Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 05 Apr 2019 16:37 WIB

Cerita Tol hingga Tiket Mahal di Balik Sepinya Bandara Kertajati

Sudirman Wamad - detikFinance
Foto: Sudirman Wamad/detikcom Foto: Sudirman Wamad/detikcom
Majalengka - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) atau Bandara Kertajati, Majalengka yang beroparasi belum genap satu tahun itu masih sepi penumpang. Pantauan detikcom, suasana bandara memang sepi. Kini, BIJB hanya melayani satu kali penerbangan setiap harinya.

Sejumlah maskapai seperti Lion Air, Garuda Indonesia, Wings Air dan Trans Nusa memilih tidak beroperasi sementara. Hanya Citilink yang masih melayani penerbangan.

Coorporate Secretary PT BIJB Arief Budiman melalui Bidang Humas BIJB menyatakan jumlah penumpang di BIJB hanya mencapai sekitar 30% dari ketersediaan kursi penumpang pesawat yang ada setiap harinya, yakni 180 kursi. Penurunan jumlah penumpang itu dirasakan sejak Januari lalu.


"Memang ada penurunan. Tahun 2018 itu evaluasinya bisa menyentuh angka 50% ke atas dari ketersediaan kursi yang ada, sekarang sekitar 30 persen. Hanya Citilink yang masih melayani penerbangan saat ini," katanya saat berbincang dengan detikFinance di BIJB Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jabar, Jumat (5/4/2019).

Arief menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat BIJB sepi penumpang. Bahkan, sampai ditinggal sementara waktu oleh sejumlah maskapai yang sebelumnya sempat membuka rute penerbangan. Belum rampungnya proyek Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) manjadi salah satu faktor kuncinya. Tol Cisumdawu mampu mempersingkat jarak tempuh menuju BIJB.

Sedangkan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), salah satu infrastruktur penopang bandara ini tak mampu mendongkrak penumpang BIJB. "Cipali memang ada efeknya. Daya jangkaunya kan untuk wilayah sekitar Karawang. Mereka itu lebih memilih ke Halim atau Soekarno-Hatta. Kalau Cisumdawu itu jelas pasarnya, Jabar dan Bandung," ucapnya.


Selain minimnya akses atau belum rampungnya Tol Cisumdawu. Faktor lainnya, yakni belum adanya kebijakan yang pasti terkait pemindahan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara ke BIJB. Padahal, lanjut Arief, BIJB awalnya direncanakan untuk mengganti peran Bandara Husein Sastranegara.

"Contohnya Bandara Kualanamu, rute penerbangannya dialihkan ke situ saat mulai beroperasi. Ternyata kondisi BIJB ini beda saat ini, Husein masih beroperasi. Sebenarnya kita ini mengganti peran Husein, rencana pembangunannya seperti itu," katanya.

Salah satu rute penerbangan yang ada di Bandara Husein Sastranegara sempat dialihkan ke BIJB pada Desember lalu, yakni rute Bandung-Balikpapan dan Lampung. Maskapai Garuda Indonesia membuka rute itu di BIJB, namun hanya bertahan sebulan.

"Satu bulan beroperasi. Terus off sementara. Rutenya masih ada. Pemerintah tentu harus tegas mengambil sikap tentang peralihan rute ini. Mungkin, setelah Tol Cisumdawu rampung akan ada keputusan karena Cisumdawu itu konektivitas utama," katanya.


BIJB terus berusaha untuk mendongkrak aktivitas penerbangan, kendati belum didukung infrastruktur yang memadai. Tahun 2018 merupakan tahun pertama BIJB melayani penerbangan komersial. Dari data yang ada di Humas BIJB menyebutkan tren positif ditujukan pada Juni, Juli dan Agustus 2018.

Rata-rata penumpangnya mencapai 75% dari ketersediaan kursi yang ada.

"Oktober dan November menurun, sekitar 40 persenan penumpangnya. Desember naik lagi, Januari turun sampai sekarang. Karena ini masuknya low season, imbasnya penumpang juga turun," katanya.

BIJB yang tengah berjuang mendongkrak aktivitas penerbangan ternyata terkena gempuran kebijakan kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar. "Dua isu ini memiliki pengaruh. Hampir semua bandara merasakan itu. Saat kita sedang berjuang, harga tiket mulai mahal," tuturnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com