Susah Cari Kontraktor, Proyek MRT Jakarta Fase II Tertunda

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 19 Okt 2020 13:12 WIB
Pembangunan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) fase II sudah mulai berjalan. Proyek ini akan menyambung Bundaran HI hingga Kota Tua.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Proyek pembangunan MRT Jakarta fase II untuk segmen 2 (Harmoni-Kota) terancam tertunda. Sejumlah paket di segmen 2 itu mengalami beberapa kali kegagalan dalam proses tender, karena sulitnya mencari kontraktor yang berminat. Bahkan, ada satu paket yakni CP 206 untuk pengadaan rolling stock atau kereta yang nihil peminat dari kontraktor Jepang.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, untuk target penyelesaian MRT Jakarta fase II Harmoni-Kota ini pun ditargetkan mundur ke tahun 2027.

"Akibat adanya tender delay, tender kita ulang, di segmen 1 (Bundaran HI-Harmoni) itu sekali tender kita dapat. Di segmen 2 itu ada dua kali tender delay. Sehingga segmen 2 ini Harmoni Kota ditargetkan bergeser ke pertengahan 2027 atau lebih," kata William dalam diskusi virtual, Senin (19/10/2020).

Ia menerangkan, sejumlah paket yang mengalami kendala memperoleh kontraktor Jepang adalah CP 202 untuk rute Harmoni-Mangga Besar, CP 205 untuk pemasangan sistem perkeretaapian dan rel, lalu CP 206 untuk pengadaan rolling stock atau kereta.

Untuk CP 202 sendiri, karena tingkat kesulitan untuk pembangunan konstruksinya tinggi, maka menyebabkan para kontraktor Jepang tak memasukkan penawaran sejak tender pertama, yakni Pada 6 Agustus sampai 4 November lalu. Selain risiko tinggi, kontraktor juga keberatan dengan deadline proyek yakni 57 bulan. Akhirnya, tender pertama itu pun gagal.

Lalu, MRT Jakarta mengadakan tender kedua pada 7 Februari 2020, dan memperpanjang deadline proyek menjadi 68 bulan. Namun, pandemi virus Corona (COVID-19) menghambat proses tender. Para kontraktor pun juga mengalami keterbatasan SDM. Akhirnya, tender itu ditutup pada 6 Juli 2020, dan dinyatakan gagal kembali.

"Karena 2 kali tender dengan mekanisme international bidding gagal, kita bersurat ke JICA (Japan International Cooperation Agency), kita minta arahan. Dari JICA diarahkan 3 mekanisme, pertama limited competitive bidding, jadi dibatasi pesertanya. Kedua, international shopping, dan ketiga direct contracting," tutur William.

Untuk mengatasi itu, MRT Jakarta sedang proses tender dengan menggunakan mekanisme direct contracting atau penunjukan langsung. Harapannya dengan mekanisme itu, MRT Jakarta bisa memperoleh kontraktor untuk proyek CP 202.

Kendala kedua terjadi di paket CP 205 yakni sistem perkeretaapian dan rel. MRT Jakarta menggelar tender untuk paket tersebut pada Februari 2020, dan seharusnya selesai pemasukan tawaran pada Juni 2020. Namun, ke-6 kontraktor yang berminat mengikuti tender meminta perpanjangan tender.

"Kontraktor meminta untuk memperpanjang masa tender. Jadi panitia sudah melakukan 4 kali perpanjangan. Jadi seharusnya bidding masuk 16 juni 2020. Tapi karena COVID-19, dilakukan 2 kali perpanjangan, pertama sampai 16 Juli 2020, kedua sampai 31 Agustus 2020. Kemudian kontraktor meminta perpanjangan ketiga sampai 17 September 2020, dan meminta lagi perpanjangan keempat sampai 26 Oktober 2020," urai dia.

Kendala ketiga yakni di paket CP 206 atau pengadaan kereta. Dalam paket ini, MRT Jakarta mengalami kendala karena tak ada satu pun kontraktor yang berminat mengikuti tender.

Adapun penyebabnya karena jumlah kereta yang dibutuhkan. William mengatakan, untuk proyek MRT Jakarta fase II ini hanya dibutuhkan 6 kereta. Namun, karena jumlahnya terlalu sedikit, tak ada kontraktor yang berminat. Akhirnya, MRT Jakarta mencoba membuka tender untuk pengadaaan 14 kereta yang akan digunakan sampai proyek MRT ke Ancol Barat. Namun, karena jarak waktu penyelesaian proyek yang begitu jauh, akhirnya minat kontraktor juga masih nihil.

(fdl/fdl)