Sederet Inovasi Hutama Karya Bangun Jalan Tol di Filipina hingga Malaysia

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 14 Agu 2020 10:13 WIB
pembangunan infrastruktur
Foto: Hutama Karya
Jakarta -

75 tahun Republik Indonesia merdeka, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) mengaku ingin terus membangun negeri melalui infrastruktur-infrastruktur, tidak hanya di Indonesia namun hingga ke mancanegara. Direktur Operasi II Hutama Karya Novias Nurendra menyebut BUMN ini lahir dan tumbuh karena tantangan besar pembangunan Indonesia.

"Perusahaan dimulai dengan mengerjakan sesuatu yang besar, diselesaikan karena kompetensi dan juga keberanian untuk terus melakukan inovasi. Tata nilai perusahaan (core values) AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif) yang diterapkan perusahaan sejak 13 Juli 2020, sebetulnya telah sejak lama mendarah daging di Hutama Karya," terang ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2020).

Sebelum membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2.765 km yang akan terbentang dari Lampung hingga Aceh di tahun 2024, HK juga telah menjalankan proyek monumental dan mega proyek untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah sebuah kekuatan baru.

Sederet proyek besar diserahkan kepada Hutama Karya di awal berdirinya perusahaan antara lain pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta (1961-1962), Jembatan Ampera di Palembang (1962-1965), Patung Dirgantara di Pancoran (1964-1966) dan Gedung DPR/MPR di Jakarta (1965-1968).

Jembatan Semanggi merupakan mega proyek pertama yang ditangani oleh Hutama Karya, dikerjakan oleh anak-anak muda Indonesia dengan telah menerapkan teknologi yang relatif baru di Indonesia yaitu konstruksi beton prategang ala BBRV Swiss.

Begitu pula dengan Gedung Parlemen di Senayan itu jadi salah satu pekerjaan bangunan dengan tingkat kesulitan yang tinggi pada masanya. Semua mega proyek tersebut relatif dikerjakan dalam waktu yang singkat dan penuh tantangan namun perlu keberanian dalam melakukan terobosan dan juga kompetensi yang tinggi.

Tidak berhenti hanya mengerjakan proyek monumental di dalam negeri, pada era tahun 1990 hingga sekarang, Hutama Karya terus mengembangkan kapabilitasnya untuk dapat bersaing di dunia internasional. Hutama Karya telah mengharumkan nama Indonesia dengan melebarkan sayapnya ke Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam hingga Timor Leste, menjadi kontraktor proyek infrastruktur jalan utama hingga jalan tol.



Di awal tahun 1990 hingga 1993, HK membangun Jalan Tol North South Expressway Ayer Hitam Malaysia sepanjang 10 km dan selanjutnya pada tahun 1996 perusahaan memulai konstruksi pembangunan Jalan Tol Metro Manila Skyway di Manila, Filipina sepanjang 9,5 km yang diselesaikan dalam kurun waktu 3,5 tahun. Pembangunan jalan tol baik di Malaysia maupun Filipina merupakan jalan tol pertama di negara tersebut.

"Hutama Karya sudah sejak lama mendunia, kami memiliki pengalaman di beberapa negara dan menjadi kontraktor yang pertama kali membangun jalan tol di Malaysia dan Filipina," jelas Novias.

Lebih lanjut, Novias menerangkan perseroan terpilih untuk mengerjakan jalan tol Metro Manila Skyway karena menawarkan teknologi konstruksi Sosrobahu, karya anak bangsa yang merupakan insinyur terbaik Hutama Karya, Ir. Tjokorda Raka Sukawati.

"Teknologi yang kami tawarkan saat itu adalah teknologi LPBH (Landasan Putar Bebas Hambatan) atau lebih terkenal dengan Sosrobahu. Teknologi ini sudah diakui dan digunakan oleh berbagai perusahaan konstruksi di seluruh dunia hingga sekarang," terangnya.

Teknologi yang digunakan dalam membangun jalan layang ini menjamin tidak akan mengganggu arus lalu lintas selama pembuatan, karena saat pengecoran kepala tiang bisa dilakukan dengan posisi sejajar arah jalan. Dengan posisi ini, maka tiang-tiang penyangga cetakan beton tidak akan menghalangi jalan di bawahnya.

Di Timor Leste, HK juga telah menyelesaikan proyek jalan Oecusse Paket II yang merupakan proyek dari Government of Democratic Republic of Timor Leste. Proyek jalan yang dikerjakan pada tahun 2015 hingga 2019 ini adalah bagian dari proyek infrastruktur yang lebih besar di Zonas Especiais de Economia Social de Mercado (ZEESM).

"Saat ini kami juga tengah mengerjakan jalan utama di Oecusse. Ini akan menjadi bagian dari jaringan jalan utama, khususnya Urban Road Pante Macassar dan pedesaan dari Sakato ke Lifau, juga menghubungkan pembangkit listrik dan hotel," imbuhnya.

Selain pengerjaan jalan utama dan jalan tol, hasil karya HK lainnya yang mendunia adalah pembangunan Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brunei Darussalam. Pembangunan fisik gedung ini selesai pada tahun 2013.

"Selain jalan tol dan jalan utama, Hutama Karya membangun Gedung KBRI di Brunei Darussalam. Ini wujud bahwa Hutama Karya dipercaya untuk membangun gedung Kementerian Luar Negeri di luar negeri," pungkas Novias.



Simak Video "Segera Hadir Penghubung Jalan Baru di Aceh"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)