Follow detikFinance
Minggu, 21 Okt 2018 18:38 WIB

4 Tahun Jokowi JK

Ragam Isu Proyek LRT: Dari Kecelakaan Kerja hingga Sindiran Prabowo

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pemerintahan Jokowi-JK sejak awal berfokus pada pembangunan infrastruktur. Cukup banyak proyek yang dibangun, salah satunya Light Rail Transit (LRT).

Proyek LRT yang ada di Indonesia sendiri terdapat 3 proyek berbeda, yakni proyek LRT Jakarta yang digarap oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro), serta LRT Jabodebek dan Palembang yang digarap oleh PT Adhi Karya Tbk.

Hadirnya LRT di Indonesia salah satunya memang berkat Jokowi. Ide adanya LRT dimulai sejak dia masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, kemudian diteruskan oleh Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan.

Proyek ini tentu tidak berjalan mulus begitu saja, ada beberapa permasalahan yang muncul. Seperti peliknya pendanaan untuk proyek LRT Jabodebek. Pemerintah tak ingin proyek itu dibebani langsung ke APBN.

Akhirnya melalui Perpres Nomor 49 tahun 2017 KAI selain menjadi operator juga ditetapkan menjadi investor pembangunan proyek LRT Jabodebek. Ketidakjelasan asal pendanaan juga sempat menjadi sentimen negatif bagi Adhi Karya selaku kontraktor.

Sebab sejak dimulainya proyek LRT Jabodebek tahap I pada September 2015 hingga Agustus 2017, Adhi Karya sudah mengeluarkan dana dari kocek perusahaan sendiri sebesar Rp 4 triliun untuk pembangunan pra sarana.

Nilai investasi proyek LRT Jabodebek juga tidak sempat berubah-ubah. Awalnya nilai investasi proyek tersebut ditaksir sebesar Rp 26,7 trilun, kemudian sempat meningkat menjadi Rp 31 triliun, dan saat ini pemerintah telah menghitung kembali bahwa nilai investasinya turun menjadi Rp 29,9 triliun.

Dalam proyek ini, Adhi Karya akan mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1,4 triliun. Sedangkan PT KAI mendapatkan Rp 7,6 triliun. Sedangkan sisanya melalui pinjaman KAI ke pihak perbankan sebesar Rp 18,1 triliun. Selain itu Adhi Karya juga rights issue atau penerbitan saham baru dan investasi sebesar Rp 4,2 triliun

Pembangunan LRT Jabodebek dengan total panjang jalur 81,6 km dilaksanakan pada dua tahap. Untuk Tahap I, panjang jalur mencapai 43,3 km yang akan dibangun serta dilengkapi prasarana pendukung.

Ditargetkan, pembangunan LRT tahap I bakal rampung pada 2019, dan bisa beroperasi pada bulan Mei 2019. Hal ini sesuai dengan isi kontrak, di mana lama pembangunan konstruksi yang tercantum dalam kontrak adalah selama 43 bulan terhitung dari 9 September 2015 sampai dengan 31 Mei 2019.

Berdasarkan data Adhi Karya per akhir Januari 2018, progres pembangunan LRT Jabodebek secara keseluruhan telah mencapai rata-rata 34%. Untuk koridor Cawang-Cibubur sudah 55,2%, Cawang-Bekasi Timur sudah 33,4%, dan Cawang-Dukuh Atas sudah 15,5%. Pengerjaan tersebut masuk dalam tahap pertama yang dikerjakan secara paralel sepanjang 44 kilometer (km).

Proyek LRT di Indonesia juga sempat menyedot perhatian lantaran maraknya kecelakaan konstruksi. Untuk LRT Jakarta misalnya, sudah 2 kali terjadi kecelakaan, seperti ambruknya box girder.

