Gimana Biaya Logistik Mau Turun, Lewat Tol Juga Masih Dipalak Preman

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 11:31 WIB
Presiden Joko Widodo meresmikan jalan tol pertama di Provinsi Riau yakni Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Pekanbaru-Dumai sepanjang 131 kilometer, pada Jumat (25/9).
Foto: Dok. Hutama Karya
Jakarta -

Para pengemudi truk disebut sering kena tindak kejahatan di rest area tol Trans Sumatera. Kejahatan yang terjadi berupa tindakan pemalakan.

Hal ini tentu menjadi sentimen negatif bagi usaha pemerintah menekan biaya logistik dengan pembangunan infrastruktur konektivitas seperti jalan tol. Alih-alih efisiensi, penggunaan tol malah menambah beban dengan biaya-biaya tak terduga seperti ini.

Ketum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan mengatakan para pengemudi sering dipalak hingga ratusan ribu rupiah di rest area Trans Sumatera.

"Ada yang minta Rp 100 ribu, ya orang malak lah. Kisarannya itu sih ratusan ribu lah," ujar Gemilang kepada detikcom, Senin (30/11/2020).

Paling banyak menurut Gemilang pemalakan terjadi di beberapa rest area yang belum permanen konstruksinya. Lokasinya pada bagian selatan tol Trans Sumatera, dari arah Bakauheni menuju Palembang.

"Kan tol yang ke arah Palembang itu kan beberapa ruas masih sepi jadi rawan, paling banyak itu tindak kejahatannya di rest area yang darurat yang belum permanen," kata Gemilang.

Menurut Gemilang, untuk mengantisipasi tindak kejahatan, biasanya para sopir truk melakukan konvoi atau datang secara ramai-ramai ke rest area.

"Mereka paling rombongan nih berusaha untuk ramai-ramai di rest area atau pas jalan mereka konvoi, karena tolnya ini panjang sekali dan masih sepi ya," ujar Gemilang.

Di sisi lain, biasanya para sopir truk pun dilebihkan uang ongkos sebelum berangkat. Hal itu untuk mengantisipasi apabila terjadi tindakan pemalakan ataupun pungutan liar.

"Ya kita memang pasti menyediakan uang lebih kalau ada apa-apa di lapangan kepada pengemudi," kata Gemilang.

(eds/eds)