Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 02 Nov 2019 16:35 WIB

Menengok Satu-satunya Transportasi ke Krayan, Perbatasan RI-Malaysia

Uji Sukma Medianti - detikFinance
Foto: Pradita Utama/detikcom Foto: Pradita Utama/detikcom
Krayan - Sigit Anjani Putra atau akrab disapa Sigit melangkah menuju ke taxi way saat pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C208B dari Nunukan terparkir di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan, Krayan. Dengan cekatan Sigit langsung bergegas menurunkan barang-barang penumpang di bagasi pesawat berkapasitas 12 orang itu.

Sigit baru berusia 22 tahun. Matanya sipit dan kulitnya berwarna putih kemerahan. Meski tinggal di Krayan, Sigit berdarah campuran. Ayahnya orang Jawa sementara ibunya asli orang Dayak Lundayeh.

Seusai berkenalan dengan tim ekspedisi detikcom, Sigit langsung meminta data diri kami untuk memesan tiket pulang.

"Di sini orang-orang yang datang ke Krayan harus langsung pesan tiket (pesawat) pulang, kalo ndak bisa nggak pulang sampai satu bulan," kata Sigit siang hari itu.

Para penumpang Susi Air baru mendarat di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan.Para penumpang Susi Air baru mendarat di Bandara Yuvai Semaring, Long Bawan. Foto: Pradita Utama/detikcom


Ucapan Sigit memang bernada canda. Namun, hal itu adalah kenyataan yang terjadi di Krayan, Nunukan Kalimantan Utara. Pesawat menjadi satu-satunya alat transportasi dari dan menuju Krayan. Wajar saja bila urusan tiket pesawat jadi hal yang paling sensitif di Krayan.

Hanya ada dua jenis maskapai yang terbang ke Long Bawan. Di antaranya Susi Air dengan kapasitas 12 orang dan Aviastar dengan kapasitas maksimal 17 orang.

Masing-masing maskapai punya jadwal penerbangan dua kali dalam sehari. Rutenya pun tidak menentu. Dua jenis pesawat yang dapat beroperasi ke Long Bawan hanya vilatus dan caravan.

Sigit menuturkan sebetulnya sudah ada pesawat jenis ATR yang bisa mendarat di Long Bawan, namun hanya ATR 35. Sedangkan ATR 27 belum dapat masuk lantaran runway yang masih lembek.

Maskapai milik Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, mulai masuk sejak 2008. Sementara Aviastar baru beroperasi pada 2017 lalu. Keadaan makin tak pasti apabila salah satu dari pesawat yang sudah dijadwalkan harus melakukan maintenance.

Pesawat Susi Air di Bandara Yuvai Semaring Long BawanPesawat Susi Air di Bandara Yuvai Semaring Long Bawan Foto: Pradita Utama/detikcom


"Jadi kalau pagi ada Susi Air yang terbang ke Tarakan dan Malinau, lalu siangnya ke Nunukan. Tapi ada satu pesawat yang harus maintenance, ya tidak jadi berangkat lah," jelas Sigit.

Adapun, Sigit tidak bekerja untuk maskapai atau pun bandar udara. Lelaki berperawakan tinggi dan besar itu hanya pekerja lepas yang bertugas melakukan ground handling pesawat. Ia juga punya peran penting dalam memastikan ketersediaan tiket di Bandara Yuvai Semaring Long Bawan ini.

"Jadi di sini (Krayan) ini tidak bisa kita pesan tiket itu H-1 atau H-7. Karena orang selalu booking satu bulan sebelumnya," kata Sigit.

Sistem pemesanan tiket, lanjut Sigit, dibuka setiap tanggal 25. Dari situ calon penumpang melakukan booking secara manual. Setiap harinya, maskapai selalu membuka 2 emergency seat yang tidak dijual secara terbuka. 2 seat tersebut hanya akan dijual untuk umum dua jam sebelum penerbangan.


"Dua emergency seat itu digunakan hanya untuk orang sakit dan orang yang harus berdinas keluar Krayan," jelasnya.

Untuk mendapatkan seat emergency, warga Krayan menggunakan surat sakti berupa surat rujukan dari Puskesmas setempat.

"Hampir setiap hari ada yang pakai surat sakti ini," kata Sigit.

Selain Susi Air dan Aviastar, ada juga pesawat MAV jenis vilatus. Pesawat ini hanya muat 4 orang penumpang. Biasanya pesawat jenis ini digunakan apabila ada kebutuhan yang sangat mendesak.

"Kalau ada warga yang sakit parah lalu butuh bantuan, seperti kemarin ada yang sakit dibantu sama Pemda buat charter pesawat MAV," tuturnya.

Sigit menuturkan hingga saat ini, dua maskapai yang terbang ke Krayan dibantu oleh subsidi dari Pemkab Nunukan dan Pemprov Kalimantan Utara. Harga tiket Susi Air bisa mencapai Rp 1.320.000 per orang, setelah disubsidi harganya Rp 462 ribu per orang. Sementara Aviastar jika tidak disubsidi harganya bisa mencapai Rp 900 ribu setelah disubsidi menjadi Rp 480 ribu per orang.


Sejatinya, Krayan adalah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Letaknya berbatasan langsung dengan Ba'kelalan Malaysia. Hanya 10,8 kilometer dari Long Bawan.

Kawasan yang dihuni oleh warga Dayak Lundayeh ini bisa dibilang masih sangat terisolir. Beruntung, listrik sudah mulai masuk ke wilayah berpenduduk 19.008 jiwa itu pada 2016 lalu, kendati baru menjangkau 35 desa dari total 89 desa secara keseluruhan.

Krayan dapat ditempuh lewat jalur darat yakni melalui Kabupaten Malinau. Aksesnya sudah terbuka hanya saja pembangunan fisiknya belum selesai. Dengan jarak 108 kilometer, dibutuhkan waktu tempuh 3 hingga 5 hari lamanya. Saat ini Bandara Yuvai Semaring Long Bawan tengah direnovasi. Beberapa fasilitas pun mulai diperbaiki. Mulai dari luas landasan pacu hingga sistem pemeriksaan keamanan bandara.

"Renovasi bandara sudah jalan dua tahun, targetnya bisa beroperasi penuh bulan Februari 2020. Jadi memang bandara targetnya satu tahun kelar tetapi masalahnya material bahan-bahan harus angkut dari Malaysia. Sekarang sudah banyak yang berubah. Dulu tahun 2003-2005 masih tanah aspalnya (runway). Sekarang runway sudah lebih lebar dari 1.200 meter jadi 1.800 meter," pungkas Sigit.

detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Sepenggal Kisah Anak Bangsa, Terpisah dari Keluarga Demi Tuntut Ilmu"
[Gambas:Video 20detik]
(ujm/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com