Indeks sektoral saham bergerak mixed dengan penguatan yang dipimpin sektor aneka industri sebesar 1,40% ke level 950,70 disusul indeks sektor pertambangan naik 1,09% ke level 3.181,65; indeks perkebunan naik 0,73% ke level 2.197,73; indeks infrastruktur naik 0,45% ke level 805,27; indeks industri dasar naik 0,43% ke level 383,03; indeks manufaktur naik 0,39% ke level 803,84; dan indeks keuangan naik 0,28% ke level 461,11. Di sisi lain, penurunan dipimpin indeks properti turun 0,57% ke level
198,82; indeks perdagangan turun 0,56% ke level 460,52; dan indeks konsumer turun 0,39% ke level 1.054,11.
Indeks MBX menguat namun, DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 565,54 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,28 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 712,27 miliar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.500 ke Rp 51.850, Astra International (ASII) naik Rp 950 ke Rp 53.500, Bayan Resources (BYAN) naik Rp 700 ke Rp 17.100, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 600 ke Rp 39.000, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 500 ke Rp 24.850, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 450 ke Rp 21.650, Bank Ekonomi Raharja (BAEK) naik Rp 250 ke Rp 2.250, Mayora Indah (MYOR) naik Rp 250 ke Rp 10.850, dan HM. Sampoerna (HMSP) naik Rp 200 ke Rp 28.400.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data China Industrial Profit menunjukan lonjakan profit dari periode Januari hingga November 2010 dimana naik 49,9% jadi sekitar 3,8 triliun Yuan. Data tersebut menjadi pemicu pertumbuhan sektor industri China sehingga prospek eksportir di luar negaranya termasuk Indonesia menjadi cerah. Rilis data ini mampu menutupi sentimen negatif dari kenaikan suku bunga China 25 bps ke level 5,8% yang sebelumnya dikhawatirkan justru akan mengurangi impor komoditas China dari pasar domestik.
Selain data China, kenaikan harga komoditas dipicu oleh kenaikan harga batu bara yang naik ke level US$ 124,75/metrik ton berdasarkan harga minggu di Newcastle. Begitu juga dengan harga CPO yang menyentuh US$ 1,200/ton seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat naik menyentuh level di atas US$ 90 per barel. Investor masih akan mencermati inflasi di akhir tahun ini yang dikhawatirkan lebih tinggi dipicu oleh harga beras yang terus naik. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas ini bisa menjadi sentimen positif bagi saham-saham di sektor pertambangan sehingga indeks bisa bertahan di area positif.
Bursa AS bergerak mixed dimana terjadi penguatan pada Nasdaq dan S&P 500 namun, DJIA malah mencatatkan penurunan. Kenaikan harga komoditas seperti batu bara dan minyak mentah dunia membuat saham-saham energi mengalami kenaikan. Cuaca yang memburuk dan salju yang terus menerus turun membuat pasokan komoditas sedikit mengalami penurunan sehingga memicu kenaikan harga-harga komoditas. Tetapi, di lain sisi, kondisi cuaca seperti ini membuat saham-saham ritel mengalami penurunan. Penjualan mereka dikhawatirkan mengalami penurunan setelah badai salju mengganggu aktivitas belanja konsumen AS pada susana Natal dan jelang akhir tahun. Hal ini terlihat dari penurunan S&P 500 Retailing Index yang turun 1,35 poin menjadi 510,48. Namun demikian, banyak kalangan masih tetap optimis indeks kepercayaan konsumen AS akan mengalami kenaikan.
Selain itu, data mingguan AS initial jobless claim dan data bulanan spending home sales masih akan dinanti investor. Tingkat pengangguran AS diprediksikan turun 5 ribu orang, jadi 415 ribu dari pekan sebelumnya 420 ribu dan data spending home sales diekspektasikan naik yang artinya, permintaan rumah AS makin tinggi. Data-data positif ini setidaknya masih membawa angin segar bagi investor di penghujung akhir tahun ini menutupi kondisi Eurozone yang masih berkutat dengan penyelesaian krisis utangnya.
Pada perdagangan Selasa (28/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.593-3.610 dan resistance 3.630-3.645. Candle mulai menunjukkan pembalikan arah setelah membentuk kembali candle hammer . Hal ini mengindikasikan berkurangnya kekuatan daya jual yang hendak menekan harga pasar. MACD masih mencoba untuk reversal dengan histogram yang semakin pendek. RSI, William's %R, dan Stochastic pelan-pelan mulai meninggalkan area oversold. Meski belum terlihat adanya tren penguatan namun, secara perlahan IHSG mulai rebound dari pelemahannya. Selain itu, meski di sisa akhir tahun ini tidak dapat menguat kencang karena kemungkinan transaksi mulai sepi namun, setidaknya investor masih berharap akan adanya kenaikan kembali IHSG jelang tutup tahun ini.
(qom/qom)











































