Kemacetan panjang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Dilaporkan antrean masuk kapal ke Pelabuhan Gilimanuk mengular panjang di tengah puncak mudik dan jelang ditutupnya pelabuhan karena Hari Raya Nyepi.
Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan mengatakan kemacetan horor ini terjadi karena kapasitas Pelabuhan Gilimanuk tak mampu menampung peningkatan volume penumpang dan kendaraan.
Dia menjelaskan peningkatan volume penumpang dan kendaraan terjadi karena libur lebaran berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Masyarakat yang mau keluar Bali memulai perjalanan lebih dulu sebelum pelabuhan ditutup karena Hari Raya Nyepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan berdekatan liburan Nyepi kemudian libur Lebaran. Ini memang ada peningkatan volume. Volume dari Gilimanuk, ini ada peningkatan yang menuju Jawa," ujar Aan kepada detikcom, Senin (16/3/2026).
Selama tiga hari ke belakang, mengatakan masyarakat yang mau menyeberang ke Bali terus bertambah dari arah Denpasar dan Buleleng. Polanya, setelah adzan maghrib hingga menjelang dini hari, masyarakat yang mau ke Jawa berdatangan ke pelabuhan.
Data Posko Angkutan Lebaran mencatat total penumpang di lintasan penyeberangan itu pada H-6 lebaran ada 80.416 orang, naik 33,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 60.099 orang. Di sisi lain, truk sumbu 3 ke atas juga masih banyak yang beroperasi. Hal ini membuat kapasitas jalan tidak mampu menampung peningkatan volume yang terjadi.
Dari sisi infrastruktur, Aan mengatakan kapasitas lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk memang tidak sebesar Merak-Bakauheni. Dari dermaga hanya 8 unit yang ada di dua sisi, kemudian armada kapal besarnya juga hanya sedikit.
"Di sini kan ada 8 dermaga di sisi Gilimanuk dan di sisi Ketapang. Kemudian kapal yang 2.000 GT ke atas ini hanya ada 8-9, selebihnya kapalnya kan 2.000 ke bawah. Jadi kapasitas angkutnya memang sedikit," kata Aan.
Di sisi lain, Pelabuhan Gilimanuk menjadi satu-satunya pelabuhan penyeberangan yang jadi gerbang keluar masuk Pulau Bali, arus lalu lintas terpusat di pelabuhan itu saja. Tidak seperti di Pelabuhan Merak dan Bakauheni yang di sekitarnya banyak pelabuhan penyeberangan lainnya, pembagian beban lalu lintas bisa dilakukan.
Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo menambahkan kemacetan panjang yang terjadi juga memperlihatkan bahwa sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan masih belum tertata secara optimal.
"Masalah utama bukan hanya lonjakan kendaraan, tetapi juga belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan ke pelabuhan serta belum seimbangnya pertambahan armada kapal dengan pembangunan dermaga, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kapasitas," ujar Khoiri dalam keterangannya.
Dia menjelaskan moda transportasi penyeberangan saat ini masih tergolong sangat terbuka dibandingkan moda transportasi lain. Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan meskipun belum memiliki tiket atau kode booking.
Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan datang secara bersamaan dalam jumlah besar tanpa pengaturan waktu yang jelas, sehingga pelabuhan tidak memiliki mekanisme yang cukup untuk mengendalikan arus kendaraan dari hulu.
Kapasitas Dermaga
Di sisi lain, pembangunan infrastruktur jalan yang semakin baik, termasuk keberadaan tol, turut mempercepat arus kendaraan menuju pelabuhan. Namun peningkatan kapasitas dermaga sebagai kelanjutan dari sistem transportasi tersebut belum berkembang secara seimbang.
Ketika kapasitas dermaga rendah, hal ini justru menjadi bottleneck dan menimbulkan antrean kendaraan yang panjang tidak dapat dihindari. Pada akhirnya antrean meluas keluar pelabuhan hingga ke jalan nasional.
"Jalan tol mempercepat kendaraan menuju pelabuhan, tetapi kapasitas dermaga belum bertambah secara seimbang. Ketika dermaga menjadi titik sempit, antrean kendaraan tidak terelakkan dan jalan menuju pelabuhan berubah menjadi ruang parkir kendaraan," jelas Khoiri.
Khoiri menegaskan bahwa kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama agar tidak terus berulang setiap tahun.
Pihaknya memandang perlunya langkah-langkah sistemik dalam pembenahan transportasi penyeberangan, antara lain melalui penambahan kapasitas dermaga, penataan sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan, penerapan kewajiban tiket atau kode booking sebelum kendaraan menuju pelabuhan, serta penyediaan buffer zone atau area penyangga kendaraan sebelum memasuki kawasan pelabuhan.
Selain itu, integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan dan pengembangan kapasitas pelabuhan juga menjadi hal penting agar sistem transportasi penyeberangan dapat berjalan lebih seimbang dan efisien.











































