Jokowi Jengkel Ada Pelabuhan Nggak Punya Jalan, Bagaimana Solusinya?

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 08 Jun 2021 15:37 WIB
PT Krakatau Bandar Samudera sebagai operator Pelabuhan Cigading di Cilegon, Banten telah menyelesaikan dua dermaga baru yaitu dermaga 7.1 dan 7.2 dengan kapasitas 3,5 juta ton, sehingga total kapasitas bongkar muat Pelabuhan Cigading menjadi 25 juta ton per tahun, hal tersebut menjadikan Pelabuhan Cigading sebagai pelabuhan curah kering terbesar di Indonesia.
Foto: Direktur Utama KBS, Akbar Djohan (Istimwea)
Jakarta -

Pemerintah Indonesia di era Presiden Jokowi terus mengupayakan terwujudnya Indonesia dengan infrastruktur yang memadai demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah proyek pembangunan terus berjalan hingga saat ini, seperti megaproyek tol trans sumatera, proyek pembangunan New Yogyakarta International Airport, LRT dan MRT di Jakarta dan Palembang, Kawasan Industri Ketapang, dan sebagainya.

Pelabuhan pun juga tidak luput dari sorotan target pembangunan pemerintah, agar arus distribusi logistik moda laut dapat berjalan lancar dan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah di Indonesia.

Sejak tahun 2015, pemerintah Indonesia era Jokowi telah membangun kurang lebih 27 pelabuhan baru yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Baru-baru ini, pemerintah sedang menjalankan mega proyek Pelabuhan Patimban Subang senilai 43 Triliun rupiah.

Akan tetapi, tidak semua proyek pembangunan pelabuhan yang saat ini dijalankan pemerintah telah diselesaikan dengan baik. Kamis (27/05/2021) lalu Presiden Jokowi menyoroti permasalahan ini dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengawasan Intern Pemerintah.

Permasalahan yang dihadapi dalam proyek pelabuhan ini mulai dari tidak memiliki akses jalan hingga berujung mangkrak yang diakibatkan oleh proses yang lambat hingga sengketa tanah.

Hingga ini, terdapat tiga proyek pelabuhan yang belum memiliki akses jalan, yaitu Pelabuhan Batanjung di Kalimantan Tengah, Pelabuhan Gelon di Jawa Timur, Pelabuhan Mantaritip di Kalimantan Timur, hingga mega proyek Pelabuhan Patimban Subang.

Direktur Utama PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), Akbar Djohan menyampaikan bahwa kehadiran infrastruktur yang mendukung aksesibilitas arus perjalanan dari dan ke pelabuhan adalah sangat penting. Karena infrastruktur tersebut dapat mengurangi beban jalan, baik dalam hal biaya dan waktu perjalanan.

"Kemudahan dalam akses logistik tentunya akan mempengaruhi harga barang yang didistribusikan, yakni menjadi lebih murah. Dengan harga barang yang menjadi lebih murah, tentunya permintaan barang tersebut akan semakin meningkat, dan ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia," ujar Akbar pada keterangannya (8/6/2021).

Akbar Djohan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia menyampaikan bahwa hingga saat ini PT Krakatau Bandar Samudera yang mengelola curah kering terbesar di Indonesia terus berupaya untuk mengoptimalkan persiapan segala infrastruktur jalur logistik di Pulau Jawa agar efektifitas dalam pendistribusian logistik dapat diraih dengan sangat baik.

"Alhamdulillah setelah mendapatkan dukungan dari Kemenkomarves, kami juga menjalin kolaborasi dengan Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Pelindo III dan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) untuk bekerjasama dalam upaya pembangunan jalur distribusi logistik dan arus kegiatan transportasi moda laut yang efektif dan efisien. Kami yakin dapat terus berupaya untuk menjadi perusahaan jasa kepelabuhan yang kompeten dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia," lanjutnya.

Selain berfokus pada distribusi logistik melalui sektor maritim laut, Akbar menyampaikan bahwa akses kereta api juga menjadi salah satu supporting utama PT Krakatau Bandar Samudera yang akan membuat konektivitas kendaraan barang dengan rute Cilegon-Tanjung Priouk dan Cilegon-Jawa Tengah atau Jawa Timur semakin cepat dan efisien.

"Kami juga telah menjalin kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk bersama menyiapkan infrastruktur terintegrasi untuk mengoptimalkan rel dan gerbong yang mengangkut logistik baik rute Pelabuhan Tanjung Priok-Jakarta Internasional Container Terminal (JITC) maupun Surabaya. Sehingga harapannya terjadi efisiensi dalam ongkos kirim dan pemulihan ekonomi ekonomi dapat berjalan lebih cepat," tutup Akbar.

(toy/dna)