Uni Emirat Arab Butuh Banyak Tenaga Medis, Mau Coba?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 24 Des 2021 10:41 WIB
One woman, female doctor in full protective suit in home inspection.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/South_agency
Jakarta -

Pemerintah Persatuan Emirat Arab (Uni Emirat Arab/UEA) menawarkan kerja sama penempatan tenaga kerja profesional dan pemagangan kepada Pemerintah Indonesia. Adapun lowongan yang dibuka untuk perawat, paramedis, dan asisten kesehatan dengan standar kualifikasi yang telah ditetapkan negara UEA.

Tawaran atau peluang kerja tersebut disampaikan oleh CEO National Ambulance, Ahmed Alhajeri. Informasi peluang pekerjaan tersebut disampaikan kepada Direktur Bina Penyelenggaraan Pelatihan Vokasi dan Pemagangan Kemnaker, Muhammad Ali Hapsah di Dubai, Selasa (22/12) yang lalu.

"Mereka (UEA) perlu banyak tenaga kerja perawat dan paramedis. Ini bisa dikerjasamakan nantinya, baik skema penempatan maupun pemagangan, " ujar Ali Hapsah dalam keterangan tertulis, Kamis (23/12/2021).

Ada Dua Opsi

Ali menjelaskan, untuk menangkap peluang kerja dari UEA tersebut, pihaknya memiliki dua opsi. Pertama, untuk meningkatkan standar tenaga kerja yang dibutuhkan UEA, pihaknya menawarkan kerja sama peningkatan kompetensi para calon tenaga kerja agar mampu memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan sebelum penempatan.

"Keterampilan yang perlu ditingkatkan adalah selain kemampuan dasar Bahasa Inggris, juga kemampuan teknis. Setelah sesuai kriteria yang diinginkan, Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) tersebut baru di bawa ke sini, " kata Ali.

Opsi kedua lanjut Ali, yakni merekrut tenaga kerja yang secara persyaratan dasar sudah terpenuhi, tetapi belum sampai pada level yang diharapkan di negara UEA. Para tenaga kerja itu dibawa ke UEA sebagai peserta magang hingga kompetensinya mencapai level yang dibutuhkan.

"Ketika sudah mencapai level yang diinginkan, barulah dikonversi menjadi pekerja permanen. Tadi kami sudah sepakat, dan meminta Ambassador untuk membicarakan dengan Menteri Kesehatan di UEA untuk merealisasikan rencana kerja sama tersebut," ujarnya.

Ali mengatakan langkah selanjutnya tinggal Dubes Indonesia di UEA untuk mengkomunikasikan rencana kerja sama ini kepada pihak terkait di UEA agar segera mungkin ditindaklanjuti melalui skema pemagangan atau penempatan tenaga kerja.

"Prinsipnya ini menjadi bagian yang perlu dibicarakan lebih lanjut di Indonesia karena baik skema magang maupun penempatan, keduanya menggunakan visa kerja. UEA tidak kenal visa training. Nah, kita perlu arahan pimpinan di Kemnaker terkait hal ini, magang dengan menggunakan visa kerja," ujar Ali.

(ara/ara)