MRT Mau Dibangun dari Fatmawati ke TMII, Jadi Digarap Korsel?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 31 Agu 2021 12:36 WIB
Kereta MRT Jakarta yang tengah melakukan uji persinyalan telah melaju hingga stasiun terakhir di Bundaran HI. Untuk pertama kalinya, kereta MRT Jakarta melintas di jalur bawah tanah.
Ilustrasi/Foto: Istimewa/MRT Jakarta
Jakarta -

PT MRT Jakarta buka-bukaan soal lanjutan rencana pembangunan MRT Jakarta rute Fatmawati-Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Proyek ini sudah dibidik oleh pihak Korea Selatan untuk bantuan pembangunannya.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar pun membenarkan pihaknya sudah didekati oleh pihak Korea Selatan. Dia mengatakan proyek ini sedang memasuki tahapan persiapan untuk melakukan feasibility studies alias uji kelayakan.

Meski begitu dia menegaskan belum tentu Korea Selatan yang akan membantu menggarap proyek perluasan jaringan MRT Jakarta ini. Menurut William, Korea Selatan hanya salah satu dari banyak pihak yang mendekati MRT Jakarta.

"MRT Fatmawati-Taman Mini ini fase IV prosesnya saat ini persiapan untuk FS. Benar memang ada beberapa mitra strategis yang menawarkan saat mau FS ini, salah satunya Korea Selatan. Tapi kita akan terus mencari mitra strategis berminat mengerjakan fase IV," katanya dalam paparan Forum Jurnalis di Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Yang jelas, proyek ini menurut William akan dijalankan dengan mekanisme KPBU. Pihaknya saat ini pun aktif berkonsultasi dengan pemerintah pusat maupun daerah untuk menentukan bentuk KPBU yang akan dilakukan. William mengatakan uji kelayakan MRT Fase IV ini paling lambat akan dilakukan tahun ini dan akan selesai awal tahun depan.

"Kami harap tahun ini dimulai (uji kelayakan) dan akan selesai awal tahun depan, sehingga kita bisa menentukan format KPBU yang digunakan seperti apa, apakah solicited atau unsolicited," ungkap William.

Mengenai biayanya, dari hasil pre feasibility study, proyek ini butuh setidaknya paling besar Rp 28 triliun. Namun, angka itu akan ditajamkan lagi dalam feasibility study yang mau dilakukan pihaknya tahun ini.

"Terkait nilainya Rp 28 triliun, itu didapatkan dari hitungan pre-FS yang dilakukan konsultan kami. Tentu FS nanti akan kita tajamkan lagi. Apalagi kalau dia proyeknya KPBU, kita akan lihat dari sisi kelayakan komersial juga," papar William.

"Kita harapkan awal-awal tahun depan kita bisa lebih terbuka soal pihak yang terlibat dan investasinya berapa," katanya.