Jakarta Diprediksi Tenggelam 2050, Apa Kabar Bendungan Penangkal Banjirnya?

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 16 Mei 2021 13:00 WIB
Pemandangan langit biru terlihat di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/9/2020) atau 4 hari sejak PSBB ketat diberlakukan. Begini potretnya.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Jakarta menjadi kota paling rentan di dunia terhadap risiko lingkungan. Ibu kota Indonesia itu diprediksi tenggelam pada 2050.

Prediksi tersebut diketahui dari hasil laporan Konsultan risiko Verisk Maplecroft, yang dikutip dari Time. Ada daftar 100 kota di dunia yang menghadapi risiko lingkungan terbesar di mana sebanyak 99 kota di antaranya berada di Asia, sementara Eropa menjadi rumah bagi 14 dari 20 kota teraman.

Pemerintah sebetulnya tak tinggal diam untuk mengatasi banjir dengan membangun sejumlah proyek infrastruktur untuk penangkal banjir. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane sedang menyelesaikan pembangunan dua bendungan kering (dry dam) untuk menangkal banjir Jakarta.

Keduanya adalah Bendungan Sukamahi dan Bendungan Ciawi di Kabupaten Bogor. Mengutip keterangan tertulis di situs Kementerian PUPR, pembangunan kedua bendungan merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir (flood control) Jakarta, yang sesuai kontrak kerja akan rampung tahun 2021. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono saat mengecek proyek Bendungan Ciawi Rabu (5/5/2021) pun optimistis konstruksi Bendungan Ciawi rampung Juli 2021.

"Untuk pembebasan lahan saat ini sudah selesai sehingga konstruksinya bisa selesai dalam waktu dekat," kata Basuki dikutip dari keterangan tertulis di situs Kementerian PUPR.

Basuki membeberkan tantangan lainnya dalam proyek Bendungan Ciawi selain pembebasan lahan adalah hujan yang kerap terjadi. "Untuk mengatasinya kami selimuti lahan yang masih dikerjakan saat hujan. Saat tidak hujan baru dipadatkan lagi lapis demi lapis," tutur Basuki.

Dia juga berpesan, setelah Bendungan Ciawi nanti rampung kondisi sekitar bendungan kembali dihijaukan dengan ditanami pohon. Hal ini sebagai konservasi alam pada area sabuk hijau.

Sementara itu Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jarot Widyoko menambahkan pembangunan Bendungan Ciawi merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir Jakarta.

"Bendungan Ciawi dan Sukamahi sebagai bendungan kering akan mengatur mengalirnya debit air di hulu Sungai Ciliwung sebelum ke Bendung Katulampa dan terus ke Jakarta. Dari titik ini diharapkan dapat mengurangi debit banjir hingga 24%," tuturnya.

Progres konstruksi Bendungan Ciawi saat ini 71% dan pembebasan lahan 96%. Kontrak pekerjaan Bendungan Ciawi ditandatangani pada 23 November 2016 dengan kontraktor pelaksana PT. Brantas Abipraya dan PT. Sacna. Pembangunannya telah mulai pada 2 Desember 2016. Pengadaan lahan kedua bendungan dilakukan dengan skema dana talangan dimana kontraktor membiayai terlebih dahulu dan nantinya akan dibayarkan melalui Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Bendungan Ciawi direncanakan memiliki volume tampung 6.05 juta m3 dan luas genangan 39.40 hektar dengan biaya pembangunan sebesar Rp 798,7 miliar. Bendungan ini didesain untuk mengurangi debit banjir yang masuk ke Jakarta dengan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung. Rampungnya pembangunan Bendungan Ciawi akan mereduksi banjir sebesar 111,75 m3 per detik.

(aid/zlf)