RI Mau Gandeng China Bangun Kereta di Kalimantan

RI Mau Gandeng China Bangun Kereta di Kalimantan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 27 Sep 2026 21:45 WIB
Bendera China
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Indonesia dikabarkan tengah mempertimbangkan investasi dari China untuk membangun jaringan kereta api sepanjang 2.772 km untuk wilayah Kalimantan atau tepatnya proyek Trans Kalimantan.

Media asal Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), dalam laporan terbarunya dikutip Minggu (27/9/2026), melaporkan Pemerintah Indonesia sedang menjajaki potensi investasi asing untuk membangun jaringan kereta api Trans-Kalimantan.

Hal ini berdasarkan pernyataan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi yang pernah mengatakan China dan Rusia telah menyatakan minat pada proyek tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam catatan detikcom, pada Agustus 2025 lalu Dudy pernah mengungkapkan investor dari China dan Rusia menyatakan minat untuk membangun jalur Kereta Trans Kalimantan. Saat ini, pemerintah masih menjajaki peluang kerja sama dengan kedua negara tersebut.

ADVERTISEMENT

Pengembangan Trans Kalimantan sendiri jadi sorotan usai disebut-sebut bakal dipercepat oleh Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis 30 Juli 2026.

"Tapi sudah kita jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri, di antaranya China dan Rusia sudah kita jajaki," ujar Dudy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026) yang lalu.

Kembali ke laporan SCMP, para analis mencatat setiap perjanjian komersial proyek perkeretaapian dengan Indonesia akan dinegosiasikan lebih hati-hati oleh pemerintah dan pemangku kepentingan di China. Mengingat tekanan keuangan yang menghambat proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dan juga tantangan yang menghambat proyek metro bawah tanah yang diusulkan di provinsi wisata Bali yang padat penduduk.

Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung sendiri dibangun sepanjang 142,8 km oleh kontraktor China di pulau Jawa yang padat penduduk, ini menjadi bukti kemampuan teknis China yang kuat.

"Saya pikir Tiongkok dapat menawarkan Indonesia ekosistem kereta api yang lengkap, termasuk pembiayaan, keahlian teknik, teknologi, dan personel yang berpengalaman," kata Siwage Dharma Negara, peneliti senior di ISEAS - Yusof Ishak Institute Singapura.

Jaringan Trans-Kalimantan yang diusulkan akan berupaya menghubungkan berbagai daerah di wilayah tersebut sebagai bagian dari rencana ekspansi jangka panjang hingga tahun 2045. Wilayah yang kaya sumber daya alam ini juga merupakan rumah bagi Nusantara, ibu kota baru negara yang direncanakan, tetapi belum memiliki jaringan kereta api umum yang beroperasi.

Investasi Makin Ketat

Sementara itu, China sendiri sebetulnya menyesuaikan strategi investasi internasionalnya. Setelah bertahun-tahun memberikan pinjaman luar negeri yang besar kepada negara-negara berkembang, kini China nampaknya mulai memperketat pendekatannya terhadap pembiayaan proyek infrastruktur.

Sebuah laporan oleh Pusat Keuangan Hijau dan Pembangunan di Universitas Fudan menyebutkan China akan melakukan pergeseran investasi ke arah proyek-proyek yang lebih kecil.

Sementara itu, masalah pada proyek metro bawah tanah di Bali senilai US$ 20 miliar juga dapat menjadi ganjalan investasi China. Platform informasi online Bali Discovery pada bulan Agustus disebut melaporkan pemerintah Bali membatalkan rencana proyek tersebut.

China Railway Construction Corporation (CRCC), yang membantu membangun jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung, bermitra dengan perusahaan lokal untuk proyek tersebut.

David Feng, seorang spesialis kereta api independen di China mengatakan batalnya proyek tersebut bisa berdampak pada perencanaan investasi CRCC mendepan di Indonesia. "Jelas hal itu berdampak pada CRRC," katanya.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads