PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) sukses mencatatkan kontrak baru senilai Rp 6,91 triliun hingga Juni 2026. Perolehan positif ini didorong oleh pengerjaan proyek strategis pada sektor industri penunjang konstruksi, infrastruktur, bangunan gedung, hingga ketahanan energi.
Corporate Secretary WIKA Ngatemin menilai capaian kontrak baru ini menjadi bukti nyata keberhasilan transformasi perusahaan. Langkah strategis yang dijalankan terbukti mampu memperkuat daya saing dan kualitas bisnis di tengah tantangan industri saat ini.
Selain itu, perolehan kontrak baru ini menunjukkan kepercayaan terhadap WIKA dalam mengerjakan proyek-proyek strategis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perseroan akan terus mengedepankan prinsip selektivitas dalam memperoleh proyek dengan fokus pada proyek dengan skema monthly payment dan memberikan nilai tambah, guna memastikan setiap pekerjaan diselesaikan secara tepat mutu, tepat waktu, dan tepat biaya. Melalui langkah tersebut,WIKA optimistis dapat terus mendukung penguatan konektivitas, peningkatan keselamatan infrastruktur, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan," ujarNgatemin pada keterangan tertulis, Selasa (4/8/2026).
Komposisi kontrak baru WIKA didominasi oleh sektor industri penunjang konstruksi sebesar Rp 2,25 triliun atau 32,6 persen. Posisi selanjutnya disusul oleh sektor infrastruktur dan gedun sebesar Rp 2,24 triliun. Ada pula kontribusi dari sektor energi dan Industrial Plant sebesar Rp 2,10 triliun, properti Rp 197,86 miliar, serta investasi Rp 124,63 miliar.
Perolehan kontrak tersebut berasal dari proyek pemerintah, BUMN, maupun swasta. Salah satu proyek andalan yang berhasil diraih perseroan pada bulan Juni adalah perbaikan di ruas Jalan Tol Cisumdawu. Proyek Penanganan Longsoran Slope 9-10 dan Perbaikan Alinyemen KM 177-KM 178 ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 294,54 miliar.
Pekerjaan di Tol Cisumdawu ini merupakan penanganan jangka panjang terhadap potensi pergerakan tanah. Area prioritasnya berada pada titik KM 177 Bojongtotor hingga KM 178 Mulyasari. Lingkup pekerjaan konstruksi mencakup pembangunan Borepile, rekonstruksi Mainroad, serta pembuatan Chuteway sebagai sistem pengaliran air.
Proyek perbaikan stabilitas lereng tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 9 Juli 2026 hingga 3 Maret 2027. Melalui perkuatan struktur ini, keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan saat melintasi ruas tol diharapkan semakin meningkat. Pelaksanaannya juga melibatkan tenaga kerja lokal demi memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar.










































