Pemkab Klaten Protes Jalan Rusak Akibat Proyek Tol Yogya-Solo

Achmad Syauqi - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2020 16:31 WIB
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Boulevard Raya yang rusak kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (28/2). Menurut keterangan warga jalan tersebut rusak karena proyek jalan tol dan akibat dampak banjir yang memperparah kerusakan sehingga jalanan menjadi penuh lubang dan becek menyebabkan bahaya kepada pengendara motor.
Ilustrasi Jalan Rusak (Foto: Pradita Utama)
Klaten -

Pemkab Klaten meminta pemrakarsa pembangunan jalan tol Jogjakarta- Solo (Joglo) menanggung perbaikan kerusakan jalan akibat proyek tersebut. Pemkab tidak mau kerusakan dibebankan pada daerah.

"Kaitannya dengan jalan yang akan digunakan untuk lewat material baik jalan desa atau kabupaten saya minta ada surat perjanjian dengan desa atau kabupaten. Dan apabila terjadi kerusakan jadi tanggung jawab pemrakarsa," ungkap Sekda Klaten, Jaka Sawaldi saat sosialisasi AMDAL jalan tol Jogjakarta-Solo, Rabu (17/6/2020) yang digelar online dengan teleconfrence.

Jaka mengatakan Pemkab Klaten meminta ada dua hal yang harus diperhatikan pemrakarsa pembangunan jalan tol. Masalah pertama berkaitan dengan saluran air.

"Karena ada beberapa saluran air tidak hanya untuk irigasi pertanian tapi ada sungai yang menjadi aliran banjir dari Gunung Merapi. Ini perlu ada perhatian khusus," lanjut Jaka.

Masalah saluran air, kata Jaka minimal sesuai dengan yang diusulkan DPUPR dimensi penampang nya 2 meter. Sebab jika tidak akan muncul masalah dengan aliran air.

"Kaitannya dengan penampang saluran air minimal 2 meter sebagaimana usulan DPUPR. Khusus jalan juga harus ada penambahan personel pengaturan lalu lintas," sambung Jaka.

Menurut Kepala DPUPR Pemkab Klaten, Tajudin Akbar sesuai penjelasan pemrakarsa jalan tol, di Klaten jalan tol akan memakan lahan terbanyak. Sebab di Klaten panjang tol mencapai 30 kilometer.

"Sebagian besar di Klaten sebab ada 30 kilometer panjangnya. Timbunan material lebih dari 15 juta meter kubik timbunan," jelas Tajudin.

Jika dari wilayah Solo melintas ke Jogjakarta, sambung Tajudin ada kelandaian jalan dari kanan ke kiri. Sehingga pembangunan tol itu seperti membendung air.

"Di trase Klaten pembangunan tol itu seperti membendung aliran air sungai atau irigasi dari kanan ke kiri. Itu harus sangat diperhatikan untuk menganalisis air dan dampaknya," lanjut Tajudin.

Selain itu, imbuh Tajudin, bakal banyak jalan di Klaten yang akan terpotong karena timbunan jalan tol. Dengan elevasi tol di atas jalan yang ada.

"Elevasi tol di atas kami sehingga dimensi dan elevasi harus diperhatikan. Dimensi minimal 2 meter sehingga kami bisa pelihara" kata Tajudin.

Pantauan detikcom, teleconfrence sosialisasi AMDAL jalan tol Jogjakarta-Solo dilaksanakan di beberapa lokasi. Di Kantor Camat Delanggu, Jogonalan , Klaten Utara dan di gedung Pemkab.

Peserta dari OPD Pemkab, camat, Kades, BPD, tokoh masyarakat dan LSM. Dari OPD provinsi, konsultan dan PT Adhi Karya menanggapi di Semarang.

Selain Sekda, kepala DPUPR, Bappeda, masalah air dan jalan juga diungkapkan mayoritas peserta. Baik camat, kades dan tokoh masyarakat.

Muhammad Amin dari PT Adhi Karya menjelaskan saat ini detail engineering design (DED) baru disusun. Penyusunan itu akan berkoordinasi dengan OPD terkait.

"Konsultan dan PT Adhi Karya akan berkonsultasi dengan OPD terkait dalam menyusun DED, mulai DPUPR, Bappeda sampai Dinas Pertanian dan lainnya. Jadi masalah saluran, aliran sungai dan jalan yang terpotong tidak ada kesalahan," terang Amin.

Saat mulai konstruksi, tambah Amin, juga akan Kulo nuwun ke desa setempat. Masukkan masyarakat akan dicatat dan dilakukan adendum.

"Untuk surat perjanjian soal kerusakan jalan akibat tol, kami siap bertanggung jawab. Akan dilakukan penyesuaian baik underpass atau over pass," pungkas Amin.



Simak Video "Keterlaluan! Pria Ini Curi Puluhan Besi Pembatas Jalan Tol"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)