Layanan air minum perpipaan di Jakarta ditargetkan mencapai cakupan 100% pada 2029. Untuk mengejar target tersebut, kapasitas produksi air direncanakan meningkat menjadi 32.950 liter per detik dan jaringan perpipaan diperluas hingga 16.234 kilometer.
Perluasan jaringan dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Langkah ini juga berkaitan dengan upaya menekan penurunan muka tanah dan meningkatkan ketahanan Jakarta terhadap perubahan iklim.
Direktur Utama PAM JAYA Arief Nasrudin mengatakan pengembangan layanan air perpipaan membutuhkan investasi, terutama untuk merevitalisasi jaringan yang sebagian besar telah berusia lebih dari dua dekade.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Revitalisasi jaringan diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mengurangi non-revenue water (NRW) atau kehilangan air.
"Air bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan fondasi bagi kehidupan, kesehatan, lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi," ujar Arief Nasrudin.
Pengembangan jaringan air tersebut turut dibahas Arief dalam Private CEO Roundtable dalam rangkaian 81st UN General Assembly di New York. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang diminta memaparkan perspektif pengelolaan air minum perpipaan.
Forum tersebut merupakan undangan dari Ministry of Foreign Affairs Uni Emirat Arab (UAE) sebagai penyelenggara. Pertemuan CEO dan pemimpin bisnis global itu membahas investasi sektor air yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kesehatan, lingkungan, ketahanan pangan, hingga pembangunan infrastruktur.
Selain pengembangan jaringan, peluang bisnis baru di sektor air juga mulai dijajaki. Salah satunya pemanfaatan air untuk sistem water cooling pada data center.
Penjajakan tersebut dilakukan untuk melihat potensi penyediaan kebutuhan air bagi industri berbasis teknologi dan infrastruktur digital yang berkembang.
Selain itu, dilakukan penjajakan creative financing dengan sejumlah pemimpin bisnis sebagai alternatif untuk mendukung kebutuhan investasi dan pengembangan infrastruktur air.
Dari sisi operasional, pengelolaan layanan air juga mulai didukung sejumlah teknologi, seperti smart water meter, integrated billing system, dan enterprise resource planning (ERP). Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi data dalam pengambilan keputusan.
Pengembangan layanan air perpipaan ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan Jakarta yang memiliki aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk yang terus berkembang.
Simak juga Video 'Upaya Pemprov Jatim Atasi Krisis Air di Ponorogo':
(fdl/fdl)









































