Indosurya Securities: Ruang Kenaikan IHSG Mulai Terbatas

Indosurya Securities: Ruang Kenaikan IHSG Mulai Terbatas

- detikFinance
Kamis, 06 Jan 2011 07:48 WIB
Jakarta - Meski sempat melemah, kemarin IHSG kembali berhasil ditutup positif dengan menguat sebanyak 23,65 poin (0,63%) di level 3.783,71. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,24 miliar unit saham dengan nilai total Rp 5,18 triliun. Sebanyak 110 saham naik, 114 saham turun, dan 99 saham stagnan. LQ-45 naik 0,69% ke 677,72 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,20% ke 539,31.

Indeks sektoral saham mayoritas masih ditutup positif kecuali indeks perkebunan yang turun 1,35% ke level 2.326,39; indeks pertambangan turun 0,81% ke level 3.515,02; dan indeks aneka industri turun 0,67% ke level 930,79. Penguatan dipimpin sektor keuangan sebesar 2,02% ke level 470,40 disusul indeks industri dasar naik 1,31% ke level 401,89; indeks infrastruktur naik 1,12% ke level 838,90; indeks perdagangan naik 0,53% ke level 484,94; indeks konsumer naik 0,35% ke level
1.107,64; indeks manufaktur naik 0,34% ke level 826,81; dan indeks properti naik 0,20% ke level 205,14.

Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 282,99 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,78 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,49 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Schering Plough Ind. (SCPI) naik Rp 4.600 ke Rp 42.500, Bank Tabungan Pensiunan Nas. (BTPN) naik Rp 700 ke Rp 13.950, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 450 ke Rp 18.500, Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 300 ke Rp 13.800, Bank Rakyat Ind. (BBRI) naik Rp 300 ke Rp 10.600, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 300 ke Rp 56.800, Unilever Ind. (UNVR) naik Rp 300 ke Rp 16.350, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 250 ke Rp 6.850, dan Fajar Surya Wisesa (FASW) naik Rp 225 ke Rp 2.850.

Meski di awal sesi, IHSG sempat melemah namun, IHSG bisa kembali menguat di akhir sesi perdagangan. Investor mulai banyak yang merealisasikan keuntungan setelah kenaikan saham sejak sebelum akhir tahun 2010 hingga pergantian awal tahun ini. Hal ini terlihat dari berkurangnya volume dan nilai perdagangan kemarin yang diikuti dengan pengurangan net buy asing. Tidak hanya itu, bila dilihat dari nilai transaksi jual beli per investor dari asing maupun domestik juga mengalami penurunan dibandingkan dengan transaksi sebelumnya.

Bursa saham kawasan Asia Pasifik mayoritas melemah namun, ada pula beberapa yang menguat seperti bursa saham Thailand, Singapura, New Zealand, dan Hong Kong. Pelemahan pada mayoritas bursa saham ini dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas dan penguatan nilai US$ sebelumnya. Mulai pulihnya ekonomi AS membuat
nilai tukar US$ mengalami penguatan. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran investasi investor dari sebelumnya menempatkan dana investasinya pada aset-aset berisiko, kali ini masuk ke US$ sehingga nilai tukarnya juga meningkat.

US$ menguat setelah hasil Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu yang mengindikasikan kemajuan pertumbuhan ekonomi AS. Sementara yang lainnya tidak mengalami perubahan seperti program pembelian aset dan kebijakan suku bunga rendah. Selain itu, data factory orders juga naik di luar perkiraan dari negatif 0,7% menjadi positif 0,7% untuk Desember lalu; indeks non manufaktur naik di atas perkiraan menjadi 57,1; kenaikan jumlah pekerja baru sebesar 297.000 seperti yang dilaporkan ADP Employer Service; dan kenaikan private payrolls menjadi 164.000.

Sementara dari dalam negeri, IHSG naik begitupun dengan Rupiah karena dikeluarkannya pengumuman BI Rate. Rapat Gubernur BI mempertahankan BI rate di level 6,5%. Kebijakan tersebut dinilai positif oleh pasar karena bisa menstimulasi ekonomi. Belum berubahnya BI rate, pasar belum melihat faktor selisih suku bunga domestik dengan negara maju sebagai alasan berspekulasi dalam US$. Meski inflasi angkanya di level 6,96% lebih tinggi dari perkiraan, pertumbuhan ekonomi RI juga naik ke level 6,5% di 2011.

Bursa Eropa bergerak mixed. Penurunan terjadi pada bursa saham Portugal, Irlandia, Jerman, dan Perancis. Penurunan ini dipicu oleh sikap hati-hati
investor menjelang lelang surat utang Portugal dan pernyataan Swiss National Bank yang menolak obligasi dari perbankan Irlandia sebagai jaminan. Pasar saham masih memiliki kekhawatiran terhadap krisis utang di kawasan Eropa. Selain itu, pasar juga mendapat sentimen negatif dari penurunan harga rumah di Irlandia yang mengalami percepatan di Q4-10. Rata-rata harga turun 4,8% menjadi € 220.000 (US$ 295.000) yang merupakan penurunan terbesar sejak Q4-09, yaitu ketika mengalami penurunan 3,7%. Penurunan ini akibat bertambahnya pengangguran selama resesi, juga ketatnya kriteria pinjaman oleh bank.

Pada perdagangan Kamis (6/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.709-3.746 dan resistance 3.803-3.823. Candle membentuk hanging man pada tren yang sedang menguat. Candle ini umumnya mengindikasikan akan adanya pembalikan arah. Kekuatan daya beli mulai berkurang namun, masih diperlukan candle berikutnya untuk memastikan tren reversal benar terjadi. MACD terlihat masih menguat setelah membentuk golden cross dengan histogram positif yang mulai memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic sudah menyentuh area overbought . Ruang kenaikan IHSG mulai terbatas. Meski data-data ekonomi mendukung namun, investor tetap waspada bila sinyal reversal mulai terjadi.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads