Waduk Jatigede Terancam Kering, Luas Terdampak Setara 360 Lapangan Bola

Waduk Jatigede Terancam Kering, Luas Terdampak Setara 360 Lapangan Bola

Heri Purnomo - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2026 20:41 WIB
Citra Satelit Waduk Jatigede
Penampakan citra satelit Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat, yang terdampak kekeringan.Foto: Dok. Badan Informasi Geospasial
Jakarta -

Badan Informasi Geospasial (BIG) menyatakan kondisi kekeringan berdampak terhadap perubahan tutupan genangan di Waduk Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Area yang sebelumnya tertutup air berubah menjadi daratan terbuka hingga mencapai 260,01 hektare pada September 2026.

Direktur Pemetaan Tematik BIG Gatot Haryo Pramono menjelaskan berdasarkan pemantauan citra satelit yang dianalisis melalui Piksel, memperlihatkan perubahan area yang sebelumnya tertutup air menjadi area terbuka di sisi selatan waduk.

Perubahan tersebut terekam dalam rangkaian citra satelit pada 9 Juni, 4 Juli, 8 Agustus, dan 7 September 2026. Pada awal periode pengamatan, genangan masih mendominasi area yang diamati.

"Memasuki Juli, area terbuka mulai terlihat di sejumlah tepian. Perubahan semakin jelas pada Agustus dan September, ketika daratan yang sebelumnya tertutup air tampak semakin luas," ujar Gatot dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026)..

Menurut Gatot berdasarkan analisis citra, luas area yang mengalami perubahan dari kondisi tergenang menjadi area terbuka mencapai 138,3 hektare pada Juli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Luasan tersebut meningkat menjadi 252,3 hektare pada Agustus dan mencapai 260,01 hektare pada September 2026, jika dibandingkan dengan kondisi pada Juni.

"Luas 260 hektare tersebut setara dengan sekitar 360 lapangan sepak bola," terangnya.

Namun, Gatot menekankan, angka tersebut tidak menunjukkan bahwa seluruh Waduk Jatigede mengalami penyusutan dengan luasan yang sama. Pengukuran dilakukan secara khusus pada area pengamatan di sisi selatan waduk.

ADVERTISEMENT

Citra satelit memperlihatkan perubahan tutupan permukaan, tetapi untuk menentukan penyebab dan kondisi hidrologis waduk secara keseluruhan diperlukan data pendukung seperti tinggi muka air, volume tampungan, curah hujan, serta debit air yang masuk dan keluar waduk.

Pemanfaatan citra multitemporal melalui Piksel memungkinkan perubahan permukaan bumi diamati dari waktu ke waktu secara lebih mudah. Dengan membandingkan citra dari beberapa tanggal, lokasi perubahan dapat diketahui sekaligus diukur luasnya.

Teknologi ini dapat menjadi salah satu sumber informasi pendukung untuk memantau dinamika waduk dan sumber daya air, terutama selama periode kemarau.

"Pengamatan Waduk Jatigede juga menunjukkan bagaimana data penginderaan jauh dapat digunakan untuk mengubah perubahan yang terlihat dari atas menjadi informasi yang lebih terukur. Melalui Piksel, BIG terus membuka pemanfaatan data satelit untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pemantauan sumber daya air, kebencanaan, perubahan tutupan lahan, hingga kondisi lingkungan di berbagai wilayah Indonesia," jelas Gatot.

(hrp/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads