Indosurya Securities: Sekedar Technical Rebound

Indosurya Securities: Sekedar Technical Rebound

- detikFinance
Senin, 24 Jan 2011 07:25 WIB
Jakarta - Setelah turun tajam, IHSG kembali didera aksi jual sehingga mengalami pelemahan 74,58 poin (2,16%) di level 3.379,54. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,84 miliar unit saham dengan nilai total Rp 6,37 triliun.Β  Sebanyak 50 saham naik, 179 saham turun, dan 78 saham stagnan. LQ-45 turun 2,47% ke 590,24 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,80% ke 470,86.

Indeks sektoral saham mayoritas masih ditutup turun dengan penurunan dipimpin oleh indeks perkebunan yang melemah 3,21% di level 2.053,51; indeks konsumer turun 3,10% ke level 977,84; indeks pertambangan turun 2,64% ke level 3.135,58; indeks manufaktur turun 2,30% ke level 727,76; indeks industri dasar turun 2,20% ke level 340,90; indeks perdagangan turun 2% ke level 463,74; indeks keuangan turun 1,83% ke level 409,25; indeks properti turun 1,71% ke level 181,18; indeks infrastruktur turun 1,53% ke level 779,44; dan indeks aneka industri turun 1,36% ke level 846,07. Indeks MBX dan DBX melemah.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,04 triliun dengan total pembelian asing Rp 2,43 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 3,47 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Bank Danamon (BDMN) naik Rp 150 ke Rp 6.000, Modern Int'l (MDRN) naik Rp 125 ke Rp 2.375, Matahari Putra Prima (MPPA) naik 100 ke level 1.740, Samudra Indonesia (SMDR) naik 100 ke level 4.250, Pioneerindo Gourmet Int'l (PTSP) naik Rp 85 ke Rp 550, Panin Sekuritas (PANS) naik Rp 60 ke Rp 1.090, Tigaraksa Satria (TGKA) naik Rp 60 ke Rp 680, Inovisi Infracom (INVS) naik Rp 50 ke Rp 5.800, dan Clipan Finance Ind. (CFIN) naik Rp 40 ke Rp 590.

Pada akhir pekan lalu, IHSG kembali melemah sehingga menggenapkan penurunan selama sepekan kemarin. Meski ada penguatan namun, belumlah cukup untuk mengimbangi penurunan yang terjadi. Apalagi di dua hari berturut-turut kemarin, IHSG dilanda aksi jual besar-besaran. Seluruh saham-saham unggulan akhirnya melemah sehingga mempengaruhi pergerakan saham-saham lainnya. Kondisi makroekonomi Indonesia yang dirasa belum ada kepastian membuat investor untuk sementara meninggalkan aset-aset berisiko dan mengalihkan ke instrumen lain atau berupa cash.Β  IHSG menjadi bursa kedua yang mengalami penurunan terbesar di Asia Pasifik setelah bursa saham Bangladesh (-8,49%).

Aksi jual di akhir pekan lalu memperlihatkan bahwa risk appetite investor telah berkurang. Ancaman inflasi dan seretnya pasokan komoditas dikhawatirkan akan membuat harga- harga pangan kembali naik sehingga bisa memicu inflasi yang lebih tinggi lagi. Bila ini terjadi maka desakan menaikkan suku bunga acuan akan bisa lebih tinggi. Jika suku bunga acuan dinaikkan terlalu tinggi maka harga obligasi akan terkena dampak langsung. Kekhawatiran inilah yang membuat investor secara besar-besaran melakukan aksi "cuci gudang" kemarin.

Tingginya pertumbuhan China-GDP naik mencapai 10,3% dari 9,2% di 2009- juga ikut berpengaruh. Pertumbuhan China yang tinggi justru memicu kekhawatiran bahwa China akan mengambil langkah-langkah lain untuk mengendalikan ekonominya. China mungkin menaikkan suku bunga awal bulan depan jika situasi harga konsumen terus memburuk pada Q1-11. Bank sentral mungkin perlu mengetatkan kebijakan lebih lanjut untuk mengerem ekonomi.

Selain itu, pengetatan lanjutan dari negara berkembang, terutama China, dikhawatirkan permintaan terhadap komoditas akan turun. Oleh sebab itu, wajar bila pekan kemarin mayoritas harga komoditas melemah. Kondisi ini diperparah dengan pernyatakan Gubernur BI bahwa akan terjadi bubble di negara-negara tertentu yang indeks sahamnya sudah mengalami kenaikan tajam dan dalam waktu tidak lama, masing-masing negara akan mengambil langkah antisipatif.

Bursa saham Asia Pasifik mayoritas melemah kecuali, China, New Zealand, Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam. Kekhawatiran inflasi dan pengetatan ekonomi di China justru lebih mempengaruhi negara-negara Asia Pasifik lainnya dibandingkan di internal mereka yang terlihat dari tetap positifnya bursa ShangHai di tengah pelemahan bursa-bursa saham lainya.

Bursa saham Eropa mayoritas ditutup positif kecuali Denmark dan Yunani. Harga logam yang sempat rebound menjadi pemicunya. Selain itu, investor fokus pada laporan kinerja emiten kuartal IV tahun 2010 yang dipersepsikan lebih baik, data makro ekonomi, dan optimisme bahwa ekonomi Jerman diperkirakan akan stabil di bulan Januari. Bursa Saham AS bergerak mixed dengan pelemahan pada indeks Nasdaq, bursa saham Meksiko, dan bursa saham Argentina.

Penguatan yang terjadi dipicu laporan laba yang baik dari Bank of America, General Electric, dan Google yang telah dirilis, penjualan rumah yang naik lebih dari 12%, dan lapaoran klaim pengangguran mingguan yang mengangkat sentimen investor. Data-data ini memberikan sinyal positif pada pemulihan ekonomi sekaligus menahan pelemahan yang sudah terjadi dalam 2 hari terakhir.

Pada perdagangan Senin (24/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.237-3.308 dan resistance 3.452-3.524. Candle membentuk hammer yang umumnya mengindikasikan mulai berkurangnya kekuatan daya jual untuk menekan harga dan kekuatan daya beli menahan dan berusaha mendorong harga ke atas. MACD terlihat masih melemah dengan histogram negatif yang masih memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menyentuh area oversold dan terlihat upaya untuk reversal. Belum adanya sentimen positif yang signifikan untuk membawa IHSG berbalik arah menuju area positif membuat IHSG masih rawan koreksi. Kalaupun naik, hanya bersifat technical rebound dimana pasar memanfaatkan penurunan harga untuk kembali mulai mengakumulasi saham-saham pilihan yang telah terdiskon banyak. Selain itu, mungkin pasar akan lebih bersifat short term trading .

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads