Indeks sektoral saham mayoritas mencatatkan penurunan dipimpin sektor industri keuangan mencapai 3,35% ke level 478,78 disusul indeks sektor konsumer turun 2,41% ke level 1.107,42; dan manufaktur turun 1,48% ke level 827,08. Sementara itu, indeks aneka industri turun 1,27% ke level 950,49; indeks infrastruktur turun 0,73% ke level 812,23; indeks pertambangan turun 0,43% ke level 3.106,55; indeks perkebunan turun 0,35% ke level 2.289,81; indeks industri dasar turun 0,34% ke level 394,35; dan indeks properti turun 0,16% ke level 203,87. Sementara itu, indeks perdagangan naik 0,39% ke level 464,25.
Indeks MBX ditutup turun. Sebaliknya DBX ditutup naik. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 397,26 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,49 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,89 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG masih melanjutkan penurunannya. Pergerakan ini berlawanan dengan pergerakan bursa-bursa di kawasan Asia Pasifik yang mayoritas ditutup naik. Aksi profit taking masih terjadi sehingga IHSG melemah. Bursa-bursa di kawasan Asia Pasifik mayoritas mengalami penguatan, kecuali Filipina, Thailand, dan Pakistan, di tengah kekhawatiran akan naiknya suku bunga China yang rencananya akan diumumkan pada akhir pekan ini.
Bursa Asia Pasifik menguat perlahan karena pasar tengah mencerna pengetatan kebijakan terbaru China dan rencana reformasi bank di Australia. Seperti halnya, Nikkei 225 naik ditopang saham-saham komoditas setelah kenaikan harga tembaga mendekati rekor tertinggi dan ditunjang naiknya data impor China. KOSPI naik karena dipicu oleh keuntungan di bank namun, hanya naik terbatas karena kehati-hatian investor akan kenaikan inflasi China. Bursa China sendiri naik setelah data menunjukkan perkiraan inflasi China naik ke level tertinggi dalam 28 bulan terakhir dan bank sentral menaikkan persyaratan pinjaman untuk ketiga kalinya dalam sebulan. Bursa
Australia naik, ditopang saham perbankan setelah peraturan pemerintah tentang reformasi perbankan.
Bursa Eropa semalam naik, ditengah kekhawatiran krisis utang, karena optimisme terhadap data AS dan China yang akan mendorong risk appetite investor dan berharap bahwa China mungkin tidak menaikkan suku bungadalam waktu dekat. Sementara itu, bursa AS juga mengalami penguatan tipis seiring dengan dilakukannya pemungutan suara Senat AS atas kesepakatan pemotongan pajak Pemerintah dengan pihak Republik. Selain itu, investor juga masih menunggu hasil pertemuan The Fed (FOMC).
Akibatnya bursa AS bergerak mixed dengan Nasdaq mengalami penurunan. Pelemahan IHSG tidak terhindari. Bahkan pencatatan saham perdana BSIM tidak mampu menguatkan laju IHSG. Saham BSIM bergerak di sektor perbankan dan dicatatkan di papan utama. BSIM melepas sekitar 1,6 miliar saham. Saham BSIM menguat 20% atau naik 30 poin ke harga Rp150.
IHSG sendiri belum ada sentimen dalam negeri yang signifkan mempengaruhi laju kenaikannya. Pasar masih wait and see terhadap perkembangan data dan berita yang ada. Sepertinya pasar perlu ada koreksi sehat sementara, sehingga di akhir bulan bisa mendapatkan momentum window dressing .
Pada perdagangan Selasa (14/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.637-3.665 dan resistance 3.735-3.779. IHSG diperkirakan masih dalam tren pelemahan. Pola candle yang terjadi juga mengkonfirmasi adanya koreksi dan belum ada tanda-tanda reversal. Penguatan MACD mulai terbatas dan mengindikasikan adanya pola dead cross . RSI gagal melanjutkan menuju area overbought dan bergerak turun mendekati area oversold. William's %R, dan Stochastic mulai berbalik arah menormalkan posisi technical dengan bergerak turun menjauhi areaoverbought.
(qom/qom)











