Berdasarkan catatan detikFinance, kecelakaan konstruksi pertama terjadi pada Oktober 2017 lalu di mana terjadi kegagalan uji angkat beban (lifting test) portal gantry crane, di Jalan Kelapa Nias Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.lifting test) portal gantry crane, di Jalan Kelapa Nias Raya, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sementara kecelakaan konstruksi kedua baru saja terjadi pada dini hari tadi. Pekerjaan erection (install produk) yang dikerjakan oleh VSL di span P28-P29 yang berada dekat dengan Velodrome jatuh pada pukul 00.20 WIB dan menyebabkan 5 orang luka-luka.erection (install produk) yang dikerjakan oleh VSL di span P28-P29 yang berada dekat dengan Velodrome jatuh pada pukul 00.20 WIB dan menyebabkan 5 orang luka-luka.

Proyek LRT juga sempat mendapatkan kritikan pedas dari Prabowo Subianto. Dia menilai biaya pembangunan light rail transit (LRT) di Indonesia sangat mahal. Bahkan biaya pembangunan LRT di Indonesia berbeda jauh dengan negara lain.

Berdasarkan riset indeks pembangunan LRT di dunia, biaya pembangunan untuk LRT hanya berkisar USD 8 juta/KM. Sedangkan di Palembang, yang memiliki panjang lintasan 23,4 km, biayanya hampir Rp 12,5 triliun atau USD 40 juta/KM.

"Coba bayangkan saja berapa mark up yang dilakukan pemerintah untuk 1 km pembangunan LRT. Jika 8 juta dolar itu saja udah mendapatkan untung, apalagi kalau 40 juta dolar," kata Prabowo saat sambutan dalam acara silaturahmi kader di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Kamis (21/6/2018).

Kepala Proyek LRT Palembang, Mashudi Jauhar menanggapi tudingan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut ada mark up dalam perhitungan biaya pembangunan light rail transit (LRT) di Indonesia. Mashudi menanyakan sumber data Prabowo.

"Ya, apa yang mau ditanggapi? Wong datanya juga nggak dijelaskan dari mana? Dan apa bisa disamakan dengan Palembang yang dimaksudkan?" kata Mashudi saat dihubungi.

Dia justru penasaran, di mana ada LRT di dunia yang biaya pembangunannya hanya US$ 8 juta/km atau Rp 112 miliar/km (kurs Rp 14.000/US$).

Menurut penelusuran detikFinance, tidak ditemukan proyek pembangunan LRT yang nilainya di bawah US$ 10 juta/km. Bahkan jika dibandingkan dengan LRT di Spanyol yang bernama Granada Metro, nilai proyek LRT Palembang tidak jauh berbeda.

Kendati begitu, untuk LRT Palembang sudah mulai beroperasi. Meski begitu LRT Palembang sempat mogok saat uji operasi dan belakangan dikonfirmasi bahwa kereta saat itu berhenti bukan mogok.

Sementara LRT Jakarta tengah menanti uji coba operasi. Kereta ringan produksi Korea Selatan tersebut akan melaksanakan proses uji coba selama sebulan. Proyek ini akan beroperasi optimal pada Desember 2018.

Progres fisik proyek LRT Jabodebek Tahap I secara total saat ini sudah mencapai 40%. Angka tersebut merupakan progres hingga akhir Juni, sejak groundbreaking pada September 2015 lalu.

Direktur SDM, Sistem dan Investasi Adhi Karya Agus Karianto menyebutkan, masing-masing, progres lintasan Cawang-Cibubur sebesar 62%, Cawang-Dukuh Atas 26%, dan Cawang-Bekasi Timur 47%.

"Secara keseluruhan sekitar 40 sekian persen. Masing-masing 62% Cawang-Cibubur, kemudian 47% kira-kira yang dari Cawang-Bekasi Timur, Cawang-Dukuh Atas 26%, (progres) per akhir Juni," katanya.

Sementara progres fisik proyek LRT Jabodebek Tahap I secara total saat ini sudah mencapai 40%. Angka tersebut merupakan progres hingga akhir Juni, sejak groundbreaking pada September 2015 lalu.



Tonton juga video 'LRT Siap Melintas Bogor Tahun 2020':

[Gambas:Video 20detik]

(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed