Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Sep 2018 18:20 WIB

Cara Pemerintah Cegah Proyek Infrastruktur Ambruk Lagi

Dana Aditiasari - detikFinance
Ilustrasi Beton Ambruk Foto: Rachman Haryanto Ilustrasi Beton Ambruk Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Beberapa waktu ke belakang, dunia konstruksi Indonesia dirundung duka lantaran banyak kecelakaan yang menimpa proyek infrastruktur. Kecelakaan yang terjadi bahkan sampai menelan korban jiwa.

Peristiwa tersebut direspons serius oleh pemerintah. Sesditjen Bina Konstruksi Yaya Supriyatna Sumadinata mengatakan, kunci mencegah insiden serupa terulang adalah dengan meningkatkan keterampilan para pekerja yang terlibat dalam berbagai proyek konstruksi.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah tenaga operator alat berat. Operator alat berat merupakan tenaga kerja konstruksi yang penting dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur.


Sayangnya, di Indonesia tenaga kerja konstruksi operator masih sedikit. Meski memiliki kemampuan dan pengalaman namun masih sedikit yang memiliki sertifikat dan tergolong tenaga kerja ahli.

Padahal, di lapangan tenaga kerja ahli terutama operator crawler crane dan teknisi prestressing equipment sangat diperlukan.

"Ibarat berkendara, banyak yang bisa berkendara di jalan raya, namun belum semua yang memiliki surat ijin berkendara. Pengalaman dan kemampuan dalam mengoperasikan alat berat yang Bapak-Bapak miliki juga harus disertai dengan surat ijin atau sertifikat," ujar Yaya dalam keterangan tertulis, Rabu (19/9/2018).

Yaya menambahkan bahwa sertifikat adalah bentuk pengakuan dari kemampuan dan keterampilan kerja tenaga kerja konstruksi. Manfaat dari sertifikat akan terasa saat pekerjaan konstruksi mengalami masalah, tenaga kerja konstruksi akan dilindung oleh Undang-undang.

Hal ini juga sesuai dengan Undang-Undang No 2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi.

Sumber Daya Manusia adalah modal penting bagi pembangunan, di samping teknologi, sumber daya alam, dan modal usaha.

Pembinaan dan peningkatan kompetensi pekerja konstruksi merupakan suatu keharusan untuk membangun infrastruktur yang baik serta menghindari terjadinya kegagalan konstruksi.

Produk-produk beton pracetak telah banyak digunakan dalam proyek-proyek konstruksi seperti konstruksi layang baik tol maupun non tol, jembatan, bangunan huni, hingga gedung-gedug pencakar langit.

Produk prategang (Prestressing) merupakan metode meningkatkan kekuatan struktur beton, telah banyak digunakan dalam konstruksi layang (elevated construction).

Dengan metode ini dapat diperoleh plat beton yang kuat, ramping, dan efisien jika dibandingkan dengan konstruksi tanpa prategang.

"Mau tidak mau, suka atau tidak suka konstruksi beton sudah memberikan banyak kemudahan bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia selain karena mutu dan keandalan yang lebih terjamin, produk konstruksi beton mampu menghemat waktu dan biaya sehingga pekerjaan konstruksi bisa selesai tepat waktu," ucap Yaya.



Diikuti oleh 57 orang peserta, dengan rician 14 orang peserta uji Operator Crawler Crane dan 43 orang peserta uji Teknisi Presstressing Equipment. Para peserta yang dinyatakan lulus berhak mendapatkan Sertifikat Kompetensi Terampilan tingkat I hingga III.

Dimana, dalam penyelenggaraan ini, Ditjen Bina Konstruksi melalui Balai Material dan Peralatan Konstruksi bekerjasama dengan AP3I dan PT Super Krane Mitra Utama dan PT Wika Beton, dalam hal penyediaan alat-alat pendukung dalam kegiatan uji, maupun untuk peserta uji itu sendiri.

PUPR bersama AP3I memilih Superkrane sebagai Mitra kerjasama dalam Uji Sertifikasi Operator Crawler Crane. (dna/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed