Indeks sektoral saham mayoritas ditutup positif kecuali indeks pertambangan yang turun 0,70% ke level 3.369,34; indeks properti turun 0,21% ke level 190,63; dan indeks aneka industri turun 0,04% ke level 864,49. Penguatan sektoral dipimpin sektor infrastruktur sebesar 0,80% ke level 795,79 disusul indeks keuangan naik 0,31% ke level 428,51; indeks perkebunan naik 0,28% ke level 2.252,37; indeks perdagangan naik 0,22% ke level 488,16; indeks industri dasar naik 0,21% ke level 373,06; indeks konsumer naik 0,12% ke level 1.062,03; dan indeks manufaktur naik 0,10% ke level 777,97. Indeks MBX dan DBX menguat.
IHSG kembali mengalami net foreign sell sebesar Rp 317,79 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,44 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,76 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG kembali mendarat di zona positif pada penutupan akhir pekan kemarin. Kondisi ini berbeda dengan sepekan sebelumnya dimana IHSG sempat dibanting hingga kehilangan lebih dari 150 poin. Bahkan pada awal pekan kemarin, IHSG pun sempat terjerembab hingga kehilangan 150 poin lagi namun, setelah itu secara perlahan IHSG mulai naik kembali. Harapan akan adanya January Effect seperti yang banyak diperbincangkan, sirna sudah dengan adanya penurunan ini. Investor seperti mengesampingkan berita positif, baik dari domestik maupun internasional.
Selain karena pengaruh profit taking , Investor terutama asing, lebih mencermati tingginya inflasi akhir tahun di Indonesia. Tidak hanya itu, investor pun sepertinya juga belum melihat komitmen kongkret dari Pemerintah untuk mengatasi inflasi, baik dengan menaikkan suku bunga acuan maupun perbaikan penanggulangan
inflasi terutama mengatasi pasokan dan distribusi bahan pangan yang berkontribusi tinggi terhadap kenaikan inflasi.
Selain itu, reaksi negatif juga datang setelah Bank Dunia mengingatkan negara-negara emerging market untuk mewaspadai adanya kenaikan harga pangan yang dipicu kuatnya permintaan dan gangguan iklim. Oleh karena itu, wajar bila investor sementara meninggalkan bursa saham dan beralih ke instrumen lainnya. Meski asing
pada pekan kemarin sempat mencatatkan net buy (13/1) namun, bila diamati sejak awal hingga akhir pekan kemarin, asing masih mencatatkan net sell.
Pada penutupan akhir pekan kemarin, meski IHSG naik namun, asing tercatat net sell . Selain itu, volume dan nilai transaksi pun juga tercatat melemah. IHSG masih diliputi awan kelabu. Tetapi, melihat dari kondisi saham-saham yang mayoritas sudah berada di zona oversold bisa dijadikan peluang untuk mulai mengakumulasi saham-saham yang telah terdiskon.
Lain halnya dengan Indonesia, beberapa negara terlihat indeks bursa sahamnya bergerak lebih baik kecuali bursa saham Bangladesh yang sempat turun tajam. Akhir pekan lalu, bursa saham AS ditutup positif setelah dirilis kinerja emiten keuangan, terutama JP Morgan yang mencatatkan kinerja positif (laba Q4-10 naik 47% menjadi US$ 4,8 miliar dari 2009). Selain itu, terjadi peningkatan pada angka penjualan (+6,7% di akhir 2010), data consumer price (+0,5%), dan data ritel AS yang naik 0,6% (meski di bawah eskpektasi).
Bursa saham Asia Pasifik, sempat melemah akibat pengumuman kebijakan Bank Sentral China yang berencana menaikkan GWM sebesar 50 bps dan penguatan Yen. Sementara dari bursa saham Eropa bergerak mixed dengan mayoritas turun. Padahal sebelumnya bursa saham Eropa mendapat berita positif dari suksesnya lelang obligasi Portugal,
Spanyol, dan Italia; dan tetapnya suku bunga acuan ECB sebesar 1%, serta tetapnya suku bunga acuan Inggris sebesar 0,5% dan naiknya pertumbuhan ekonomi dari 2,2% menjadi 2,3%. Tetapi, investor masih menilai negatif keadaan pasar kerja di AS dan situasi utang negara Eurozone.
Selain itu, penurunan juga terjadi karena jatuhnya harga tembaga seiring kekhawatiran atas pengetatan kebijakan moneter China. Peningkatan ekonomi pada
Eurozone membawa penguatan pada Euro sehingga melemahkan US$. Pelemahan US$ tidak hanya terhadap Euro namun, terhadap beberapa mata uang lainnya seperti Yen.
Pada perdagangan Senin (17/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.501-3.535 dan resistance 3.586-3.703. Candle membentuk hammer pada tren yang sedang naik. Pola candle ini umumnya mengindikasikan mulai berkurangnya tekanan daya jual untuk menekan harga dan daya beli berbalik mendorong ke atas. MACD terlihat melemah setelah membentuk dead cross dengan histogram masih negatif. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba meninggalkan area oversold . IHSG secara teknikal mulai kembali rebound. Meski masih diliputi awan ketidakpastian namun, secara fundamental saham-saham pilihan masih memiliki prospek cerah. Investor bisa melakukan selective buy pada saham-saham pilihan yang berfundamental bagus namun, telah terdiskon besar harganya.
(qom/qom)











































