Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Nov 2019 18:32 WIB

Banyak Bangun Pembangkit, Profit Abipraya Naik 40%

Adinda Purnama Rachmani - detikFinance
Foto: shutterstock Foto: shutterstock
Jakarta -

Sejak 12 November 1980 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Brantas Abipraya (Persero) terus bertahan dan berinovasi membangun infrastruktur di Indonesia. Direktur Utama PT Brantas Abipraya, Bambang E. Marsono mengatakan dari tahun ke tahun profit Abipraya terus meningkat. Sejak 2011 pihaknya sudah mencetak laba profit dengan rata-rata sebesar 40%.

"Abipraya hari ini merayakan ulang tahun ke-39, tidak banyak perusahaan yang bertahan hingga umur segini. Selama 39 tahun kita terus tumbuh, dari tahun ke tahun kita terus meningkat mulai dari sales, milik kontrak baru, dan tentunya profit. Memang tidak terus menanjak terus. Namun,sejak 2011 untuk profit sekitar hampir 40% rata-rata ya. Hanya saja di 2019 kan datanya belum ada, soalnya belum tutup buku," ucap Bambang E. Marsono, di Kantor Brantas Abipraya, Kawasan Cawang, Jakarta Timur, Selasa, (12/11/2019).

Selain itu, Bambang menjelaskan di tahun ini pihaknya memiliki tantangan besar dalam proyek. Ia mengaku banyak proyek yang belum tereksekusi karena banyak investor yang tidak berani mengambil keputusan untuk menginvestasi dananya dan menunggu hingga pesta demokrasi berakhir.

"Ya, 2019 lumayan berat. Banyak proyek yang belum tereksekusi di 2019, tahun ini kan tahun politik, walaupun secara langsung tidak ada hubungannya dengan politik. Tapi mau tidak mau, sedikit atau banyak, anggaran dari pemerintah sangat berpengaruh. Mungkin tahun ini banyak terkonsentrasi di pesta demokrasi. Dari para investor juga melihat situasinya seperti apa, dari mereka belum berani," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Komisaris PT Brantas Abipraya, Haryadi, mengatakan pihaknya optimis untuk ke depannya hingga 2024 akan banyak proyek yang berjalan. Apalagi dengan adanya proyek perpindahan ibukota ke Kalimantan Timur yang akan menjadi peluang baik untuk Abipraya.

"Ada cukup banyak proyek yang tertunda dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi kelihatannya trennya sekarang dan ke depan akan kembali normal. Dengan adanya gagasan ibukota baru itu menjadi peluang tersendiri bagi kami, artinya akan banyak infrastruktur yang akan digarap di sana. Karena salah satu fokus kita di bendungan, di sana sudah kita garap. Selain itu, proyek kita juga bukan hanya di bendungan saja, maka harus ada disverifikasi usaha dengan cara mengembangkan infrastruktur energi terbarukan," ucap Haryadi.

Haryadi juga mengatakan saat ini pihaknya sedang menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga

Mikrohido (PLTM), di beberapa kota di Indonesia dengan kapasitas 10 megawatt untuk PLTM yang sudah berjalan di Bengkulu dan Gorontalo. Sedangnkan untuk PLTA dengan kapasitas 30 megawatt masih akan berjalan untuk di daerah luar Jawa.

"Seperti PLTA dan PLTM, dan tenaga surya, yang sudah berjalan menghasilkan listrik ada dua sedangkan on going di tahun ini sudah bisa produksi 4-5 pembangkit. Pokoknya kita terus bertahap dari taun ke tahun, ini merupakan bisnis baru buat kami. Untuk kapasitas yang dihasilkan PLTM di bawah 10, kalau PLTA 30 mega per pembangkit," ucapnya.

"Sudah berjalan satu PLTM di Bengkulu dan satu di Gorontalo, ada yang hampir selesai di Toraja Sulawesi Selatan, dan Padang. Pokoknya proyek kita tersebar di seluruh Indonesia dan khususnya di luar Jawa, dimana suplai listriknya masih terbatas," tutup Haryadi.





Simak Video "Bendung Lekopancing Kering, Warga Maros Terancam Krisis Air"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com