Indeks sektoral saham mayoritas ditutup naik kecuali indeks konsumer yang melemah 1,42% ke level 1.048,97; indeks manufaktur turun 0,79% ke level 766,46; indeks aneka industri turun 0,68% ke level 848,80; indeks perkebunan turun 0,13% ke level 2.199,66; dan indeks industri dasar turun 0,00% ke level 367,45. Penguatan sektoral dipimpin sektor pertambangan sebesar 1,82% ke level 3.359,65 disusul indeks properti naik 1,32% ke level 190,84; indeks infrastruktur naik 0,95% ke level 806,31; indeks perdagangan naik 0,42% ke level 489,90; dan indeks keuangan naik 0,17% ke level 423,66. Indeks MBX dan DBX menguat.
IHSG mengalami net foreign buy tipis sebesar Rp 29,72 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,36 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,33 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan kemarin, IHSG berhasil rebound di tengah sepinya transaksi setelah bolak balik antara zona negatif dan positif menjelang penutupan perdagangan. Pada sesi awal, IHSG sempat memerah namun, menjelang penutupan IHSG mampu mendarat di area positif. Investor asing mulai mengurangi penjualan dan melakukan pembelian terhadap saham-saham yang sudah terdiskon besar yang terlihat dari berkurangnya nilai penjualan, naiknya nilai pembelian, dan tercatat net buy meski kecil, hanya Rp 29,72 miliar.
Kenaikan IHSG, didukung oleh penguatan volume dan nilai transaksi. Diharapkan dengan kenaikan ini menjadi amunisi untuk IHSG kembali melanjutkan penguatan. Meskipun demikian, investor masih diliputi kekhawatiran terhadap masalah inflasi, distribusi pangan, BI rate, dan pembatasan BBM. Naiknya peringkat utang Indonesia pun terlihat seperti angin berlalu dan tidak berdampak signifikan terhadap bursa saham yang terlihat masih tertahan untuk melanjutkan kenaikan. Meski BI tetap bergeming tidak akan menaikkan BI rate dalam waktu dekat untuk mengatasi inflasi namun, pasar menginginkan kenaikan tersebut. Inflasi kali ini disebabkan berkurangnya pasokan bahan pangan dan tersendatnya distribusi dan investor belum melihat langkah kongkret untuk mengatasi hal tersebut.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mixed . Beberapa bursa saham yang melemah yaitu, KorSel, Hang Seng, Pakistan, Filipina, dan Bangladesh. Penguatan bursa saham di emerging market dipimpin oleh saham-saham berbasis teknologi akibat spekulasi kalau harga chip memori akan pulih dan permintaan atas jasa software masih akan stabil. Kinerja emiten logam dan semikonduktor yang bagus turut menjadi sentimen positif.
Selain itu, investor juga melihat optimisme krisis utang Eropa akan segera pulih setelah para MenKeu Eurozone berkomitmen untuk meningkatkan jaring pengaman bagi negara-negara di kawasan krisis utang dan Jerman siap mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menghentikan krisis utang Eropa.
Bursa saham Eropa menguat kecuali, Iceland dan Yunani, setelah mendapat sentimen positif dari komitmen Rusia yang sedang mempertimbangkan untuk membeli obligasi Spanyol. Pada saat yang sama pasar menantikan hasil pertemuan para MenKeu Eurozone di Brussel, Belgia. Awalnya, Rusia enggan membeli obligasi Spanyol karena khawatir atas kemampuan pembayarannya namun, karena pekan lalu lelang obligasi Spanyol laku keras yang didukung pembelian dari China dan Jepang maka Rusia ikut membeli obligasi itu sehingga mengurangi kecemasan pasar atas krisis utang zona euro.
Di sisi lain, data yang dirilis di Inggris cukup positif. Indeks Kepercayaan Konsumen di level 53, lebih tinggi dari perkirakan sebelumnya sebesar 45. Begitu pun dengan ekonomi Jerman yang diekspektasi positif. Bursa saham AS pun demikian, mencatatkan kenaikan setelah beberapa emiten besar merilis kinerja keuangan yang bagus. Meski sempat tertahan karena isu pengunduran diri CEO Apple terkait masalah kesehatan namun, mayoritas bursa AS menguat. Jikapun isu tersebut benar maka sentimen ini kemungkinan akan berlaku sesaat. Beberapa data ekonomi yang akan dirilis yaitu, manufaktur New York bulan Januari diperkirakan naik menjadi 12,0 dari 10,57. National Association of Home Builders akan merilis indeks pasar perumahan dan Indeks pembelian hipotek Mortgage Bankers Association.
Pada perdagangan Selasa (19/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.495-3.522 dan resistance 3.563-3.578. MACD terlihat masih melemah dengan histogram negatif yang mulai memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih tertahan untuk meninggalkan area oversold . Meski kemarin IHSG berhasil rebound namun, masih rawan koreksi. Pasar hanya memanfaatkan beberapa momen tertentu seperti, penguatan harga komoditas dan pengaruh bursa regional, untuk menguat. Berita-berita fundamental ekonomi masih akan mempengaruhi pergerakan IHSG. Meski belum lepas dari awan kelabu, setidaknya masih ada optimisme terhadap kinerja emiten-emiten di bursa.
(qom/qom)











































