Indosurya Securities: IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual

Indosurya Securities: IHSG Masih Dibayangi Tekanan Jual

- detikFinance
Jumat, 07 Jan 2011 09:27 WIB
Jakarta - IHSG akhirnya melemah menjelang akhir minggu ini. IHSG turun sebanyak 46,77 poin (1,24%) di level 3.736,94. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,31 miliar unit saham dengan nilai total Rp 4,88 triliun.

Sebanyak 86 saham naik, 135 saham turun, dan 92 saham stagnan. LQ-45 turun 1,79% ke 665,60 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,66% ke 530,38. Indeks sektoral saham mayoritas ditutup negatif kecuali indeks perdagangan yang naik 1,89% ke level 494,08.

Pelemahan dipimpin sektor keuangan sebesar 1,93% ke level 461,31 disusul indeks aneka industri turun 1,88% ke level 913,32; indeks pertambangan turun 1,79% ke level 3.452,28; indeks konsumer turun 1,67% ke level 1.089,09; indeks manufaktur turun 1,57% ke level 813,82; indeks infrastruktur turun 1,53% ke level 826,08; indeks industri dasar turun 1,13% ke level 397,36.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, indeks perkebunan turun turun 0,55% ke level 2.3136,60 dan indeks properti turun 0,09% ke level 204,96. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 260,44 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,73 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,99 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 2.500 ke Rp 21.000, United Tractors (UNTR) naik Rp 500 ke Rp 25.900, Surya Citra Media (SCMA) naik 200 ke level 3.700, FKS Multi Agro (FISH) naik 150 ke level 1.050, Bank Tabungan Pensiunan Nas. (BTPN) naik Rp 150 ke Rp 14.100, Goodyear Ind.

(GDYR) naik Rp 100 ke Rp 11.100, SMART (SMAR) naik Rp 100 ke Rp 5.300, Multifiling Mitra Ind. (MFMI) naik Rp 85 ke Rp 440, dan Malindo Feedmill (MAIN) naik Rp 75 ke Rp 3.400.

IHSG menjelang akhir minggu perdagangan di pekan ini akhirnya menyerah dengan mengalami penurunan. Banyak investor mengambil posisi profit tacking dengan memanfaatkan info-info yang ada seperti kekhawatiran akan meningkatnya kembali inflasi domestik, penurunan harga komoditas, kenaikan US$, penurunan ekonomi Australia karena efek banjir yang meluas, dan belum jelasnya pemulihan ekonomi di Eurozone.

Sebenarnya, aksi ini sudah mulai terlihat sejak Rabu (5/1) dimana aktivitas jual beli yang dilakukan asing dan domestik mulai berkurang namun, imbasnya baru terasa pada perdagangan kemarin. Meski terjadi pelemahan, volume transaksi saham mengalami peningkatan. Selain itu, aktivitas jual oleh asing juga meningkat bila dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Bursa Asia Pasifik bergerak mixed. Penurunan terjadi pada bursa saham China, KorSel, India, dan Bangladesh. Bursa saham Australia mengalami penurunan volume dan ketidakpastian setelah banjir di negara bagian Queensland namun, tetap mampu ditutup positif. Sementara bursa saham Jepang naik karena melemahnya Yen terhadap US$. Data pekerjaan yang naik telah memicu ekspektasi pasar teradap non-farm payrolls di AS.

Ada harapan tentang pemulihan ekonomi di AS, sehingga investor mencermati faktor-faktor yang menguntungkan. Institute for Supply Management AS mengungkapkan, indeks non-pabrik Desember, yang mencakup 90% perekonomian, naik menjadi 57,1,di atas estimasi ekonom dan ekspansi tercepat sejak Mei 2006.

Depnaker AS melaporkan rata-rata pengajuan aplikasi asuransi pengangguran secara mingguan turun menjadi 410.750. Positifnya data-data ketenagakerjaan di AS membuat naiknya optimisme akan pemulihan ekonomi di AS.

Apalagi, sejak krisis Subprime Mortgage lalu, jumlah pengangguran kian meningkat. Kini secara perlahan, jumlah tersebut mulai berkurang dan klaim asuransi pengangguran pun juga mulai berkurang.

Meski tidak berkurang signifikan namun, setidaknya investor percaya bahwa ekonomi AS secara perlahan mulai pulih. Dengan positifnya hal ini maka membawa konsekuensi menguatnya nilai tukar US$ terhadap mata uang lainnya. US$ menguat terhadap 13 dari 16 mata uang utama dunia. Terhadap Euro, US$ menguat 1% menjadi $ 1,3016/Euro.

Tetapi, penguatan US$ justru menurunkan pasar obligasi, saham, dan komoditas. Harga minyak turun di bawah level $ 89/barel, tembaga turun 1,8%, yield T-Bills tenor 10 tahun turun 6 bps menjadi 3,41%, dan indeks bursa saham AS melemah. Sementara dari Bursa Eropa bergerak mixed dengan penurunan terjadi pada bursa saham Inggris, Swedia, Portugal, dan Irlandia.

Penurunan ini dipicu oleh turunnya harga obligasi Portugal dan Spanyol sehingga membuat yieldnya naik dan kenaikan credit default swaps (CDS) dari Belgia dan Irlandia. Pasar saham masih akan bergerak mixed kembali.

Pada perdagangan Jumat (7/1/2010) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.680-3.708 dan resistance 3.777-3.817. Candle membentuk bearish engulfing pada tren yang mulai menurun.

Candle ini umumnya mengindikasikan mulai kuatnya tekanan daya jual untuk menekan harga. MACD terlihat mulai mendatar dengan histogram positif yang sedikit mulai memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic sudah menembus area overbought dan diperkirakan akan berbalik arah. Investor sepertinya mengesampingkan positifnya data-data ekonomi dan lebih fokus untuk merealisasikan keuntungan sementara waktu ini. Toh, seperti biasanya, bursa saham akan bergerak melemah seiring dengan penguatan US$.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads