Terapkan Social Distancing, Penumpang MRT Jakarta Turun 80%

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 22 Mar 2020 16:00 WIB
Para penumpang MRT Jakarta menggunakan moda transportasi umum tersebut dengan menjaga jarak sosial dari tanda silang yang dibuat oleh pengelola, di Jakarta, Jumat (20/3/2020). MRT Jakarta membuat tanda silang sebagai kursi yang tidak perlu diduduki di kursi kereta atau di peron ruang tunggu untuk membuat jarak sosial (social distancing) seperti yang disarankan pemerintah. Social Distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

PT Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta (Perseroda) menerapkan aturan jaga jarak alias social distancing di setiap angkutannya. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus corona.

Kebijakan itu berimbas kepada turunnya jumlah penumpang MRT. Corporate Secretary Division Head MRT Jakarta Muhamad Kamaluddin mengatakan, jumlah penumpang MRT terus mengalami penurunan hingga lebih dari 80%.

"Jadi memang penumpang kami sudah berkurang sampai lebih dari 80% sekarang ini," ujar Kamal kepada detikcom, Minggu (22/3/2020).

Berdasarkan catatannya terakhir, Jumat (20/3/2020) lalu penumpang MRT hanya 21.000 per hari. Padahal sebelum ada pembatasan ini penumpang bisa mencapai 100.000 per hari.

"Secara berturut-turut turun. Dari 32.000 (penumpang), 28.000, 24.000 dan yang terakhir hari Jumat mencapai titik 21.000 penumpang per hari. Jadi sebelum diberlakukan social distancing ini jumlah penumpang per hari kami 100.000 untuk hari kerja. Jadi turunnya jauh sekali ini lebih dari 80%," ucapnya.

Kamal menjelaskan, sejak diberlakukan social distancing pihaknya membatasi penumpang hanya sampai 60 orang per gerbong kereta. Padahal saat situasi normal pihaknya bisa mengangkut sampai 300 orang penumpang.

"Jadi ini 1/6 dari kapasitas," sebutnya.

Meski begitu, pihaknya berharap lebih banyak lagi masyarakat yang menerapkan kerja di rumah agar virus corona bisa cepat diatasi. Sehingga semua masyarakat bisa beraktivitas dengan normal dan bisa mengembalikan pendapatan MRT.

"Kami berharap warga semakin banyak yang bekerja dari rumah. Supaya secara menyeluruh Jakarta bisa sustainable (berkelanjutan) dan ujungnya nanti MRT-nya bisa berkelanjutan. (Nggak masalah pendapatan) kan sudah dikoordinasikan bersama dengan pemerintah mengenai dampak operasional, dampak pendapatan MRT Jakarta sendiri," katanya.



Simak Video "Akibat Corona, Proyek MRT Bundaran HI-Harmoni Molor"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)