Indosurya Securities: Pasar Minim Sentimen Positif

Indosurya Securities: Pasar Minim Sentimen Positif

- detikFinance
Kamis, 10 Feb 2011 08:05 WIB
Jakarta - IHSG masih melemah dengan penurunan sebanyak 42,46 poin (1,23%) di level 3.417,47. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,26 triliun unit saham dengan nilai total Rp 4,43 triliun. Sebanyak 51 saham naik, 183 saham turun, dan 66 saham stagnan. LQ-45 turun 1,70% ke 599,64 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,88% ke 484,75.

Indeks sektoral saham mayoritas melemah dipimpin oleh indeks industri dasar yang turun 2,07% di level 345,08; indeks perkebunan turun 1,79% ke level 2.015,35; indeks keuangan turun 1,75% ke level 424,39; indeks manufaktur turun 1,41% ke level 739,40; indeks properti turun 1,35% ke level 175,74; indeks pertambangan turun 1,23% ke level 3.083,12; indeks aneka industri turun 1,18% ke level 860,28; indeks konsumer turun 1,12% ke level 995,97; indeks perdagangan turun 0,85% ke level 479,20; dan indeks infrastruktur turun 0,10% ke level 778,25. Indeks MBX dan DBX melemah.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 444,03 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,67 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,11 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Mayora Indah (MYOR) naik Rp 200 ke Rp 11.250, Nipress (NIPS) naik Rp 175 ke Rp 3.875, Bank Pan Indonesia (PNBN) naik 160 ke level 1.270, XL Axiata (EXCL) naik 100 ke level 5.300, Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 100 ke Rp 7.800, FKS Multi Agro (FISH) naik Rp 100 ke Rp 1.540, Int'l Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 100 ke Rp 5.100, Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik Rp 75 ke Rp 3.800, dan Bank Nusantara Parahyangan (BBNP) naik Rp 70 ke Rp 1.300.

IHSG kembali didera aksi jual oleh para investor sehingga mengakibatkan terjatuh ke zona negatif. Mayoritas investor selain bertujuan melakukan profit taking juga bertujuan masuk ke pasar surat utang, terutama surat utang Pemerintah yang dinilai rendah risikonya. Efek kenaikan BI Rate baru terasa sekarang. Wajar saja bila investor berpindah ke pasar obligasi. Dengan naiknya suku bunga acuan maka otomatis meningkatkan yield yang diminta. Oleh karena itu, investor lebih tertarik membenamkan dananya di pasar obligasi untuk saat ini sekaligus mencari momen yang tepat untuk kembali masuk ke bursa saham di saat harga-harga saham telah terdiskon lagi.

Apalagi investor memanfaatkan momen kenaikkan suku bunga China sebesar 25 bps yang membuat persepsi investor bahwa inflasi masih akan tinggi dan BI kemungkinan akan kembali ikut menaikkan BI Rate nya.Β  Sementara nilai tukar tengah Rupiah/US$ berdasarkan transaksi BI tercatat tidak berubah dari posisi sebelumnya di Rp 8.917/US$.

Bursa saham Asia Pasifik mayoritas bergerak melemah kecuali Australia, New Zealand, dan Australia. Bursa saham Hong Kong, China, dan Taiwan serentak melemah atas reaksi spontan terhadap kenaikan suku bunga. China telah menaikkan suku bunga pinjaman dan deposito untuk ke-3 kalinya sejak pertengahan Oktober lalu. Setelah China dan Indonesia, pasar memprediksi, Bank of Korea kemungkinan juga akan mengikuti naikan suku bunganya. Di lain tempat, bursa saham Jepang melemah setelah Moody's memperingatkan akan memangkas peringkat utang Jepang karena tidak maksimalnya hasil reformasi fiskal. Sebelumnya S&P pada bulan lalu telah men-downgrade peringkat Jepang.

Selain karena masalah internal, bursa saham Asia Pasifik juga terpengaruh oleh kenaikan harga minyak mentah dimana kembali menembus US$100/barel lagi karena kekhawatiran baru terhadap krisis Mesir dan menurunnya stok cadangan minyak mentah AS. Investor melihat kondisi tensi geopolitik di Mesir semakin meningkat sehingga dapat mempengaruhi pasokan minyak dunia melalui Terusan Suez. Sebelumnya American Petroleum Institute (API) dalam laporannya mengisyaratkan persediaan minyak mentah As turun. API memprediksi persediaan minyak AS turun 558.000 per 5 Februari 2011.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Portugal, Luxemburg, Denmark, dan Finlandia yang dipicu oleh kenaikan suku bunga di kawasan Asia dan mulai masuknya pasar ke fase overbought . Sebenarnya, kenaikan suku bunga China hanya berpengaruh sedikit dan pasar hanya konsolidasi setelah naik cukup kuat. Secara teknikal menunjukan kondisi overbought namun data ekonomi dan pendapatan masih tetap positif sehingga masih bisa mengangkat indeks. Apalagi adanya berita Bursa Saham London sedang dalam
pembicaraan lanjutan untuk mengambil alih Bursa Efek Toronto untuk menjadi tempat utama dunia untuk perdagangan pertambangan dan perdagangan saham energi yang diharapkan menjadi sentimen positif.

Sementara itu, Bursa AS bergerak mixed dengan mayoritas melemah yang dipicu aksi profit taking . Padahal laporan kinerja emiten yang masih dikeluarkan menunjukkan hasil yang bagus. Pernyataan The Fed mengenai pertumbuhan moderat ketenagakerjaan dan inflasi ditanggapi datar. Saham energi dan material mengalami tekanan seiring dengan pelemahan saham-saham sektor tersebut di bursa saham emerging market pasca kenaikan suku bunga China.

Pada perdagangan Kamis (10/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.346-3.382 dan resistance 3.456-3.493. Setelah IHSG terbentuk candle pola three white soldier , IHSG kembali melemah dan membentuk pola three black crows , sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Pola ini mengindikasikan masih berlanjutnya penurunan. Apalagi, belum adanya sentimen positif yang signifikan bisa menaikkan IHSG. MACD telah membentuk death cross . RSI, William's %R, dan Stochastic gagal mendekati area overbought . Pasar minim sentimen positif. Kenaikan suku bunga di Cina dan rencana kenaikan suku bunga KorSel ditambah downgrade utang Jepang semakin memperparah penurunan. Tetapi, investor bisa cermati beberapa saham pilihan yang telah merilis laporan keuangan agar bisa dijadikan sentimen positif. Hal ini disebabkan secara fundamental tidak ada alasan bagi pasar untuk turun.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads