Indeks sektoral saham mayoritas mencatatkan penurunan dipimpin sektor aneka industri mencapai 4,83% ke level 898,65 disusul indeks sektor manufaktur turun 3,28% ke level 788,54; dan perkebunan turun 3,22% ke level 2.152,87. Sementara itu, indeks konsumer turun 3,15% ke level 1.044,64; indeks keuangan turun 2,66% ke level 464,29; dan indeks pertambangan turun 1,86% ke level 3.004,60. Selain itu, indeks industri dasar turun 1,85% ke level 384,94; indeks perdagangan turun 1,79% ke level 456,88; indeks infrastruktur turun 1,16% ke level 796,14; dan indeks properti turun 0,89% ke level 202,45.
Indeks MBX dan DBX masih ditutup turun. IHSG masih mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,08 triliun dengan total pembelian asing Rp 1,51 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,58 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awan hitam masih menutupi BEI. Kondisi global yang direspon negatif membuat IHSG masih berat untuk positif. Berbagai sentimen negatif masih lebih besar dari sentimen positifnya. Investor masih mencermati kondisi Eurozone pasca pengumuman akan diturunkannya peringkat utang Spanyol oleh Moody's dan menanti data inflasi Uni Eropa pada bulan November serta klaim tenaga kerja Uni Eropa untuk Q3-10.
Dari Asia, pertama Bank Sentral India (BSI ) memutuskan mempertahankan tingkat suku bunganya di 6,25%, dan 5,25% untuk acuan repo. Padahal, suku bunga acuan ini telah naik hingga 6x dalam tahun ini yang menunjukkan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Dimungkinkan India kembali menaikkan bunga acuan setidaknya pada Januari untuk menahan tekanan inflasi.
Kedua, Imbal hasil obligasi Jepang bertenor 10 tahun hampir menyentuh level tertingginya dalam 7 bulan terakhir. Kenaikan ini seiring ekspektasi akan membaiknya data perumahan AS yang akan dirilis pekan ini.
Ketiga, Pernyataan Bank Dunia (WB) yang merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6% menjadi 5,9% juga direspon negatif. WB menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai melambat pada Q3-10 karena gangguan yang berhubungan dengan cuaca terhadap pertanian, pertambangan, dan penggalian.
Pada perdagangan semalam, bursa saham Eropa mayoritas ditutup positif kecuali Inggris, Itali, dan Portugal. Hal ini seiring dengan pertemuan para pemimpin Uni Eropa yang sedang membahas proses pemulihan di kawasan Eurozone. Dukungan proses bailout datang dari Jerman, tapi Jerman menawarkan dengan bunga yang tinggi. Jerman juga mengajukan opsi lain berupa pengetatan likuiditas namun, hal ini diperkirakan bisa memicu krisis finansial baru.
Di sisi lain, Spanyol optimis ekonominya masih kuat sehingga tidak membutuhkan bailout . Jika Spanyol menerima bailout maka akan memberikan pesan yang besar kepada investor bahwa jika ekonominya rapuh sehingga zona Euro mungkin merupakan tempat yang berisiko untuk melakukan bisnis. Bursa AS mayoritas juga menguat setelah keluarnya data-data positif beberapa perusahaan yang mencatatkan peningkatan kinerja dan penurunan drastis klaim pengangguran serta naiknya permintaan rumah. Selain itu, juga telah dicapai kesepakatan kebijakan pemotongan pajak untuk lebih meningkatkan perekonomian AS. Diharapkan data-data positif ini setidaknya bisa berimbas positif bagi pergerakan bursa Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (17/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.492-3.532 dan resistance 3.634-3.697. Ternyata candle IHSG kembali membentuk hammer sehingga harapan untuk reversal tidak terjadi. Dengan menggunakan simulasi fibonacci arcs , terlihat IHSG sedang membentuk pola "W" sehingga IHSG diperkirakan akan bergerak menuju support 1 (3.532) sebelum break and reversal . Posisi ini mengulang pola yang pernah terjadi pada akhir November. Tetapi, bila pada hari ini terbentuk candle marubozu atau bullish harami maka merupakan sinyal adanya penguatan. MACD masih bergerak melemah. RSI, William's %R, dan Stochastic masih bergerak turun mendekati area oversold.
(qom/qom)











































