Indeks sektoral saham mayoritas ditutup negatif kecuali indeks infrastruktur yang naik 0,37% ke level 798,70 dan indeks konsumer naik 0,19% ke level 1.064,06. Penurunan sektoral dipimpin sektor perkebunan sebesar 2,21% ke level 2.202,56 disusul indeks pertambangan turun 2,07% ke level 3.299,52; indeks industri dasar turun 1,50% ke level 367,46; indeks keuangan turun 1,30% ke level 422,92; indeks properti turun 1,20% ke level 188,35; indeks aneka industri turun 1,14% ke level 854,61; indeks manufaktur turun 0,69% ke level 772,57; dan indeks perdagangan turun 0,06% ke level 4887,85. Indeks MBX dan DBX melemah.
IHSG kembali mengalami net foreign sell sebesar Rp 120,96 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,32 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,44 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah naik tipis akhir pekan lalu, pada perdagangan kemarin IHSG kembali turun dan menghapus harapan investor akan terjadinya rebound. Investor masih diliputi kekhawatiran akan perekonomianIndonesia. Wajar saja, setelah keluarnya data inflasi akhir tahun, yang angkanya jauh lebih tinggi dari perkiraan, membuat investor khawatir akan penanganan inflasi. Apalagi investor juga mencermati, cuaca yang mulai kurang bersahabat sehingga bisa mempengaruhipasokan bahan pangan yang berkontribusi besar terhadap inflasi.
Meski IHSG melemah, net sell asing tercatat turun dibandingkan hari sebelumnya. Artinya, investor asing beberapa diantaranya masih bertahan di bursa saham dan melakukan pembelian.
Penurunan kemarin juga mengabaikan sentimen positif berupa naiknya peringkat surat utang Indonesia oleh Moody's dari posisi Ba2 menjadi Ba1 yang menandakan,tinggal selangkah lagi masuk ke level investment grade . Perbaikan peringkat surat utang ini diharapkan tetap membuat investor akan menanamkanuangnyadi berbagai instrumen di Indonesia. Kenaikan peringkat utang ini juga akan mendorong lembaga rating lainnya untuk segera menaikkanrating Indonesia. Hal ini membawa pengaruh positif terhadap utang dalam hal memperbaikiprofil biaya dan risiko. Biaya utang semakin rendah dan risiko refinancing rendah karena minat beli investor ke SBN jangka panjang.
Di sisi lain, tingginya inflasi tak terlepas dari tingginya konsumsi di Indonesia. Pada suatu survei yang dilakukan tahun lalu terungkap peringkat konsumsi Indonesia
tergolong menjanjikan dibandingkanbeberapa negara, seperti Brazil, Rusia, India, China, Mesir, dan Arab Saudi.
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas melemah kecuali New Zealand, Filipina, Vietnam, dan Pakistan. Penurunan kemarin dipengaruhi oleh turunnya saham-saham perbankan dan pengembang seiring langkah China untuk menahan laju inflasi berupa kenaikan GWM sebesar 50 bps menjadi 19%. Pasar mengantisipasi jika tingkat inflasi
akan naik sehingga Pemerintah sejumlah negara akan memperketat kebijakan sehingga arus dana akan kian menyusut akibat kebijakan tersebut.
Semalam bursa saham AS tidak buka karena libur nasional. Di tempat lain, bursa saham Eropa mayoritastercatat melemahkecuali Jerman, Swiss, Iceland, Belgia, dan Yunani. Penurunan ini disebabkan investor masih khawatir akan masalah utang Eurozone. Apalagi setelah Credit Default Swaps (CDS) Spanyol naik 7,4 bps menjadi 301,9 dan penurunan harga obligasiSpanyol serta pertimbangan Pemerintah Spanyol untuk mengambilrencana bail out. Yield obligasi Spanyol tenor 10 tahun naik 9 bps menjadi 5,46%. Pemerintah membatalkan lelang obligasi dan menjual melalui bank. Selain itu, harga rumah di Swedia naik dalam waktu 20 bulan pada Desember 2010
sehingga membuat pasar memprediksi bank sentral akan menaikan suku bunga acuan pada pertemuan bulan depan. Harga rumah rata-rata naik 4% p.a dalam 3 bulan hingga Desember, setelah pada November naik hingga 5%. Riskbank bulan lalu menaikan repo bunga acuan 0,25% menjadi 1,25%. Hal tersebut menjadi tanda bahwa ada upaya melawan ketidakseimbanganantara kredit dan pasar perumahan. Selain itu, Layanan Pekerjaan Umum Swiss mengatakan tingkat pengangguran non-musiman naik menjadi 4,5% dibanding bulan sebelumnya sebesar 4,3%.
Pada perdagangan Selasa (18/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.482,24-3.520,70 dan resistance 3.583,80-3.608,43. MACD terlihat masih melemah setelah membentuk dead cross dengan histogram masih negatif. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba meninggalkan area oversold namun, mulai tertahan. IHSG secara teknikal mulai kembali rebound namun, masih rawan koreksi dan belum sepenuhnya kuat untuk melanjutkan penguatan. Berita-berita fundamental ekonomi akan berpengaruh besar terhadap pergerakan IHSG. Tetapi, setidaknya masih ada optimisme terhadap kinerja emiten-emiten di bursa.
(qom/qom)











































