Jadi Ikon Baru Banjarmasin, Proyek Jembatan Sei Alalak Capai 92%

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Selasa, 03 Agu 2021 12:02 WIB
Pembangunan Jembatan Sei Alalak
Foto: WIKA
Jakarta -

Progres pembangunan Jembatan Sei Alalak di Jalan Brigjen Haji Hasan Basri, Banjarmasin, Kalimantan Selatan telah mencapai 92%. Jembatan ini akan menjadi akses utama yang menghubungkan Kota Banjarmasin dengan sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Proyek pembangunan Jembatan Sei Alalak digarap oleh konsorsium PT WIJAYA KARYA (Persero) Tbk. [WIKA] dan PT Pandji dengan nilai kontrak Rp 278 miliar yang bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan skema pekerjaan tahun jamak (multi years). Adapun jembatan ini dibuat untuk menggantikan Jembatan Kayu Tangi 1 yang sudah dioperasikan sekitar 30 tahun.

Manajer Proyek Jembatan Sei Alalak Sija'dul Jamal menjelaskan pengerjaan erection main span telah selesai dilaksanakan. Saat ini pihaknya tengah melakukan percepatan pekerjaan lantai segmen terakhir (segmen 7-8), pekerjaan minor di jalur frontage 3 dan 4 dan jalan akses utama sisi Banjarmasin, serta menyiapkan final tuning cable stay dan pemasangan pot bearing.

"Kami akan melaksanakan pekerjaan tersebut secara saksama dan prudent dengan tetap mengedepankan komitmen untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pelaksanaan proyek," ungkap Jamal dalam keterangan tertulis, Selasa (3/8/2021).

Jembatan Sei Alalak, ulas Jamal, merupakan jembatan dengan cable stayed melengkung pertama di Indonesia dengan metode longline matchcast. Didesain untuk dapat dilintasi kendaraan dengan tonase maksimal 10 ton dengan konstruksi tahan gempa, dan masa pakai hingga 100 tahun.

Jamal menambahkan struktur melengkung dipilih untuk memperkecil area pembebasan lahan dan memberikan ruang yang aman dan layak bagi RSUD dr Antasari Saleh yang letaknya berdekatan dengan trase jembatan.

Metode konstruksi longline matchcast system, dikatakan Jamal mampu mengefisienkan biaya dan mengoptimalkan kualitas terbaik. Kemudian, geometri tiang pylon asimetris ditujukan untuk mengatur cable stayed agar tidak bersinggungan dan tetap berada di luar deck jembatan serta menambah estetika.

Jamal menguraikan konstruksi jembatan tersebut menggunakan beton kualitas tinggi fc'45 Mpa (K-500 ) yang menggunakan material lokal. Ia menyebut efektivitas dan keberhasilan pembangunan jembatan Sei Alalak bisa menjadi pelajaran sekaligus referensi bagi proyek-proyek lainnya

(ncm/ega)