Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim tak mengingat secara detil luas lahan yang dibebaskan. Tapi dia yakin lahan yang akan dibebaskan sebanyak 19 bidang dengan lokasi yang tersebar.
"Kemarin itu butuh 19 titik bidang," kata dia di Wisma Nusantara Jakarta, Selasa (30/10/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Silvia mengatakan, dalam proyek ini akan sedikit mungkin memakai lahan publik sehingga lebih efisien.
"Kalau untuk kebutuhan lahan fase II pembahasan terakhir Pemprov akan gunakan jalur pembebasan lahan, APBD. Makanya sekarang penetapan lokasi (penlok) itu sedang disiapkan. Basically sama. Cuma upaya kita lakukan kita me-minimize kebutuhan mengambil lahan private sebanyak mungkin," kata dia.
Pembebasan lahan ini akan menggunakan anggaran pendapat dan belanja daerah (APBD) 2019. Adapun estimasi biaya untuk pembebasan lahan sekitar Rp 230 miliar.
Baca juga: 3% Lagi MRT Lebak Bulus-Bundaran HI Rampung |
"Itu Pemprov DKI kita estimasikan sekitar Rp 230 miliar-an. Kita estimasikan," ungkapnya.
Lanjut Silvia, begitu dana cair maka eksekusi lahan langsung dimulai. Dengan demikian, MRT fase II bisa berjalan dengan tepat waktu.
"Anggaran dimasukkan tahun depan. Mid 2020 kita harus bisa full swing pengadaan pelelangan selesai, kontraktor on board kita sudah mulai kerja. Kalau jadwal kita akhir 2024 kelar, awal 2025 bisa beroprasi," ungkapnya.
Sementara, untuk jalur MRT tidak perlu pengadaan lahan karena menggunakan lahan pemerintah daerah.
"Jalur area publik kita nggak pembebasan, itu punya Pemprov DKI," tutupnya. (zlf/zlf)











































