'Berdarah-darah' BUMN Kebut Infrastruktur Kala Pandemi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 02 Apr 2021 16:59 WIB
Dahlan Iskan
Foto: Tangkapan layar
Jakarta -

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan BUMN karya saat ini sedang dalam kondisi yang sulit.

Apalagi dengan laporan keuangan seperti Waskita Karya, Wijaya Karya sampai PT PP yang mengalami kerugian dan mengalami penurunan laba bersih.

Menurut Dahlan, memang pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir sangat masif. Contohnya pembangunan jalan tol yang banyak di berbagai wilayah.

Namun pendanaan menjadi masalah baru bagi perusahaan infrastruktur ini. "Ketika bencana tahap 1 datang, harapan tinggal pada obligasi, medium term notes (MTM) dan sejenisnya. Tapi pemilik obligasi pun tahu, mana perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok," kata dia dikutip dari disway.id, Jumat (2/4/2021).

Hal ini membuat pemilik dana obligasi kadang menaikkan bunga. Kemudian ada masalah selanjutnya, ketika obligasi jatuh tempo.

"Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan mereka sebagian besar akibat kemakan bunga tinggi. Sebenarnya masih ada jalan lain, right issue pasar modal, menambah jumlah saham yang dijual ke publik. Tapi BUMN punya batasan, tak boleh menjual saham ke publik melebihi 50% takut mayoritasnya jatuh ke asing," kata dia.

Dahlan menyebut nyaris seluruh BUMN infrastruktur sudah berada di batas tersebut. Sehingga right issue bukan pilihan yang tepat.

Dia menyampaikan kadang komisaris dan direksi tidak perna memikirkan masalah ini. Beda dengan swasta yang sering kali membuat gelisah direksi.

Ada beberapa jalan lain, menurut Dahlan Waskita Karya bisa menjual jalan tol dan hal ini bisa menjadikan perusahaan meraup laba. Namun masalahnya, dalam kondisi seperti ini pihak mana yang akan membeli jalan tol.

Menurut dia Waskita bisa cepat menjua aset jika menawarkan harga yang menarik. "Tapi bagaimana bisa membuat harga menarik kalau biaya untuk membuat jalan tol itu dulu sudah terlanjur tinggi, baik biaya konstruksinya maupun biaya biaya bedak dan gincunya?" tambah dia.

Dahlan mengharapkan SWF bisa segera berjalan dan dana dari Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab, Jepang dan Kanada itu segera masuk SWF. "Ada yang sudah kehausan sampai kerongkongan," tandas dia.



Simak Video "Eks Koruptor Jadi Komisaris BUMN, PPP: Apa Kelebihan Emir Moeis?"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)