Follow detikFinance
Senin, 24 Sep 2018 12:54 WIB

Tapal Batas

Menjajal Aspal Mulus Menuju Perbatasan RI-Papua Nugini

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Suhandi Ridho/detikcom Foto: Suhandi Ridho/detikcom
Jayapura - Perjalanan dari pusat kota Jayapura ke wilayah perbatasan Skouw makan waktu sekitar dua jam. Kalau kendaraan melaju cepat mungkin bisa satu setengah jam sampai ke sana, itu pun kalau arus lalu-lintas di pusat kota lancar.

Begitu kira-kira pernyataan beberapa orang yang kami temui saat ditanya waktu tempuh dari Jayapura menuju Skouw. Di hari pertama menginjakkan kaki di Papua, Selasa (4/9/2018), tim Tapal Batas detikcom ingin langsung mengunjungi salah satu beranda timur Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga, Papua Nugini.

Kami beranjak dari tengah Kota Jayapura sekitar jam 13.30 waktu Indonesia Timur menumpang mobil sewaan. Jarak yang akan ditempuh hampir sekitar 70 kilometer. Sang sopir, Mas Aldi, sudah hafal jalan ke sana. Jadi kami tidak perlu repot mencari rute menuju lokasi.

Di perjalanan awal, kami sempatkan singgah sebentar untuk mengambil kebutuhan gambar. Kami berhenti di sebuah terminal. Lokasinya masih di sekitar Jayapura. Dari lokasi itu, kami mengambil gambar tulisan Jayapura City yang terpahat indah di sebuah bukit. Mirip tulisan "Hollywood" di Amerika.

Jayapura CityJayapura City Foto: Muhammad Ridho

Tak berapa lama mengambil gambar, perjalanan kembali dilanjutkan. Saat di Jayapura, arus lalu-lintas masih cukup padat hingga wilayah Abepura. Kondisi jalan sudah mulus beraspal. Lepas dari situ, kendaraan bisa dipacu dengan cukup cepat, bisa 100 kilometer per jam karena jalanan yang mulus dan tak ramai lalu-lintas.

Walau bisa melaju cepat, namun kehati-hatian tetap perlu diutamakan. Sebab, kalau kecelakaan terjadi, hukum adat masih kental berlaku di sana. Hukum adat yang dimaksud ialah urusan ganti rugi kalau menabrak.

Misalnya saja seperti menabrak hewan peliharaan penduduk. Walau cuma hewan peliharaan, yang menabrak akan dimintai uang ganti rugi yang cukup besar jumlahnya. Tak tanggung-tanggung bisa puluhan sampai ratusan juta. Kalau tak mau membayar, bisa gawat urusannya.

"Kalau sudah nabrak, padahal cuma hewan peliharaan saja, itu bahaya. Bisa harus jual mobil untuk ganti ruginya. Apalagi kalau nabrak orang, wah kacau itu," kata Mas Aldi.

Untungnya selama perjalanan kami tak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu. Mobil yang kami tumpangi bisa melaju dengan lancar dan aman. Beruntung juga kami mendapat sopir yang ahli selama di sana, hati juga jadi tenang.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan berbagai pemandangan. Ada kawasan hutan dengan pohon-pohon tinggi di kanan-kiri, ada perbukitan yang indah, bahkan ada sungai hingga pantai. Tak heran, rute yang harus dilewati menuju wilayah perbatasan memang cukup beragam.

Menjajal Aspal Mulus Menuju Perbatasan RI-Papua NuginiFoto: Muhammad Ridho


Secara umum, jalan yang kami lalui menuju perbatasan tergolong sangat bagus bahkan istimewa untuk ukuran wilayah timur seperti ini. Saat melewati tepian Teluk Yotefa dan meniti punggung bukit pun pemandangan terlihat menarik, khas tanah Papua yang hampir sekujur tubuhnya penuh dengan alam yang indah. Pemandangan membuat takjub siapapun yang melihat.


Kemudian ketika melewati tepian bukit, kalau tengok ke kiri, akan terlihat pemandangan Jembatan Holtekamp yang berdiri menawan di atas Teluk Youtefa. Jembatan itu yang sering dibanggakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Merah cerah warnanya, dan tampak indah dilihat dari atas bukit.

Nantinya, dengan melewati Jembatan Holtekamp, waktu perjalanan dari kota ke perbatasan yang ada di wilayah Skouw akan sangat terpangkas. Dari dua jam, bisa menjadi hanya 30 menit. Tak heran Presiden Jokowi sangat membanggakan jembatan yang menghubungkan Kota Jayapura dengan Distrik Muara Tami ini.

Selain memperlancar konektivitas, jembatan ini juga digadang akan mendorong pengembangan wilayah Kota Jayapura sampai ke arah Skouw. Hal ini juga ditunjang dengan pengembangan kawasan perbatasan Skouw sebagai pusat ekonomi baru.

Bicara soal ekonomi, saat melintas di wilayah Koya, Distrik Muara Tami, di sana ada berbagai pusat kegiatan ekonomi. Contohnya seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Koya yang letaknya persis di pinggir jalan raya. Penduduk banyak hilir-mudik mendatangi salah satu bank pemerintah itu.

Disuguhi berbagai pemandangan indah membuat waktu perjalanan jadi terasa terlalu lama. Sekitar pukul 15.00 WIT kami sudah hampir tiba di wilayah perbatasan. Di sana kontur jalan cukup berkelok dan naik turun. Untungnya jalanan juga mulus beraspal saat mendekati wilayah perbatasan. Jalanan juga cukup lapang.

Dalam perjalanan, sekitar tiga kali mobil kami juga melintasi penjagaan aparat, baik dari militer, yang terakhir di wilayah Skouw. Pos penjagaan terakhir itu jadi penanda bahwa kami telah sampai ke tujuan. Di pos militer itu, berbagai pemeriksaan dilakukan.

Setelah kurang lebih dua jam melakukan perjalanan, sekitar pukul 15.30 WIT, akhirnya kami tiba tujuan, yakni Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Skouw yang ikonik itu. Inilah kawasan perbatasan negara Indonesia!

Menjajal Aspal Mulus Menuju Perbatasan SkouwPLBN Skouw Foto: Suhandi Ridho/detikcom

Lantas, ada apa di PLBN Skouw? Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


(fdl/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed