Indeks sektoral saham bergerak mixed. Kenaikan dipimpin sektor properti mencapai1,48% ke level 205,44 disusul indeks sektor keuangan naik 1,08% ke level 469,30; infrastruktur naik 0,91% ke level 803,42; indeks aneka industri naik 0,65 ke level 904,51; dan indeks perdagangan naik 0,63 ke level 459,76.
Di sisi lain, indeks perkebunan turun 1,44% ke level 2.121,95; indeks pertambangan turun 0,92% ke level 2.976,94; dan indeks konsumer turun 0,73% ke level 1.036,97. Selain itu, indeks industri dasar turun 0,47% ke level 383,15 dan indeks manufaktur turun 0,25% ke level 786,61. Indeks MBX dan DBX kompak ditutup naik. IHSG masih mengalami net foreign sell sebesar Rp 411,45 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,70 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,11 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah 5 hari berturut mengalami pelemahan, membawa IHSG kembali ke posisi seperti pada pertengahan pekan ke-3 Oktober'10, pada akhir pekan lalu IHSG mulai bergerak menguat. Meski menguat, asing masih mencatatkan nett sell . Nilai transaksi tercatat mengalami kenaikan dibandingkan sehari sebelumnya namun, tidak diikuti oleh total volume yang justru tercatat turun. Sebelumnya, positifnya mayoritas bursa AS dan Eropa berimbas positif terhadap pergerakan IHSG.
Naiknya bursa AS seiring rilis data ekonomi yang lebih baik dari ekspektasi dan upgrade perkiraan pertumbuhan GDP AS di 2011 menjadi 3,1%; penurunan data initial jobless claims AS November menjadi 420 ribu; dan data pembangunan rumah baru naik 3,9% MoM. Rilis Moodyβs yang menaikkan outlook sektor perbankan Indonesia menjadi stabil juga mempengaruhi positifnya IHSG. Selain itu, juga adanya technical rebound karena harga saham-saham telah terdiskon.
Tetapi, revisi Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6% menjadi 5,9% dan rencana Pemerintah membatasi BBM bersubsidi pada akhir Q1-11, dan juga penurunan peringkat utang untuk Irlandia jadi Baa1 dari Aa2 (turun 5 peringkat) oleh Moody's membawa kekhawatiran pasar sehingga IHSG tidak terlalu kencang lajunya.
Bursa saham Asia pekan lalu ditutup mixed. Nikkei melemah ditengah berita kenaikan sektor properti yang didorong oleh skema jual-beli aset dari Bank of Jepang. KOSPI naik tipis dipicu isu masuknya dana AS pada perbankan. Bursa Australia ASX 200 melemah dipicu penurunan saham-saham pertambangan. Hang Seng naik dan Shanghai turun di tengah kekhawatiran pengetatan lebih lanjut di Cina.
Dari bursa saham AS, DJIA kembali turun seiring dengan kekecewaan atas hasil Euro Summit. Tetapi, S&P 500 dan Nasdaq justru menguat yang ditopang oleh kenaikan saham telekomunikasi dan cenderung bergerak mixed menyusul keputusan Moody's yang kembali memangkas peringkat utang Irlandia dengan outlook ekonomi negatif. Begitupun dengan bursa saham Eropa yang mayoritas bergerak turun. Sedangkan yang naik, ialah bursa Yunani, Polandia, dan Austria. Turunnya mayoritas bursa saham Eropa juga dikarenakan naiknya yield obligasi Irlandia dan Spanyol.
Obligasi tenor 10 tahun Irlandia, naik 35 bps dari pekan sebelumnya menjadi 8,64% dan yield obligasi tenor 10 tahun milik Spanyol naik 12 bps menjadi 5,56%. Selain itu, Spanyol juga diduga akan diturunkan menjadi negatif menyusul permasalahan utang yang belum selesai. Pemangkasan rating tersebut memberikan efek negatif bagi Eurozone. Pasar berharap besar terhadap efek positif disetujuinya kebijakan pajak AS, langkah Eurozone atasi krisis utang, dan adanya technical rebound .
Pada perdagangan Senin (20/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.508-3.545 dan resistance 3.610-3.639. Ternyata candle IHSG break and reversal sebelum menyentuh support 1 (3.532) pada perdagangan Jumat (17/12) dengan membentuk bullish harami di posisi bawah. Ini merupakan awal yang bagus untuk bergerak naik. Bila IHSG sedang membentuk pola "W" maka diperkirakan tren kenaikan telah dimulai. Diharapkan pada sisa perdagangan menjelang akhir tahun, IHSG mendapat sentimen positif sehingga terjadi tren kenaikan. MACD masih bergerak melemah. RSI, William's %R, dan Stochastic berusaha reversal menjauhi area oversold. Dengan asumsi pola tren kenaikan akan sama seperti tren kenaikan di awal Desember maka bukan tidak mungkin IHSG di akhir perdagangan tahun ini ditutup mendekati level 3.800.
(qom/qom)











































