Indosurya Securities: IHSG Bisa Menguat Terbatas

Indosurya Securities: IHSG Bisa Menguat Terbatas

- detikFinance
Selasa, 25 Jan 2011 07:25 WIB
Jakarta - Setelah turun tajam, IHSG kembali didera aksi jual sehingga mengalami pelemahan 33,48 poin (0,99%) di level 3.346,06. Total volume perdagangan BEI mencapai 2,55 miliar unit saham dengan nilai total Rp 3,54 triliun. Sebanyak 72 saham naik, 163 saham turun, dan 75 saham stagnan. LQ-45 turun 0,85% ke 585,22 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,31% ke 464,70.

Indeks sektoral saham mayoritas masih ditutup turun dengan penurunan dipimpin oleh indeks properti yang melemah 2,52% di level 176,62; indeks perkebunan turun 1,81% ke level 2.016,37; indeks industri dasar turun 1,71% ke level 335,07; indeks konsumer turun 1,43% ke level 963,90; indeks manufaktur turun 1,36% ke level 717,87; indeks pertambangan turun 1,06% ke level 3.102,34; indeks infrastruktur turun 0,96% ke level 771,96; indeks aneka industri turun 0,86% ke level 838,80; indeks
perdagangan turun 0,61% ke level 460,89; dan indeks keuangan turun 0,31% ke level 407,96. Indeks MBX dan DBX melemah.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 249,45 triliun dengan total pembelian asing Rp 1,5 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,75 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Sumi Indo Kabel (SUMI) naik Rp 300 ke Rp 1.500, Inovisi Infracom (INVS) naik Rp 200 ke Rp 6.000, SMART (SMAR) naik 200 ke level 5.200, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) naik 175 ke level 2.750, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 175 ke Rp 4.875, Pan Brothers (PBRX) naik Rp 170 ke Rp 1.630, Medco Energi Ind. (MEDC) naik Rp 150 ke Rp 3.075, Telekomunikasi Ind. (TLKM) naik Rp 150 ke Rp 7.700, dan Maskapai Reasuransi Ind. (MREI) naik Rp 140 ke Rp 710.

Setelah sempat naik di awal sesi I, IHSG kembali mengesampingkan harapan pasar untuk bisa rebound. Di akhir sesi perdagangan, IHSG akhirnya kembali melemah. Ancaman inflasi, kenaikan harga komoditas pangan, pengetatan GWM China, serta kembali mulai naiknya suku bunga beberapa negara menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pelaku pasar. Saat momen penurunan ini biasanya akan banyak rumor beredar. Diantaranya karena pergantian Ketua Bapepam, meskipun hal ini tidak ada relevansinya. Lalu keluarnya dana dari bursa saham terkait dengan right issue BMRI dan IPO Garuda Indonesia. Meskipun 2 hal tersebut bisa saja terjadi namun, sepertinya kurang pas bila dikaitkan antara 2 aksi tersebut dengan penurunan IHSG karena bersamaan dengan sentimen makroekonomi yang kurang kondusif. Nantinya penilaian penurunan IHSG akan bias.

Meski asing mencatatkan net sell namun, tidak sebesar akhir pekan lalu. Net sell yang terjadi kemarin telah turun 75,96%. Nilai transaksi jual dan beli investor asing sama-sama mencatatkan penurunan namun, terlihat bahwa nilai transaksi jual sudah lumayan berkurang. Itu menandakan, asing menahan transaksi jual dan perlahan mulai melakukan transaksi beli yang terlihat dari nilainya dimana masih lebih rendah dibanding sebelumnya. Bila dilihat dari historis 2 tahun ke belakang, terlepas dari kondisi makro, memang di akhir Januari IHSG ada kecendrungan melemah. Oleh karena itu, wajar bila siklus ini juga berulang di akhir bulan ini.

Berbeda dengan IHSG, sejumlah bursa saham Asia tercatat menguat seiring dengan naiknya rating investasi serta kinerja perusahaan yang positif. Ada ekspektasi besar jika kinerja perusahaan tahun ini akan membaik. Kecuali, indeks Shanghai, Taiwan, dan Hang Seng yang melemah setelah harian People's Daily menulis China kemungkinan akan menaikkan GWM bank. Selain itu, bursa saham Filipina, Vietnam, Thailand, Bangladesh, Pakistan, dan Malaysia juga tercatat melemah. Pertemuan bank sentral di Jepang, Malaysia dan India pekan ini akan menjadi sentimen yang ditunggu pasar. India diperkirakan akan menaikan suku bunga untuk mengatasi kenaikan harga.

Setelah melemah 4 hari terakhir, harga minyak kembali menguat dengan rata-rata harga minyak mentah WTI untuk kontrak pengiriman Maret 2011 di Pasar NYMEX-AS bergerak di US$ 89,34/barel. Bahkan, sempat mencapai level US$ 89,63/barel, naik 0,52 poin dari penutupan pekan lalu di US$ 89,11/barel. Kenaikan harga minyak seiring membaiknya prospek ekonomi di AS dan Eropa, yang menguatkan spekulasi meningkatnya permintaan bahan bakar. Pada pekan ini, AS akan merilis data pertumbuhan PDB Q4-10 yang melaju 3,5%, dari sebelumnya 2,6%. Sementara, pesanan industri zona Euro per November, diprediksi naik 1,9%, dari bulan sebelumnya yang tumbuh 1,4%. Sinyal positif minyak juga menguat setelah OPEC berencana menambah suplai untuk memenuhi kenaikan permintaan dari China dan India. Bursa saham Eropa menguat kecuali bursa saham Spanyol, Belanda, dan Norwegia seiring dengan pernyataan Presiden ECB bahwa Eropa sudah mulai bisa meningkatkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat untuk mengatasi inflasi. Dari bursa AS, mayoritas menguat seiring dengan rencana buyback saham oleh Intel dan naiknya kinerja emiten-emiten sumber daya alam dikarenakan naiknya permintaan akan logam. Pasar juga menantikan pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan menentukan kebijkan suku bunga. Meskipun diperkirakan tidak berubah di level 0,25% namun, dimungkinkan adanya perubahan arahan yang mulai fokus pada inflasi di AS.

Pada perdagangan Selasa (25/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.280-3.313 dan resistance 3.388-3.430. Setelah candle membentuk pola three black crows , terlihat adanya upaya menahan pelemahan dengan kemungkinan akan terbentuknya spinning tops . Bila hari ini terjadi penguatan maka pola spinning tops benar terjadi dan IHSG dapat kembali menguat meski dalam rentang terbatas. MACD terlihat masih melemah dengan histogram negatif yang masih memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menembus area oversold dan terlihat upaya untuk reversal meski masih tertahan. Pasar belum menentu arahnya dan cenderung
masih melemah. Selain itu, memang belum terlihat adanya sinyal pembalikan arah hingga adanya kejelasan mengenai kondisi makroekonomi domestik maupun global. Namun demikian, melihat saham-saham sudah terdiskon besar, investor bisa mengambil peluang untuk trading buy terhadap beberapa saham pilihan sebelum nantinya tertinggal momentum pada saat mulai rebound .

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads