Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 09 Jun 2019 15:00 WIB

Liputan Khusus Bebaskan Lahan Tol

Ada 'Double Agent' di Pembebasan Lahan Pasar Gembrong

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Trio Hamdani Foto: Trio Hamdani
Jakarta - Membebaskan lahan untuk proyek-proyek infrastruktur bukanlah pekerjaan mudah. Gangguan hingga ancaman merupakan hal yang biasa bagi para Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengadaan Tanah Direktorat Jenderal Bina Marga.

Mereka pun punya siasat-siasat sendiri untuk mengantisipasi gesekan degan warga yang terkena gusuran. Seperti PPK Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu atau Becakayu, Asih Nurdiyanti yang punya siasat cerdik.

Asih kebetulan mendapatkan tugas untuk membebaskan lahan di wilayah Pasar Gebrong, Prumpung, Cipinang Besar, Jatinegara. Lokasi ini terbilang cukup rawan, karena ada sekitar 800 rumah yang harus dibebaskan, belum lagi Pasar Perumpung yang mungkin ada premannya.

"Kita memang berhati-hati di Pasar Gembrong ini. Baru ngobrol sama lurahnya aja dia sudah khawatir akan ada demo," tuturnya kepada detikFinance, beberapa waktu yang lalu.


Asih dan timnya pun harus putar otak. Akhirnya muncul ide untuk menarik masyarakat setempat untuk menjadi pegawai kontrak untuk proyek tersebut.

Setiap proyek pembebasan lahan di Bina Marga dibentuk satuan kerja. Dalam satuan kerja itu juga dimungkinkan untuk menambah pekerja dengan lowongan bantuan teknis.

"Jadi ada anak dari keluarga yang terkena gusur kita tarik dari staff. Total ada 7 orang yang kita tarik," terang Aasih.

Warga yang ditarik ke dalam satuan kerja diharapkan bisa mengerti cara kerja tim PPK. Sehingga mereka diharapkan menjadi semacam 'double agent' baik untuk warga setempat maupun PPK.

Siasat itu pun berhasil. Hingga saat ini tidak ada sedikit pun kabar penolakan dari warga sekitar Pasar Gembrong. Lagi pula harga yang didapatkan warga cukup tinggi.

Menurut hasil penghitungan penilaian aset (appraisal) di wilayah Pasar Gembrong harga tertingginya bisa menembus Rp 20 juta per meter persegi. Harga itu tergantung kondisi bidang tanahnya.


Intinya, menurut Asih, dalam pembebasan lahan, PPK harus bersikap empati dengan warga setempat. Gunakan cara-cara komunikasi yang bersifat terbuka.

"Menurut saya jadi PPK itu harus menganggap kita sama sependeritaan dengan mereka. Jangan anggap mereka objek. Kalau sosialisasi jangan defensif," tutupnya. (das/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed