Indeks sektoral saham mayoritas ditutup turun kecuali indeks aneka industri yang menguat 3,48% ke level 878,36 dan indeks infrastruktur turun 0,08% ke level 806,98. Penurunan dipimpin oleh indeks industri dasar yang melemah 2,36% di level 358,76; indeks properti turun 1,37% ke level 188,23; indeks perdagangan turun 1,31% ke level 483,46; indeks konsumer turun 0,89% ke level 1.039,68; indeks keuangan turun 0,69% ke level 420,75; indeks perkebunan turun 0,33% ke level 2.192,39;
indeks pertambangan turun 0,31% ke level 3.349,19; dan indeks manufaktur turun 0,08% ke level 765,87. Indeks MBX dan DBX melemah.
IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 98,22 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,51 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,41 triliun. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra Internasional (ASII) naik Rp 1.400 ke Rp 48.400, Pudjiadi & Sons Estate (PNSE) naik Rp 475 ke Rp 2.375, Gudang Garam (GGRM) naik 350 ke level 37.350, Resources Alam Indonesia (KKGI) naik 275 ke level 3.975, Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 250 ke Rp 12.000, Mayora Indah (MYOR) naik Rp 250 ke Rp 10.600, Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 200 ke Rp 13.100, Harum Energy (HRUM) naik Rp 200 ke Rp 9.450, dan PP London Sumatera (LSIP) naik Rp 150 ke Rp 12.150.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Positifnya bursa AS karena dirilisnya kinerja beberapa emiten yang di atas estimasi, naiknya harga komoditas, dan menghijaunya mayoritas bursa Asia Pasifik (kecuali bursa saham Pakistan, India, Bangladesh, Singapura, Filipina, dan Malaysia) terlihat tidak memberikan pengaruh signifikan pada IHSG. Meskipun kondisi positif tersebut sempat terasa pada sesi awal namun, setelah bergerak menguat, investor langsung buang barang yang pada akhirnya membuat pasar bergerak turun.
Pada pukul 15.46 WIB, sistem datafeed (price dissemination system ), yang merupakan sistem pendukung perdagangan, tidak berjalan dengan baik, menyebabkan pada Data Provider yang menyediakan informasi harga saham secara real time tidak dapat menerima data perdagangan. Tetapi, kondisi ini bukanlah penyebab penurunan IHSG. Meski IHSG turun namun, hingga akhir perdagangan investor asing mencatatkan net buy sekitar Rp 98,22 miliar, lebih tinggi dari sehari sebelumnya.
Investor asing justru terlihat menambah nilai pembelian, meskipun nilai penjualannya pun tercatat naik. Tetapi, oleh karena nilai pembeliannya lebih besar maka tercatat net buy. Sebaliknya, investor domestik malah mengurangi nilai pembelian dan mencatatkan nilai penjualan yang lebih tinggi dari nilai pembelian. Data inflasi dan info berubah atau tetapnya BI rate masih membuat investor khawatir.
Bursa saham Asia kemarin menguat, dipengaruhi kinerja emiten AS yang di atas estimasi dan spekulasi naiknya PDB China lebih dari 9% pada Q4-10, serta spekulasi langkah-langkah China memperlambat inflasi tidak menghambat ekspansi ekonomi. Pemulihan perlahan ekonomi AS baik bagi dunia karena AS ialah konsumen terbesar di dunia. Bursa saham Eropa mayoritas mengalami penurunan, kecuali Itali, Portugal, Yunani, dan Iceland, yang dipicu oleh pelemahan saham-saham ritel. Di sisi lain, para MenKeu Eurozone sepakat untuk tidak akan menambah fasilitas dana darurat (The European Financial Stability Facility (EFSF)), yang ada sekarang senilai β¬
372 miliar. Kemarin US$ melemah terhadap Euro ke posisi terendah dalam 5 pekan seiring dengan pelemahan bursa saham karena spekulasi lambatnya pemulihan di pasar perumahan dan tenaga kerja sehingga mencegah The Fed menaikkan suku bunga. Dept.
Perdagangan AS merilis angka pembangunan perumahan AS (housing starts ) sebesar 529.000 turun 4,3% dan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, 550.000/Desember. Klaim pengangguran diperkirakan bertambah menjadi 3,99 juta per pekan lalu, dari 3,88 juta di pekan sebelumnya. Penurunan juga terjadi setelah dirilis penurunan laba bersih Goldman Sachs Group Inc., Amex, dan Bank of America.
Pada perdagangan Rabu (20/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.488-3.511 dan resistance 3.558-3.581. MACD terlihat masih melemah dengan histogram negatif yang mulai memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali bergerak menuju area oversold . Kondisi IHSG belum stabil sepenuhnya dan masih akan bergerak mixed dengan kecenderung melemah. Pasar hanya memanfaatkan beberapa momen tertentu seperti, penguatan harga komoditas dan pengaruh bursa regional, untuk menguat dan lebih banyak short term trading. Selama belum jelas perubahan BI rate dan penanganan inflasi maka selama itu pula IHSG tak menentu arahnya.
(qom/qom)











































