Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 04 Apr 2019 11:18 WIB

Benarkah Tarif Tol Jokowi Mahal Gara-gara Biaya Proyek 'Bengkak'?

Hendra Kusuma - detikFinance
Ilustrasi Foto: Hutama Karya Ilustrasi Foto: Hutama Karya
Jakarta - Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR menyebut tidak benar jika investasi pembangunan jalan tol di Indonesia mahal dan berdampak pada penetapan tarif.

Hal itu sekaligus menjawab iklan kampanye pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang menyindir tarif mahal jalan tol yang dibangun era Presiden Jokowi dan Wapres JK.

"Tidak benar," kata Kepala BPJT Danang Parikesit saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Kamis (4/4/2019).

Penetapan tarif tol yang benar, kata Danang, adalah berdasarkan tingkat keekonomian. Tingkat keekonomian di Indonesia sendiri sangat bervariasi besarannya.

"Dari yang di bawah Rp 300/km hingga Rp 1.700/km," jelas dia.

Adapun, lanjut Danang, penetapan investasi suatu pembangunan jalan tol di Indonesia bergantung pada kondisi geografisnya, kondisi geologis tanah dasarnya, serta konsesinnya sendiri.

Jadi pembandingan langsung dengan tarif dan nilai investasi dengan negara lain sepertinya perlu kehati-hatian," ungkap dia.

Sebelumnya, sebuah iklan kampanye pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga, sempat viral lantaran isinya yang menyindir pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi.


Dikutip dari akun Instagram @cuknews, Rabu (3/4/2019). Iklan berdurasi 59 detik ini diunggah sejak enam hari lalu atau tangga 29 Maret 2019.

Iklan diawali oleh pasangan suami istri yang tengah mengendarai mobil di jalan tol. Mereka berdiskusi mengenai biaya pembangunan jalan tol yang besar dan berpendapat menjadi salah satu penyebab mahalnya tarif jalan tol.

Selanjutnya, ada salah satu penduduk yang mengeluhkan harus berjalan lebih jauh karena adanya jalan tol. Lalu, pasangan suami istri itu juga memutuskan untuk keluar jalan tol untuk membeli buah tangan.

Pada saat di kios oleh-oleh, pedagang mengeluhkan kalau dagangannya menjadi sulit usai dibangunnya jalan tol.

"Kasihan, mau membangun tetapi salah tujuan dan salah sasaran. Berarti harus diganti," ujar salah satu wanita dalam iklan tersebut.

(hek/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com