Korban Bendungan Brumadinho Brasil yang Jebol Dapat Santunan Rp 97 T

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 05 Feb 2021 13:47 WIB
Bendungan air di dekat Kota Brumadinho, Brasil, jebol. Korban tewas diperkirakan mencapai 58 orang dan 300 orang masih dalam pencarian regu penyelamat.
Foto: Pedro Vilela/Getty Images
Jakarta -

Korban bencana jebolnya Bendungan Brumadinho di Brasil pada 2019 akan mendapatkan bantuan US$ 7 miliar setara Rp 97 triliun (kurs Rp 13.955). Jebolnya bendungan itu diketahui telah menewaskan 270 orang.

Dikutip dari BBC, Jumat (5/2/2021) bendungan Brumadinho yang jebol mengirim jutaan ton limbah beracun ke kantor perusahaan dan daerah sekitarnya, menghancurkan desa pedesaan Córrego do Feijão, di negara bagian Minas Gerais di Brasil Tenggara.

Pemerintah Brasil mengatakan bantuan tersebut merupakan perkiraan awal dan perusahaan harus membayar lebih lagi untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan bantuan korban.

"Perjanjian tersebut mengharuskan Vale untuk sepenuhnya memperbaiki semua kerusakan lingkungan. Jumlah yang disebutkan di atas dapat ditingkatkan jika perlu," katanya

Perusahaan yang memiliki bendungan itu, Brasil Vale menghadapi dakwaan pembunuhan. Jaksa penuntut Brasil mendakwa 16 orang, termasuk mantan Presiden Vale Fabio Schvartsma dengan tuduhan mereka sengaja melakukan pembunuhan karena mengetahui bendungan itu akan jebol.

Sirley Gonçalves istri dari korban bencana menjelaskan bendungan itu runtuh sekitar jam makan siang tanpa peringatan, bahkan alarm peringatan yang dipasang Vale juga tidak menyala. Oleh sebab itu dia juga menduga perusahaan tahu bahwa bendungan itu akan runtuh.

"Suamiku meninggalkan rumah untuk bekerja di pagi hari. Lalu Vale menghancurkan hidup kita. Mereka pasti tahu bendungan itu akan runtuh. Tapi mereka tidak peduli dengan karyawan mereka, mereka peduli dengan uang mereka," katanya.

Ini bukan pertama kalinya perusahaan pertambangan dan produsen bijih besi mengalami jebolnya bendungan. Pada November 2015, bendungan pertambangan yang dioperasikan oleh anak perusahaan Vale, Samarco, runtuh di kota Mariana dan menewaskan 19 orang hingga menghancurkan dua desa terdekat.

Bencana tersebut membuat Samarco usaha patungan Vale dan BHP Billiton membayar miliaran sebagai kompensasi dan mendirikan Yayasan Renova, sebuah badan yang seharusnya membantu para korban membangun kembali kehidupan mereka dan memulihkan sungai.

Setelah jebolnya bendungan Brumadinho, Vale akan menghentikan semua 10 bendungan yang tersisa, yang dibuat dari tanah dan digunakan untuk menyimpan produk sampingan pertambangan yang seringkali beracun.

(zlf/zlf)