masa waktu berapa tahun, belum waktunya sudah penuh. Jadi saya kira tidak sembarangan juga membangun infrastruktur. Kalau FS-nya bilang tidak harus sekarang ya tidak dibangun," tegasnya.

Pembangunan Bertahap

Foto: Dok
Pemerintah, kata Basuki, melakukan pembangunan pemerataan secara bertahap. Kali ini pemerintah memang fokus untuk membangun infrastruktur, setelah selesai baru pemerintah mulai membangun SDM.

"Kalau mau dikerjakan semuanya, akhirnya malah tidak jadi semua. Itu hanya pilihan," tuturnya

Berdasarkan catatan detikFinance, total ruas yang telah diresmikan Jokowi hingga Maret 2018 adalah sebanyak 18 ruas. Jika dijumlahkan, panjang ke-18 ruas tersebut mencapai 398 km.

Tol Ngawi-Kertosono sendiri merupakan ruas tol kedua yang diresmikan Jokowi tahun ini setelah meresmikan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar pada Januari 2018 lalu.

Di tahun 2015, tol yang diresmikan Presiden Jokowi di antaranya Porong-Gempol 3,55 km, Gempol-Pandaan 12,05 km dan Cipali 116,75 km. Sedangkan di 2016 ada tol Surabaya-Mojokerto seksi IV 18,47 km, Pejagan pemalang seksi 1 dan 2 20,2 km dan Kertosono-Mojokerto seksi 3 5,02 km.

Di 2017, tol yang diresmikan Presiden Jokowi di antaranya Akses Priok 11,4 km, Gempol-Pasuruan seksi 1 15,7 km, Kertosono-Mojokerto seksi 2 19,9 km, Semarang-Solo seksi 3 17,6 km, Palindra 7,8 km, Medan-Binjai seksi 2 dan 3 10,6 km, Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi seksi 2-6 41,6 km, Becakayu seksi 1B-1C 8,4 km, Surabaya-Mojokerto seksi 1B, 2 dan 3 15,47 km dan Soreang-Pasir Koja 8,15 km.

9 Ruas Trans Jawa Beroperasi Tahun Ini

Foto: Tim Infografis: Mindra Purnomo
Sampai akhir tahun ini, akan ada 9 ruas tol Trans Jawa yang akan beroperasi. Adapun jalan tol yang bisa diresmikan pada Juli 2018 ialah ruas Pejagan-Pemalang 43 km dan Solo-Sragen 36 km.

Selanjutnya ruas tol yang akan beroperasi adalah Tol Sragen-Ngawi sepanjang 51 km dengan progres fisik saat ini 96% dan Tol Porong-Gempol 6 km dengan progres fisik saat ini 76%. Ruas-ruas ini ditarget beroperasi di bulan September.

Kemudian pada Oktober 2018 akan beroperasi Tol Salatiga-Kartosuro 32 km dengan progres fisik saat ini 70%. Selanjutnya pada November 2018 akan beroperasi Tol Pemalang-Batang 33 km dengan progres fisik saat ini 72%, dan Tol Batang-Semarang 74 km dengan progres fisik saat ini 78%.

Pada Desember 2018 akan beroperasi yakni Tol Wilangan-Kertosono 37 km dan Tol Pasuruan-Grati-Probolinggo 44 km.

Adapun jalan tol Trans Jawa dari Merak-Banyuwangi sepanjang 1.150 km sendiri bakal segera tersambung pada akhir tahun 2019 mendatang. Saat ini, sepanjang 920 km sudah tersambung dari Merak-Pasuruan, di mana 607 km di antaranya sudah operasional dan sisanya 313 km yang fungsional ditargetkan rampung akhir 2018.
Halaman 2 dari 4
(eds/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads