Indosurya: Profit Taking untuk Sementara

Indosurya: Profit Taking untuk Sementara

- detikFinance
Senin, 13 Des 2010 07:38 WIB
Jakarta - Menutup akhir pekan, IHSG tidak berdaya digempur aksi profit taking dari investor. Akibatnya melemah 38,39 poin (1,01%) di level 3.747,71. Total volume perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencapai 9,24 miliar unit saham dengan nilai total Rp 14,36 triliun. Sebanyak 85 saham naik, 81 saham turun, dan 152 saham stagnan. LQ-45 melemah 1,21% ke 671,51 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,17% ke 533,44.

Indeks sektoral saham mayoritas mencatatkan penurunan dipimpin sektor industri dasar mencapai 1,81% ke level 395,69 disusul indeks sektor infrastruktur turun 1,61% ke level 818,20; dan keuangan turun 1,44% ke level 495,37. Sementara itu, indeks perkebunan turun 1,28% ke level 2.297,89; indeks manufaktur turun 0,98% ke level 839,52; indeks aneka industri turun 0,98% ke level 962,76; indeks properti turun 0,93% ke level 204,19; indeks pertambangan turun 0,68% ke level 3.120,07; dan indeks konsumer turun 0,39% ke level 1.134,78. Sementara itu, indeks perdagangan naik 0,90% ke level 462,45.

Indeks MBX dan DBX ditutup turun. Meskipun mayoritas melemah namun, IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 2,96 triliun dengan total pembelian asing Rp 5,20 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,25 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 600 ke Rp 29.050, Indo Citra Finance (INCF) naik Rp 200 ke Rp 3.200, Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 200 ke Rp 16.300, Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 100 ke Rp 6.900, Media Nusantara Citra (MNCN) naik Rp 100 ke Rp 880, Matahari Putra Prima (MPPA) naik Rp 90 ke Rp 1.830, AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 80 ke Rp 1.790, Multipolar (MLPL) naik Rp 70 ke Rp 350, dan Clipan Finance Ind. (CFIN) naik Rp 60 ke Rp 750.

Keinginan IHSG untuk kembali menembus rekor terbarunya pada perdagangan Jumat (10/12) tertahan. Menutup akhir pekan lalu, para investor mengambil kesempatan profit taking setelah indeks menembus rekor. Secara teknikal, IHSG sudah menembus area overbought . Bahkan sebelum libur 1 Muharam pun, IHSG sudah mendekati area ini. Tetapi, masih dipaksa naik hingga area tersebut berhasil ditembus yang akhirnya IHSG tidak kuat melanjutkan kenaikannya. Berbagai sentimen digunakan investor untuk aksi profit taking .

Pelemahan di bursa Asia turut mendukung turunnya IHSG. Keluarnya data yang dirilis BPS China menunjukkan pencapaian surplus perdagangan senilai US$ 22,9 miliar pada November. Ekspor naik 35% dari tahun sebelumnya mencapai US$ 153,3 miliar dan tingkat impor naik 38% menjadi US$ 130,4 miliar. Bahkan tingkat harga konsumen tahunan China mungkin naik ke 5,1% pada November, tertinggi dalam 28 bulan. Kondisi yang sama juga terjadi di Jepang dimana PDB Jepang tumbuh 4,5%, lebih cepat dari tahun lalu sebesar 3,9%. Kondisi akan memicu inflasi dan penguatan mata uang. Bila inflasi naik maka kemungkinan suku bunga akan dinaikkan dan bila nilai mata uangnya naik maka eksportir yang terkena imbas negatifnya.

Kondisi sebaliknya pada bursa AS, mencatatkan kenaikan yang dipicu oleh membaiknya data tingkat kepercayaan konsumen dimana indeks kepercayaan konsumen Desember naik ke 74,2 dari posisi November di 71,6. Angka defisit perdagangan AS pun pada Oktober turun 13% ke US$ 38,7 miliar, lebih rendah dari perkiraan. Bursa Eropa bergerak bervariasi. Beberapa bursa yang mengalami penurunan antara lain, Yunani, Irlandia, Austria, dan Italia.

Dari dalam negeri, meski IHSG melemah namun, total volume dan nilai transaksi justru tercatat naik. Bahkan asing tercatat net buy . Aksi jual oleh investor lokal digunakan sebagai kesempatan investor asing untuk akumulasi beli yang terlihat dari nilai transaksi kedua pihak. Transaksi crossing BBNI di pasar negosiasi turut mempengaruhi nilai perdagangan. Arah pergerakan IHSG hari ini tergantung dari pembukaan bursa Asia dan berita yang menyertainya. Investor mungkin sementara waktu akan melakukan aksi profit taking melihat harga-harga saham sudah overbought dan menunggu kepastian kenaikan suku bunga China serta kebijakan Jepang untuk menahan
laju pertumbuhan ekonomi yang berjalan lebih cepat dari perkiraan. Investor menantikan data penjualan ritel, CPI, dan perkembangan produksi industri di China.

Pada perdagangan Senin (13/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.698-3.723 dan resistance 3.779-3.809. IHSG membentuk candle hanging man dan tercipta pola bearish engulfing sekaligus membentuk siklus V dimana penguatan IHSG telah menyentuh batas tertentu sehingga terjadi reversal koreksi. Penguatan MACD mulai terbatas. RSI gagal melanjutkan menuju area overbought. William's %R, dan Stochastic mulai berbalik arah setelah menembus area overbought.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads