Indosurya Securities: IHSG Bisa Lanjut Menguat

Indosurya Securities: IHSG Bisa Lanjut Menguat

- detikFinance
Kamis, 27 Jan 2011 08:26 WIB
Jakarta - IHSG masih melanjutkan penguatannya setelah sehari sebelumnya mulai rebound setelah bertengger di zona merah. IHSG menguat 67,81poin (1,97%) di level 3.501,72. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,6 triliun unit saham dengan nilai total Rp 4,68 triliun. Sebanyak 156 saham naik, 89 saham turun, dan 59 saham stagnan. LQ-45 naik 2,52% ke 618,42 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 2,38% ke 490,49.

Indeks sektoral saham mayoritas ditutup naik kecuali indeks perkebunan yang turun 0,60% ke level 2.088,22. Kenaikan dipimpin oleh indeks keuangan yang menguat 3,61% di level 435,54; indeks industri dasar naik 2,83% ke level 354,10; indeks manufaktur naik 2,44% ke level 759,02; indeks properti naik 2,31% ke level 184,49; indeks konsumer naik 2,29% ke level 1.009,38; indeks aneka industri naik 2,26% ke level 898,92; indeks infrastruktur naik 1,48% ke level 788,88; indeks perdagangan naik 1,31% ke level 481,94; dan indeks pertambangan naik 0,18% ke level 3.180,94.

Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 537,13 triliun dengan total pembelian asing Rp 1,95 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,41 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.600 ke Rp 49.400, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.200 ke Rp 38.100, Astra Int'l (ASII) naik 1.200 ke level 50.400, United Tractors (UNTR) naik 800 ke level 22.450, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 750 ke Rp 14.650, Indospring (INDS) naik Rp 700 ke Rp 10.000, Bank Danamon (BDMN) naik Rp 350 ke Rp 6.250, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 300 ke Rp 5.950, dan Semen Gresik (SMGR) naik Rp 250 ke Rp 8.250.

IHSG pada perdagangan kemarin masih melanjutkan penguatannya meski di tengah kekhawatiran akan makroekonomi Indonesia. Investor memanfaatkan waktu untuk mengakumulasi saham-saham yang telah terdiskon besar. Investor asing pun tercatat masih melakukan net buy yang nilainya lebih besar dibandingkan sehari sebelumnya. Akan tetapi, bila dilihat dari nilai transaksinya ada pengurangan nilai baik terhadap transaksi beli maupun jual. Dari transaksi ini terlihat bahwa investor asing bersifat short term trading. Justru investor lokal yang masih meningkatkan nilai transaksinya baik beli maupun jual. Meski volume transaksi total mengalami kenaikan namun, nilai transaksi total tercatat turun.

Dalam suatu penelitian, pola di akhir Januari ini mirip seperti yang terjadi di 2005. Perhatian investor mulai tersita pada pergerakan IHSG setelah menunjukkan rebound. Meski aktif melakukan transaksi namun, mereka masih diliputi perasaan cemas akan kondisi makroekonomi. Sikap meragu itu menunjukkan bahwa penguatan IHSG belum membuat investor yakin untuk melakukan koleksi lebih besar.

Dua alasan yang mendasari muculnya sikap tersebut. Pertama, meski menguat, IHSG belum menyentuh level psikologis yang diekspektasikan pasar yaitu di kisaran level 3.530-3.560. Kedua, tingginya tingkat inflasi. Sementara, persoalan ini dengan mudah bisa diatasi dengan dinaikkannya BI Rate. Tetapi, langkah ini bisa juga berdampak negatif terhadap bursa saham. Yield surat utang, baik di pasar valas maupun pasar obligasi pasti naik. Selain itu, tingkat bunga kredit juga ikut naik sehingga bisa mengganggu bisnis sektor riil. Terutama emiten dan perusahaan yang sensitif terhadap pergerakan bunga, seperti perbankan, properti dan otomotif. Inflasi semakin dikhawatirkan ketika Pemerintah memotong subsidi BBM yang dampak negatifnya terhadap inflasi tetap besar. Pengalaman di 2005, ketika harga BBM naik hingga 2x. Waktu itu, inflasi naik dan tingkat suku bunga pun melonjak sehingga pasar saham pun banyak ditinggalkan investor. Setidaknya penelitian ini bisa dijadikan pelajaran dalam menyikapi kondisi saat ini.

Bursa saham Eropa pada perdagangan kemarin naik dipicu peningkatan sentimen terhadap pemulihan ekonomi global setelah Presiden AS Barack Obama mengusulkan untuk memotong tarif pajak penghasilan badan. Dalam laporan Reuters, Pan-Eropa FTSEurofirst 300 indeks naik 0,3% ke level 1.147,41 setelah jatuh 0,6% sehari sebelumnya akibat kontraksi pertumbuhan Inggris yang memukul kepercayaan investor. Pidato Presiden AS telah mengurangi kemungkinan resesi double dip , sehingga itu adalah hal yang positif bagi pasar. Presiden AS dalam pidato tahunan di Kongres (State of the Union) menyarankan memotong tarif pajak penghasilan badan dan memo kesenjangan yang mendukung industri tertentu.

Indeks S&P 500 ditutup di level tertinggi selama 29 bulan terakhir pada perdagangan saham Rabu (26/1). Kenaikan indeks S&P 500 didukung dari kenaikan saham sektor teknologi dan komoditi. Pelaku pasar pun mengacuhkan pernyataan The Fed. Bursa saham memiliki reaksi kecil terhadap The Fed yang menyatakan tingkat pengangguran tinggi akan diatasi. Pembelian obligasi US$600 miliar pun menjadi salah satu program yang membantu saham bergerak rally dalam beberapa bulan terakhir. Kinerja keuangan kuat membantu penguatan indeks saham.

Pada perdagangan Kamis (27/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.376-3.424 dan resistance 3.511-3.550. Akhirnya IHSG membentuk pola spinning tops atau tepatnya homing pigeon setelah tren penurunan yang umumnya mengindikasikan adanya reversal. Bila pasar mendukung maka IHSG bisa melanjutkan penguatan. Posisi IHSG tertahan untuk jatuh dan menemukan momentum kenaikan. MACD terlihat masih melemah namun, dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menembus area oversold dan terlihat mulai reversal meski belum signifkan. IHSG masih dimungkinkan untuk melanjutkan penguatan meski masih diliputi kecemasan akan makroekonomi. Investor masih bisa memanfaatkan momen ini untuk trading buy terhadap saham-saham pilihan yang masih berpotensi untuk melanjutkan penguatan.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads