Menariknya, bandara saat ini hanya dipimpin oleh satu orang, yakni Direktur Keuangan dan Umum Muhammad Singgih. Pria berusia 48 tahun ini mengaku memimpin sendirian sejak akhir Desember 2018.
Hal itu berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Padahal, sebelumnya terdapat dua direksi lainnya, yakni Direktur Utama serta Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Singgih yang juga lulusan Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) ini mengaku memegang serta menghadapi tantangan yang besar. Sebab hingga saat ini operasional bandara masih dikembangkan sehingga ada perlu kontrol lebih.
"Ini kan tanggung jawab besar untuk segala macam aktivitas kebandarudaraan, yang mana bandar udara ini juga masih baru satu tahun pertama operasi dari sejak dioperasikan secara komersial sejak Juni 2018. Jadi punya banyak, kemudian kita juga harus meng-handle ini ya tentu dengan konsentrasi yang harus lebih, karena memang tantangannya juga tidak ringan," ungkap dia.
Hanya saja, ia percaya bahwa dengan kerjasama antar karyawan, masalah yang tengah dihadapi bisa teratasi.
"Tapi ya ini bagian dari tantangan yang harus kita selesaikan. Kita harus terima yang penting kita secara organisasi juga harus solid gitu, kalau solid Insya Allah bisa dijalani dengan baik," jelas pria kelahiran Purwakarta ini.
Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa kekosongan dua direksi lainnya akan segera terisi. Hal ini dilakukan oleh pemerintah daerah (pemda) secara bertahap guna mendapatkan calon terbaik.
"Ini kan cuma nunggu proses saja jadi di pemerintah provinsi sebenarnya kan begitu kita diberhentikan, sudah ada proses untuk fit and proper test. Jadi untuk prosesnya seperti apa, itu ada di pemerintah provinsi, ada di pemegang saham tapi yang pasti memang berhenti itu tidak berhenti begitu saja. Tapi pemerintah provinsi itu langsung membuat jadwal untuk mencari talent talent itu untuk fit and proper test," tutup dia.
Simak Juga 'Penampakan Bandara Kertajati yang Masih Sepi Penumpang':












































