Trans Sumatera Rawan Begal, Pengusaha: Paling Banyak di Rest Area

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 11:00 WIB
Mengintip tol Trans Sumatera berrmandi cahaya
Ilustrasi/Foto: Dok. PT Hutama Karya (Persero)

Gemilang sendiri mengaku tindak pemalakan memang seringkali terjadi di rest area, bukan cuma di jalan tol Trans Sumatera saja. Paling parah di Merak, bahkan hingga berujung perampokan.

"Kita gini ya biasanya di rest area terjadi kejahatan sering sekali, bahkan di tol lama juga. Di Merak tuh sering juga terjadi di rest area, dulu malah ada yang dirampok," kata Gemilang.

"Kan truk ini muatannya cukup mahal ya, diawasi cuma dua orang di sana," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Budi Harto pun mengakui soal ancaman aksi kejahatan di Jalan Tol Trans Sumatera. Menurutnya hal itu menjadi tantangan pihaknya sebagai operator jalan tol ini.

Menurutnya, saat ini arus kendaraan di jalan tol Trans Sumatera masih rendah alias jalannya masih sepi maka tindak kejahatan rawan terjadi.

"Saat ini dengan berawalnya pengoperasian jalan tol ini dengan penyesuaian masyarakat kami menghadapi banyak tantangan. Jalan tol ini memang sekarang traffic-nya masih rendah. Dengan trafik yang rendah ini mengundang kejahatan," ujar Budi dalam sebuah webinar, Rabu (25/11/2020).

Meski begitu, Executive Vice President Hutama Karya Muhammad Fauzan memastikan belum sekalipun menerima laporan resmi mengenai aksi kejahatan selama pengoperasian jalan tol Trans Sumatera.

"Hingga saat ini belum terdapat laporan secara resmi yang diterima oleh Hutama Karya terkait adanya tindak kejahatan baik berupa rampok maupun begal yang terjadi di JTTS," kata Fauzan saat dihubungi detikcom, Sabtu (28/11/2020).


(eds/eds)