Indeks sektoral saham mayoritas ditutup negatif dengan pelemahan dipimpin sektor keuangan sebesar 3,65% ke level 444,48 disusul indeks aneka industri turun 3,45% ke level 881,77; indeks perkebunan turun 3,45% ke level 2.233,81; indeks infrastruktur turun 3,11% ke level 800,43; indeks properti turun 2,63% ke level 199,56; indeks industri dasar turun 2,63% ke level 386,92; indeks manufaktur turun 2,50% ke level 793,44. Selain itu, indeks pertambangan turun turun 2,28% ke level 3.373,48; indeks konsumer turun 1,75% ke level 1.070,08; dan indeks perdagangan turun 0,84% ke level 489,95. Indeks MBX dan DBX melemah.
IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,51 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,67 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 3,18 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG menutup pekan ini dengan pelemahan. Akhirnya IHSG tidak kuasa membendung aksi jual karena Investor mengambil kesempatan profit taking pada setiap sesi perdagangan. Akhir pekan lalu, IHSG turun drastis lebih dari 100 poin. Penurunan ini sesuai dengan prediksi sebelumnya. Selain itu, hal ini seringkali terjadi dimana setiap akhir pekan perdagangan terkadang ditutup negatif. Sentimen negatif masih menghantui IHSG seperti, koreksi bursa AS sebelumnya dan penurunan harga komoditas seiring penguatan US$. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga tahun ini seiring tingginya inflasi yang diperkirakan mencapai 7-8%, juga menjadi penghambat laju
IHSG lebih lanjut.
Investor juga bereaksi negatif terhadap hasil survei Danareksa Research Institute-rilis Rabu (5/1)-menunjukkan kepercayaan konsumen melemah pada Desember lalu dikarenakan kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) turun 1,9% menjadi 84,3 dari 85,9 pada November. IKK juga turun karena kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang ditunjukkan oleh Indeks Situasi Sekarang (ISS) yang turun 2,7% menjadi 67,1. Sementara itu, komponen IKK yang menunjukkan keadaan masa depan, Indeks Ekspektasi (IE), turun 1,5% menjadi 97,1.
Penurunan IE ini menunjukkan optimisme masyarakat yang semakin menurun terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dalam 6 bulan ke depan. Konsumen masih merasa khawatir terhadap tekanan inflasi dan masih merasa ragu tekanan inflasi akan menurun dalam beberapa bulan mendatang. Selain itu, konsumen yang berencana untuk membeli barang-barang tahan lama dalam 6 bulan mendatang turun dari 29,4% di bulan November menjadi 27,4% di bulan Desember.
Di tempat lain, bursa Asia Pasifik kembali bergerak mixed. Penurunan dipimpin oleh bursa saham India yang turun 492,93 poin (2,44%). Selain itu, Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand, Australia, New Zealand, Taiwan, dan Hong Kong juga tercatat melemah. Penurunan ini seiring dengan rilis data laporan kinerja emiten yang di bawah ekspektasi, kenaikan biaya untuk melindungi obligasi Asia Pasifik dengan credit default swap (pengalihan kegagalan kredit), dan pelemahan Euro terhadap US$ 1,2968. Sementara harga minyak, emas, dan tembaga mengalami kerugian secara mingguan. Laporan jumlah pekerjaan AS rupanya masih membuat investor khawatir
sehingga indeks bursa Wall Street turun di akhir pekan.
Mayoritas bursa AS turun kecuali bursa kawasan Kolombia dan Jamaica. Depnaker AS melaporkan masih banyak warganya yang mencari pekerjaan meski angka pengangguran mulai turun. Selain itu, penurunan juga dikarenakan oleh pay rolls di luar industri pertanian naik kurang dari 103.000, seperti yang diharapkan. Beberapa hal yang membuat harga komoditas turun antara lain, turunnya harga CPO karena pasar beralih menggunakan minyak kedelai untuk bahan bakar dan makanan. Selain itu, turunnya harga emas karena kian membaiknya perekonomian AS sehingga membuat US$ menguat dan mendorong investor melepas kepemilikan emas dan memburu US$. Meski hari ini bursa saham masih berpotensi turun namun, kondisi ini bisa menjadi peluang untuk mencari saham-saham yang sudah oversold .
Pada perdagangan Senin (10/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.530-3.581 dan resistance 3.708-3.785. Candle membentuk hammer pada tren yang sedang menurun seperti yang pernah terjadi pada pertengahan November 2010. Pola candle ini umumnya mengindikasikan masih kuatnya tekanan daya jual untuk menekan harga. Tetapi, daya beli masih berusaha untuk menaikkan harga. MACD terlihat mulai berbalik arah menekan ke bawah dengan histogram positif makin memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai berbalik arah meninggalkan area overbought. Bila pada perdagangan hari ini kekuatan daya beli mulai membesar dengan membentuk candle , misalnya shooting star atau spinning tops sehingga tercipta bullish harami maka pasar bisa rebound . Alangkah baiknya bila investor bisa memanfaatkan momen penurunan ini dengan mulai akumulasi pada saham-saham yang sudah turun harganya. Inilah yang disebut memanfaatkan market timing .
(qom/qom)











































