Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan masih ada lebih dari 7.000 titik kawasan kumuh di Indonesia. Dari ribuan kawasan tersebut memiliki tingkat keparahan yang berbeda.
AHY mengatakan dari total tersebut, sekitar 100 kawasan masuk kategori kumuh berat. Sementara sisanya masuk dalam kategori sedang dan ringan.
"Ada lebih dari 7.000 titik kawasan kumuh di Indonesia. Tentu dengan berbagai klasifikasi. Yang kelas berat itu sekitar 100. Ada kelas sedang, ada kelas ringan," ujar AHY dalam acara Urban Climate Forum 2026 di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
AHY menjelaskan kondisi permukiman kumuh ini akan menimbulkan persoalan lain. Misalnya muncul berbagai penyakit. Hal ini terjadi karena kurang keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang buruk.
Kemudian terkait persoalan ekonomi. Di mana, kualitas hidup yang rendah turut membuat akses terhadap lapangan pekerjaan menjadi lebih sulit.
"Sudah pasti banyak yang sakit, karena hidupnya tidak mendapatkan air bersih, sanitasinya buruk, stunting terjadi, penyakit menular terjadi, ispa, penyakit kulit, dan lain-lain juga menjadi keseharian mereka. Lapangan pekerjaan sulit karena tidak berkualitas hidupnya," terangnya.
AHY menambahkan penanganan kawasan kumuh tersebut harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi.
Di mana revitalisasi tidak cukup hanya memperbaiki kondisi fisik permukiman, tetapi juga harus dibarengi dengan penyediaan fasilitas publik yang memadai.
"Jadi kalau kita mengubah dengan pendekatan yang terpadu, terintegrasi, termasuk didukung oleh fasilitas publik yang memadai," sambung AHY.
(hrp/hns)