Indeks sektoral saham mayoritas mencatatkan penurunan dipimpin sektor industri perkebunan mencapai 2,13% ke level 2.224,46 disusul indeks sektor konsumer turun 1,49% ke level 1.078,65; dan keuangan turun 1,05% ke level 476,96. Sementara itu, indeks manufaktur turun 0,81% ke level 815,29; indeks properti turun 0,79% ke level 204,27; dan indeks pertambangan turun 0,75% ke level 3.061,51. Selain itu, indeks infrastruktur turun 0,74% ke level 805,46; indeks industri dasar turun 0,57% ke level 392,20; dan indeks perdagangan turun 0,20% ke level 465,22; dan indeks aneka industri turun 0,12% ke level 944,30.
Indeks MBX dan DBX ditutup turun. IHSG masih mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,09 triliun dengan total pembelian asing Rp 5,71 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 6,80 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG masih melanjutkan pelemahannya pada perdagangan kemarin, meskipun terdapat sentimen positif dari kenaikan bursa AS. Selain itu, berkurangnya net sell asing pada sehari sebelumnya yang diharapkan bisa berimbas positif justru tidak terjadi. Asing malah mencatatkan nett sell yang cukup besar hingga lebih dari Rp 1 triliun. Di tengah pelemahan tersebut, volume dan nilai transaksi saham justru menunjukkan peningkatan.
Secara teknikal pun, IHSG mengindikasikan akan adanya reversal positif namun, hal itu tidak terjadi dan akhirnya ditutup melemah. Posisi IHSG hampir sama dengan posisi pada pertengahan November 2010 (15/11) dan 6 hari menjelang akhir November (24/11), dengan ditutup di bawah level 3.660. Setelah itu, barulah mencatatkan kenaikan. Hal yang sama juga diharapkan terjadi pada perdagangan hari ini yang diharapkan bisa bergerak positif untuk melanjutkan penguatan. Tetapi, sepertinya IHSG masih akan menyimpan amunisi dengan bergerak turun hingga batas tertentu membentuk break and reversal sehingga momentum kenaikan di akhir bulan akan tercapai.
Kali ini, IHSG melemah tidak sendirian. Bursa saham Asia lainnya juga mengalami pelemahan. Berbagai sentimen positif dan negatif saling tarik menarik sehingga membuat investor ragu.
Tampaknya sentimen positif dari data ritel dan kebijakan The Fed dengan QE-2 nya hanya berlangsung sesaat. Berlanjutnya pelonggaran moneter dan dipertahankannya suku bunga acuan rendah juga akhirnya direspon negatif karena mengindikasikan pemulihan ekonomi masih jauh dari harapan. Apalagi kebijakan ini dirasa belum cukup untuk mengatasi pengangguran.
Begitu pun dengan data-data Jepang yang direspon negatif. Hasil survei kepercayaan bisnis Jepang (tankan) yang akan dirilis Bank of Japan/BOJ diperkirakan menurun untuk pertama kalinya dalam 7 kuartal terakhir karena penguatan Yen yang masih berlanjut dan outlook pertumbuhan global yang masih suram. Desember ini indeks kepercayaan bisnis manufaktur diperkirakan turun 5 poin ke level +3, sedangkan indeks nonmanufaktur diramalkan turun 2 poin, menjadi nol. Perekonomian Jepang pada Q4-10 diprediksi melemah seiring dengan lambannya ekspor, turunnya produksi perusahaan, dan berakhirnya stimulus Pemerintah. Investor juga khawatir terhadap Moody's yang kemungkinan akan turunkan peringkat utang Spanyol dan AS. Pasar lebih banyak mendapat sentimen negatif sehingga investor cenderung melepas barang danwait and see untuk kembali masuk pada saat momen yang sesuai.
Pada perdagangan Kamis (16/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.576-3.617 dan resistance 3.695-3.731. Candle IHSG telah terbentuk hammer yang biasanya mengindikasikan semakin berkurangnya kekuatan daya jual untuk menekan pasar sehingga diharapkan akan adanya reversal selanjutnya. MACD setelah membentuk dead cross masih bergerak melemah. RSI gagal mencoba bergerak menuju area overbought. William's %R, dan Stochastic masih bergerak turun mendekati area oversold. Penurunan ini membuat mayoritas harga saham-saham telah terdiskon sehingga investor bisa memburu saham-saham yang sudah turun dalam.
(qom/qom)











































